Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Ilustrasi - Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Beberapa bulan terakhir, karena ditulari oleh teman komunitas di Jogja, saya jadi punya kebiasaan: tiap turun dari kereta di Stasiun Lempuyangan, Jogja, saya akan langsung jujuk angkringan, alih-alih lekas memesan ojek online (ojol) untuk ke kos sebagaimana yang saya lakukan selama ini. 

Awalnya, kebiasaan jujuk di angkringan Lempuyangan itu hanya sekadar untuk ngaso sejenak. Meregangkan badan usai perjalanan 4 jam dari Jombang (atau berjam-jam dari arah lain). Namun, semakin ke sini, momen duduk di angkringan justru menjadi semacam ritual untuk meleram kegelisahan batin.

Satu hal yang amat menggelisahkan batin saya tiap baru kembali ke perantauan (untuk saat ini ya Jogja): sudah kangen saja dengan keluarga. Baru turun dari kereta, sudah berhitung saja, kapan saya bisa lekas pulang lagi: untuk bermain dengan anak yang sedang lucu-lucunya, jalan-jalan dengan istri berdua, dan bercengkrama dengan orang tua di teras rumah kami.​

Setelah akhirnya menjadi kebiasaan, saya akhirnya menemui: ternyata banyak orang melakukan hal serupa. Duduk di angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja, menjadi ruang jeda sebelum kembali menjalani hiruk-pikuk di hari-hari berat kedepan. 

Di ambang putus apa, tapi tidak tahu harus berbuat apa

Sekembali dari Jombang usai libur Iduladha Mei 2026 lalu, saat mampir di sebuah angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja, pada pukul setengah 8 malam, seorang bapak-bapak tukang ojek pengkolan 50-an tahun tengah duduk di sisi angkringan. 

Saya duduk persis di sebelahnya sembari menenggak es teh yang baru saya pesan. Bapak tukang ojek itu lantas menanyakan: ke mana tujuan saya setelah ini? Barangkali saya mau menggunakan jasanya. 

Sayangnya memang ia tidak mengambil rute jauh hingga Jalan Kaliurang atas. Maka, setelah pertanyaan soal tujuan itu, obrolan kami pun mengalir begitu saja. 

“Susah, Mas, makin susah,” keluh si tukang ojek disertai hela napas berat bercerita soal susutnya penumpang dari tahun ke tahun. “Orang sudah beranggapan kalau kita-kita ini (ojek pengkolan) nuthuk rega (markup harga).”

Saat banyak tukang ojek pengkolan lain memilih menanti di pintu kedatangan, bukan tanpa alasan kenapa bapak-bapak ojek itu memilih menanti di angkringan. Tidak jauh dari pintu keberangkatan. 

Harapannya lebih mudah mendapat penumpang dengan model pendekatan ke penumpang-penumpang yang rehat di angkringan—sebagaimana yang ia lakukan ke saya. Malam itu, saya perhatikan, beberapa kali ia juga beranjak dari duduknya, menghampiri orang-orang yang tampak baru tiba, menawarkan jasa. 

Ternyata ia selalu bisa menebak: 90% pasti berujung penolakan. Artinya sudah di ambang putus asa. Ia menawarkan jasanya pun dengan putus asa. Tapi ia tidak tahu harus berbuat apa. Hidup seperti itulah yang kini sedang ia hadapi: semakin tidak pasti, sementara kebutuhan tidak pernah berhenti—bahkan semakin tidak terpenuhi. 

Duduk di angkringan Lempuyangan, Jogja: meleram pertanyaan “merantau sampai kapan?”

Kegelisahan-kegelisahan hidup, di kemudian waktu, ternyata banyak saya jumpai tiap kali jujuk di angkringan di sekitar Stasiun Lempuyangan, Jogja. 

Misalnya pada Minggu (21/6/2026) malam saat saya duduk berjejer dengan seorang pemuda menjelang 27-an tahun di salah satu angkringan Lempuyangan. Ia baru tiba dari Cirebon. Kosnya di daerah Kotagede, Kota Jogja. 

“Aku nggak pernah makan di kereta. Paling ganjal perut pakai roti yang kubawa dari rumah. Turun stasiun, makan dulu di angkringan, biasanya memang begitu,” ujar pemuda bernama Buana itu yang bekerja di sektor swasta. 

Buana mengaku, setiap kembali ke perantauan (Jogja), selalu ada perasaan hampa. Awalnya Buana mengira perasaan tersebut akan sirna seiring semakin terbiasa merantau. Karena ia memang sudah merantau ke Jogja sejak masa kuliah hingga sekarang bekerja di Jogja. 

Nyatanya tidak begitu. Bahkan sejak kereta meninggalkan Cirebon menuju Jogja, perasaan hampa itu sudah menyerang. “Aku selalu tanya ke diri sendiri, mau sampai kapan begini? Mau sampai kapan merantau? Masalahnya mau pulang nggak ada kerjaan, lama merantau di Jogja juga begini-begini aja.” Tuturnya. 

Momen duduk di angkringan sebelum kembali ke kosan menjadi momen untuk mendudukkan kegelisahan-kegelisahan tersebut. Ia harus lekas berdamai dengan kegelisahan batinnya soal perantauan. 

Dengan duduk di angkringan, berbincang dengan orang-orang random, Buana selalu bisa menemukan pengayem-ayem: bahwa Buana tidak sendiri. Di tengah hiruk-pikuk Stasiun Lempuyangan, banyak di antaranya adalah para pejuang rupiah yang harus rela jauh dari rumah. 

Ada orang yang harus berjauhan dengan orang tuanya. Berjarak dengan anak-istrinya. Situasi yang sebenarnya tidak diinginkan, tapi hidup memaksa demikian. 

Duduk di angkringan Lempuyangan, Jogja: berdamai dengan kegagalan dan beban finansial

Mundur lagi ke belakang, pada pertengahan Mei 2026, saat hendak perjalanan dini hari dari Jogja ke Jakarta, saya bertemu dengan laki-laki 30-an tahun yang sama-sama menanti jam keberangkatan dengan minum teh hangat di angkringan di depan Stasiun Lempuyangan. 

Ia tampak akrab sekali dengan si penjual. Katanya memang sudah langganan. 

Laki-laki itu mengaku kerja di Jakarta. Keluarganya ia tinggal di Jogja. Tiap hendak kembali ke Jakarta, kegelisahan yang mengganggu batinnya adalah perasaan gagal, baik sebagai anak, suami, maupun bapak bagi dua anaknya. 

Semakin ke sini, beban finansial makin besar dan terasa makin berat. Itu membuatnya merasa agak keteteran untuk memberi kehidupan layak untuk keluarganya. 

Wis direwangi tahunan nang Jakarta, Mas (Sudah diusahakan bertahun-tahun di Jakarta, Mas). Capek. Hidup kok makin berat,” ujarnya waktu itu. 

Sebelum naik ke kereta, duduk di angkringan lantas menjadi momen laki-laki itu untuk berdamai dengan situasi. Selain menggerutui nasib, pilihannya hanya tersisa menjalaninya. Hanya itu. Mau apa lagi? 

Toh, katanya, keluarganya selalu berdiri di belakangnya. Itu memberinya energi untuk kembali menatap perantauan. 

Sumpek tanpa alasan

Begitulah gambaran kegelisahan yang ditumpahkan orang di angkringan Lempuyangan. Menatap realitas hidup memang butuh energi, sesederhana dengan es teh, gorengan, atau nasi kucing khas angkringan. 

Saya pun sama halnya. Tidak hanya persoalan kangen, saya biasanya meleram kekalutan juga di angkringan, dengan cara berbincang dengan orang-orang yang tidak saya kenal. 

Perasaan sumpek tanpa alasan sering tiba-tiba menyerang, terutama ketika saya merasa sangat kelelahan. Sumpek saja. Saya tidak tahu persis apa pemicunya. 

Namun, obrolan di angkringan Jogja, dengan orang-orang yang bernasib serupa pada akhirnya sedikit melegakan. Kadang memantik rasa syukur, seringkali juga memberi saya banyak suntikan energi positif dari cara pandang para petarung kehidupan

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jembatan Lempuyangan Saksi Orang-orang yang Kerja Pagi sampai Pagi untuk Hidup di Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version