Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

‘Kami yang Dicap Malas dan Apatis juga Bisa Resah sama Pemerintah’ – Wibu Bergerak di Aksi Jogja Memanggil

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 Februari 2025
A A
wibu, jogja memanggil.MOJOK.CO

‘Kami yang Dicap Malas dan Apatis juga Bisa Resah sama Pemerintah’ - Wibu Bergerak di Aksi Jogja Memanggil (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Wibu, kelompok masyarakat yang dianggap apatis dan apolitis, turun ke jalan untuk mengikuti aksi Jogja Memanggil. Mereka mengaku juga bisa resah dan marah dengan kebijakan pemerintah.

***

Iklan

Rakyat Indonesia semakin resah dengan kebijakan pemerintah Prabowo-Gibran yang dianggap semakin ngawur. Sejak Senin (17/2/2025), masyarakat di berbagai daerah pun turun ke jalan untuk memprotesnya.

Massa aksi tumpah ruah ke jalan untuk menyuarakan aspirasi dan kekesalan mereka. Mereka, terdiri dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa, buruh, korban penggusuran, hingga tak terkecuali para Wibu.

Wibu sendiri secara definitif merupakan subkultur individu non-Jepang tapi mengagumi hampir setiap hal dari budaya Jepang. Termasuk anime, manga, cosplay, hingga bahasa dan kulinernya. 

Dalam aksi Jogja Memanggil di Malioboro, Kamis (20/2/2025), salah seorang Wibu bernama Zui terlihat menaiki mobil komando. Ia lantas meraih pengeras suara dan bersiap memberikan orasi di hadapan ribuan massa aksi yang hadir.

“Shinzou wo Sasageyo!,” teriak Zui sambil mengepalkan tangan kirinya. Teriakan itu disambut dengan sorak sorai oleh massa aksi.

wibu, jogja memanggil.MOJOK.CO
Zui, seorang wibu asal Jogja, melakukan orasi di aksi Jogja Memanggil (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Kata “Shinzou Wo Sasageyo” sendiri memiliki makna “pengabdian hati”. Teriakan tadi mencerminkan pengorbanan, keberanian, dan kekuatan tekad para karakter anime Attack on Titan yang siap mempertaruhkan nyawa untuk melawan para titan, musuh mereka.

Zui juga membawa poster bergambar waifu dilengkapi tulisan menggelitik tapi juga kritis.

“Omke Gams, Omke Gams. Momro Dumwa Tomrang Gams. Kembalikan Hak Rakyat, Pembohon Gendut!,” kata tulisan dalam poster yang dibawa Zui.

Rayap aja bakal keluar rumah kalau rumahnya dihancurkan, begitu juga Wibu

Saat membuka orasinya, Zui membahas keresahannya bahwa selama ini Wibu kerap dicap sebagai kelompok yang malas, apatis, bahkan apolitis. Mereka kerap dianggap tak peduli atas situasi yang terjadi di masyarakat.

“Kami dicap nggak peduli sama keadaan sekitar, cuma diam di rumah. Tapi yang kalian harus tahu, rayap juga cuma tidur dan makan di rumah. Tapi kalau rumah mereka hancur, rayap bakal keluar semua,” kata Zui, dalam orasinya di aksi Jogja Memanggil.

Ia menjelaskan, itu yang hari ini sedang dialami para Wibu. Menurutnya, kebijakan pemerintah makin ngawur, sampai-sampai kelompok yang dianggap apatis pun harus rela turun ke jalan karena merasa resah.

Kebijakan pemerintah yang disoroti Zui antara lain wacana kenaikan PPN 12 persen yang bikin gaduh, kelangkaan gas elpiji, hingga program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang perlu dievaluasi. Zui juga menyoroti proyek IKN yang telah menghancurkan hutan di Kalimantan.

Iklan

“Baru 100 hari lebih (masa jabatan Prabowo-Gibran), tapi sudah banyak kebodohan-kebodohan yang dilakukan pemerintah,” jelasnya.

wibu, jogja memanggil.MOJOK.CO
‘Kami yang Dicap Malas dan Apatis juga Bisa Resah sama Pemerintah’ – Wibu Bergerak di Aksi Jogja Memanggil (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Kebodohan-kebodohan itulah yang bagi Zui pada akhirnya bikin masyarakat resah, termasuk Wibu seperti dirinya.

“Sebagai penutup, saya ingin mengutip lirik lagu dari sebuah idol di Jogja: ‘Jika saja saat itu aku tidak bersikap bodoh, maka pastilah semua takkan terjadi hal yang buruk. Hidup Wibu!,” tutupnya.

Pantauan Mojok di lapangan, aksi Jogja Memanggil berlangsung pada pukul 12.00 WIB. Para demonstran berkumpul di tempat khusus parkir (TKP) Abu Bakar Ali, sebelum akhirnya long march menuju depan Gedung Agung.

Di tempat tersebut, para peserta aksi kembali berorasi, termasuk Zui. Pukul 17.30 WIB, massa aksi terpantau membubarkan diri.

Turunkan Prabowo-Gibran, Bubarkan Kabinet Merah Putih!

Perwakilan peserta aksi Jogja Memanggil, Semanof, menyatakan, ada sejumlah kebijakan pemerintah yang dinilai tidak memihak kepada masyarakat. Contohnya adalah kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen serta larangan pengecer menjual gas elpiji tiga kilogram.

jogja memanggil.MOJOK.CO
Potret massa aksi Jogja Memanggil, Kamis (20/2/2025). (Mojok.co/Ahmad Effendi)

Meski dua kebijakan tersebut sudah dibatalkan, masyarakat sudah telanjur merasakan dampak negatif. 

”Kebutuhan pokok tetap naik meskipun pemerintah menyatakan PPN 12 persen hanya untuk barang mewah. Kita juga melihat kelangkaan gas elpiji 3 kg karena komunikasi publik yang buruk,” ujar Semanof saat ditemui wartawan.

Semanof menambahkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga harus dibatalkan. Sebab, program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran itu menyedot anggaran begitu besar. Akibatnya, pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran.

”Makan siang gratis merupakan janji politik yang akhirnya memangkas anggaran kementerian yang penting, seperti pendidikan dan sosial. Bagaimana bisa anggaran pendidikan sebagai bidang yang paling penting bagi kehidupan rakyat Indonesia justru dipangkas hanya untuk makan siang gratis?” tutur Semanof.

Akhir, aliansi menjelaskan bahwa pihaknya tak memiliki tuntutan khusus dalam aksi hari ini. Namun, atas berbagai kajian yang telah dibuat, aliansi menegaskan untuk melakukan perlawanan pada tiga hal. Antara lain:

1.Turunkan Prabowo-Gibran

2.Bubarkan Kabinet Merah Putih

3.Bangun Demokrasi Kerakyatan

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Aksi Jogja Memanggil: Saat Emak-Emak Sudah Turun ke Jalan, Tandanya Negara Sedang Tak Baik-baik Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: demo jogjaindonesia gelapjogja memanggilWibu
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Ayo Jaga Jogja Katanya, tapi Jaga dari Apa dan Siapa? MOJOK.CO
Esai

Spanduk Jaga Jogja Memang Manis, tapi Sebenarnya Kita Harus Menjaga Kota Ini dari Apa dan Siapa?

8 September 2025
Aliansi Jogja Memanggil menggelar aksi damai di bundaran UGM. MOJOK.CO
Kabar

Alasan Aliansi Jogja Memanggil Pilih Bundaran UGM Jadi Tempat Aksi, Bukan Malioboro

1 September 2025
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO
Catatan

Curhat Pedagang di Malioboro yang Kerap Diintimidasi Preman: Dilarang Jualan, Kursi Dibuang, sampai “Diharamkan” Bantu Demonstran

2 Mei 2025
Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menyikapi Tantangan Indonesia
Video

Prof. Al Makin: Menyelami Sejarah Peradaban Dunia untuk Menghadapi Tantangan Indonesia Gelap

23 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola Kota Jogja meski dari Lapangan Minggiran yang tidak rata MOJOK.CO

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

11 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Derita anak magang atau PKL SMK: diperlakukan sebagai pekerja penuh waktu hingga ikut lembur dan dibentak-bentak MOJOK.CO

Magang SMK Tak Dibayar tapi Jadi Tenaga Kerja Serabutan, Ikut Lembur hingga Dibentak-bentak kalau Ada Kesalahan

9 Juli 2026
Orang tua, ibu.MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.