Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Susahnya Jadi Mahasiswa Madura di Jogja Kena Stigma Buruk: Sudah Biasa Dianggap Arogan, Egois, dan Dicap Maling

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Mei 2024
A A
Susahnya Jadi Mahasiswa Madura di Jogja Kena Stigma Buruk: Sudah Biasa Dianggap Arogan, Egois, dan Dicap Maling.MOJOK.CO

Ilustrasi Susahnya Jadi Mahasiswa Madura di Jogja Kena Stigma Buruk: Sudah Biasa Dianggap Arogan, Egois, dan Dicap Maling (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Miftahul Gani (21) sadar betul, sebagai perantau pasti ada stigma yang menempel pada dirinya terkait daerah asalnya. Namun, ia sama sekali tak menyangka, hanya karena ia berasal dari Madura, stigma tersebut bikin dirinya banyak mendapat olok-olok. Ironisnya lagi, teman-temannya merayakan olok-olok itu atas nama guyon.

Pada awal Januari 2024 lalu, saya berjumpa dengan mahasiswa salah satu PTN Jogja tersebut dalam sebuah forum diskusi. Dalam dialog yang intens, Gani menyampaikan uneg-unegnya soal diskriminasi yang ia alami selama kuliah di Jogja.

Iklan

Terutama, diskriminasi itu terjadi hanya karena latar belakang etnisnya. Gani berasal dari Sumenep dan mengaku sebagai “Madura tulen”.

“Ada guyonan orang Madura suka nyolong besi. Kalau jualan suka licik [curang], jorok,” ujarnya kala itu dengan logat Madura yang amat kental.

Sayangnya, guyon itu tak sebatas bercandaan tongkrongan. Ia kerap mendapati olok-olok itu kerap dipakai dalam kehidupan sehari-sehari buat “mendeskreditkan” dirinya.

“Jadi, nih, semisal ada barang di sekretariat ilang, langsung pada nunjuk aku. Ya aku tahu pakai bercanda, tapi itu seolah-olah orang Madura selalu mencuri. Apalagi ngomongnya pakai logat Madura sambil tertawa-tawa,” ujarnya.

“Kalau ada rame-rame [bersitegang] dengan orang lain, aku selalu disuruh maju, katanya paling atos [paling kuat]. Kesannya orang Madura selalu suka gelut.”

Pernah sakit hati gara-gara dosen ngawur

Tak hanya teman yang “menyakitinya secara tidak sadar”, tapi dosennya bahkan juga pernah melakukannya. Gani ingat betul, dalam sebuah mata kuliah tentang konflik sosial, salah seorang kelompok di kelasnya membahas soal Konflik Sampit.

Awalnya diskusi berjalan seperti sedia kala. Mengasyikan, penuh dialektika. Sampai akhirnya, ada sebuah pembahasan yang menyebut aktor utama penyebab Konflik Sampit adalah orang-orang perantau Madura di Kalimantan.

“Aku paham betul, ada peran orang Madura di konflik tersebut. Orang Madura, beberapa oknum memang bersalah,” ujarnya. “Namun, sepanjang diskusi di kelas, seolah-olah kalau semua orang Madura sampai sekarang digambarkan seperti para pemicu konflik di Sampit. Itu gimana logikanya?,” kenangnya, kesal.

Apalagi dosen yang mengisi kelas tersebut berkali-kali menjadikannya sebagai “contoh” dari aktor dalam konflik tersebut. Memang, kesan yang dibawa oleh sang dosen punya intensi guyon. Namun, baginya tetap aja itu menyakitinya karena mempertebal stigma orang Madura yang gemar bikin masalah di perantauan.

“Kecewa banget sama itu dosen. Aku sampai pernah berkali-kali tidak ikut kelasnya karena sakit hati,” ujarnya. Namun, Gani menegaskan, hubungan mereka kembali membaik setelah sang dosen secara personal meminta maaf kepadanya.

Kok bisa, sih, orang Madura kena stigma buruk di perantauan?

Stigma negatif, sebenarnya juga menempel pada etnis-etnis lain saat mereka menjadi minoritas di suatu wilayah. Misalnya, kesan pelit bagi orang-orang Padang di Jawa, atau cap ndeso bagi perantau Jawa di Jakarta, hingga anggapan buruk bagi para mahasiswa Papua di Jogja.

Khusus orang Madura, kasusnya menjadi unik lantaran mereka memang terkenal sebagai “etnis perantau”. Sehingga, persebarannya pun ada di mana-mana, begitu juga dengan stigma negatifnya.

Iklan

Soal asal-usul stigma negatif tersebut, Rektor IAIN Madura Saiful Hadi pernah mengulas dalam bukunya yang berjudul Dialektika Madura dalam Pusaran Stigma (2023). Menurutnya, stigma buruk Madura dapat dilacak melalui dua faktor.

Pertama adalah faktor historis. Jika dikaji lebih jauh, penggambaran watak keras orang Madura dapat terjahit melalui narasi-narasi sejarah.

“Seperti di antaranya peran orang-orang Madura dalam berbagai pemberontakan, seperti Pemberontakan Trunojoyo pada abad ke-17 dan awal abad ke-18 pada masa pemerintahan Hindia-Belanda dan Mataram,” jelas Saiful Hadi.

Cap keras, suka berontak, dan susah diatur itu pun bertahan berabad-abad setelahnya. Bahkan, ketika terjadi masalah yang melibatkan orang Madura, narasi sejarah itu tetap dibawa-bawa. Apalagi dengan adanya tradisi carok yang membuat stigma keras makin tebal.

Faktor kedua yang tak kalah penting, menurut Saiful Hadi, adalah budaya pop. Penggambaran orang Madura yang terbelakang, berlogat unik, keras, sering kali dimunculkan dalam film dan dinikmati masyarakat.

“[stigma buruk] itu pada akhirnya menyebabkan kecemburuan, diskriminasi, bahkan terjadi “pembulian”, dan pada gilirannya berkembang pada konflik diri secara individu, yang menyebabkan konflik kelompok etnis.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Warung Madura di Jogja Adalah Penolong Musafir di Tengah Malam, Zalim Jika Dilarang Buka 24 Jam Demi “Menyelamatkan” Toko Ritel Modern

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 16 Mei 2024 oleh

Tags: carokJogjaMaduramahasiswa maduramahasiswa madura di jogjaorang maduraorang madura di jogjastigma orang madura
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) kerja sama dengan Australia. MOJOK.CO

Satu Dekade Jogja dengan Melbourne Symphony Orchestra: Bukti Orkestra Nggak Melulu Kaku bahkan Bisa Dinikmati Sambil Lesehan

15 Juli 2026
Mahindra Scorpio, mobil pick up mewahnya Koperasi Merah Putih MOJOK.CO

Pengalaman mengendarai dan mengomentari Mahindra Scorpio, mobil pick up Koperasi Merah Putih yang terlalu bagus di depan Pak Babinsa langsung

21 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.