Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Kala Orang Madura Menantang Carok Orang Papua di Jogja, Bukti Prinsip Carok Dulu dan Kini Sudah Berbeda?

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
10 Februari 2025
A A
Orang Madura di Jogja tantang carok orang Papua yang berulah di warung Madura MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang Madura di Jogja tantang carok orang Papua yang berulah di warung Madura. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nyaris saja terjadi konflik berdarah antaretnis di Jogja antara warga Madura dan warga Papua. Keluarga Madura Yogyakarta (KMY) sudah sempat mengirim surat tantangan terbuka untuk melakukan carok: duel hidup-mati, lantaran ulah orang Papua di warung Madura.

Warung Madura di Jogja terganggu ulah orang Papua

Pada Jumat (7/2/2025), Jugil Adiningrat mewakili KMY mengirim surat kepada Hendardo Novriansiroen selaku tokoh etnis Papua di Jogja.

Dalam surat bernomor 015/P/KMY/II/2025 itu, Jugil menyebut bahwa warung-warung Madura di Jogja merasa terganggu dengan ulah oknum orang Papua. Sudah puluhan kali oknum orang Papu mengambil barang di warung Madura tapi tidak mau membayar.

Bahkan, kata Jugil, sempat pula terjadi pemukulan dan perusakan di warung Madura atas kasus tidak bayarnya oknum orang Papua setiap mengambil barang dari warung.

“Dengan situasi yang meresahkan terhadap kami, sangat dibutuhkan solusi yang bergaransi dari etnis Papua di Yogyakarta, sehingga kasus ini tidak terulang kembali,” tuntut Jugil dalam surat yang Mojok dapat.

Tantangan carok terbuka

Lebih lanjut, Jugil mewakili etnis Madura di Jogja—yang merasa dirugikan—melayangkan tantangan untuk carok (duel berdarah yang identik dengan Madura) terhadap oknum orang Papua.

“Silakan sudara tentukan tempat, jam, dan tanggalnya, kami akan ikut ketentuan saudara,” ujar Jugil.

Namun, Jugil menekankan, pihaknya tidak akan gegabah atas tantangan tersebut. Pihaknya meminta kelompok etnis Papua di Jogja menunjukkan iktikad baik sebagai bentuk menjunjung tinggi semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kehormatan dan keamanan keluarga adalah prioritas

Menyusul surat tersebut, Jugil mewakili KMY mengirim rilis susulan. Dia menyebut, surat sebelumnya adalah surat pribadi yang bocor ke publik.

Jugil juga mengatakan sudah ada upaya penengahan dari aparat TNI-Polri, khususnya Danrem, Dandin, Kapolda DIY, Kapolresta DIY, dan Kapolresta Sleman. Namun:

“Kami ingin menegaskan bahwa tidak ada sedikit pun niat dari kami untuk bersikap arogan, tetapi kami tidak dapat terus-menerus menerima tindakan yang mengancam keselamatan dan usaha kami,” ujar Jugil.

“Tindak kriminal yang berulang dan dilakukan oleh pihak tertentu bukan lagi sekadar insiden, tetapi telah menjadi ancaman nyata bagi warga Madura di Yogyakarta,” imbuhnya.

Tuntutan untuk oknum Papua di Jogja

Jugil melampirkan beberapa tuntutan kepada oknum orang Papua yang dianggap mengganggu kenyamanan orang Madura, terutama pemilik warung Madura, di Jogja, antara lain:

  1. Menuntut adanya perjanjian tertulis dari perwakilan warga Papua di Yogyakarta sebagai bukti komitmen nyata untuk tidak lagi melakukan tindakan yang mengganggu keamanan dan ketertiban, khususnya terhadap warga Madura yang mencari nafkah dengan damai. Perwakilan warga Papua harus menunjukkan upaya serius untuk mengubah arogansi beberapa anggota keluarga warga Papua.
  2. Menginginkan jaminan dari aparat keamanan bahwa hukum akan ditegakkan dengan adil, serta adanya upaya serius dalam mendorong perubahan terhadap sikap mental kriminal tertentu yang masih terjadi di kalangan sebagian individu dari etnis tersebut.
  3. Menantikan inisiatif dari warga Papua sendiri untuk membuktikan bahwa mereka adalah bagian dari bangsa yang menjunjung tinggi kedamaian dan kebersamaan, bukan menjadi ancaman bagi lingkungan sekitar.

Orang Madura punya cara sendiri selesaikan masalah

“Kami percaya bahwa saudara-saudara kami dari Papua memiliki kehormatan, kecerdasan, dan etika, serta memahami bahwa tindakan segelintir individu tidak boleh mencoreng nama baik seluruh komunitas. Oleh karena itu, ini adalah saatnya bagi mereka untuk membuktikan komitmen mereka terhadap kedamaian di Yogyakarta,” tutur Jugil.

Iklan

Namun, jika ajakan dan tuntutan yang KMY layangkan diabaikan, Jugil menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam.

“Kami tetap akan menjaga ketertiban dan menghormati hukum, tetapi kami juga memiliki cara kami sendiri untuk memastikan bahwa kehormatan dan keselamatan warga Madura tetap terjaga,” tegasnya.

Demi menghindari konflik yang makin memanas, maka Jugil, sekali lagi, berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah dan aparat keamanan, dapat mengambil langkah konkret untuk memastikan bahwa tidak ada lagi intimidasi, pemalakan, atau tindakan sewenang-wenang yang dapat merusak kedamaian bersama.

Carok alami pergeseran?

Sejak dulu carok memang identik dengan Madura. Mojok pernah mendengar keluh kesah orang Madura, yang setiap merantau ke luar daerah dan menyebut berasal dari Madura, pasti carok lah hal yang pertama-tama muncul di kepala si penanya.

Alias, lama-lama, carok kini menjadi identitas yang justru agak mencoreng Madura sendiri.

Merujuk penelitian berjudul Tradisi Carok Adat Madura dalam Perspektif Kriminologi dan Alternatif Penyelesaian Perkara Menggunakan Prinsip Restorative Justice (2021) oleh Aina Aurora Mustikajati, Alif Rizqi Ramadhan, carok sudah ada di Madura pada abad 17 M.

Ada dua pendapat perihal definisi carok. Pertama, carok merupakan istilah lain untuk celurit yang digunakan untuk bertani. Kedua, carok berasal dari istilah ecaca erok-orok yang berarti dicacah.

Carok kemudian menjadi simbol duel hidup mati lantaran legenda Sakerah, seorang mandor tebu yang mati di tangan Belanda karena membela hak-hak petani Madura yang tanahnya direbut Belanda dengan cara licik.

Seiring waktu, carok lantas menjadi cara terakhir bagi orang Madura untuk menyelesaikan masalah. Biasanya untuk masalah yang serius dan menginjak-injak harga diri. Dulu ada tiga faktor utama penyebabnya: harta, tahta, wanita.

Orang yang akan melakukan carok pun, awalnya, harus memenuhi beberapa syarat, meliputi: memiliki bekal bela diri, tamping sereng (jampi-jampi atau ilmu kebal), hingga banda (modal).

Dulu, carok pun hanya berlaku di Madura. Namun, kini carok bisa terjadi karena alasan apa saja, di mana saja, dan oleh siapa saja yang berkonflik. Sehingga, ada saja yang menyebut bahwa carok saat ini sudah mengalami pergeseran esensi.

Terlepas dari itu, mengutip kata Jugil, tidak kriminal semestinya tidak terjadi. Sebagai sesama warga Indonesia, harus saling menghormati dan menjaga kenyamanan satu sama lain.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2025 oleh

Tags: etnis papua di jogjaJogjaMadurawarung madurawarung madura di jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

anak kos ketakutan pasang gas di jogja. MOJOK.CO
Catatan

Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”

2 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Kereta eksekutif murah selamatkan saya dari neraka kereta ekonomi. MOJOK.CO
Catatan

Penyesalan Kaum Mendang-mending yang Dilema Pakai Kereta Eksekutif hingga Memutuskan Tobat dari Kondisi “Neraka” Kereta Ekonomi

1 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO
Catatan

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

1 April 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

30 Maret 2026
Diledek ibu karena merantau dari Jakarta ke Jogja. MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pulang ke Jakarta setelah Sekian Lama, malah Diledek Ibu Saat Kumpul Keluarga karena Tak Bisa Sukses seperti Saudara Lainnya

29 Maret 2026
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

2 April 2026
Kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) diajar dosen absurd. Mata kuliah (matkul) apa yang diajar apa. Fokus mengharamkan dan mengkafirkan pihak lain MOJOK.CO

Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C

29 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.