Perjalanan malam dengan motor di jalan pantura Batang memang menjadi perjalanan penuh “ancaman”. Saat melintasi Alas Roban, bahkan ada yang lebih mengerikan dari cerita-cerita mistis-horor yang beredar.
Motoran Jogja-Batang atau Magelang-Batang di malam hari sebenarnya bukan perkara baru bagi saya. Bertahun-tahun melintas, saya selalu digelayuti rasa gentar karena beragam ancaman dan rintangan yang saya temui di sepanjang perjalanan.
Kabupaten Batang kurang penerangan, korban kecelakaan tak terhindarkan
Kesulitan pengendara motor dalam perjalanan malam di jalan pantura Batang adalah karena minimnya Penerangan Jalan Umum (PJU), yang membuat kondisi menjadi gelap dan samar terhadap lubang-lubang yang marak di mana-mana atau karena faktor lain.
Kondisi tersebut membuat pengendara tidak awas. Alhasil, bisa memicu kecelakaan lalu-lintas.
Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Kabupaten Batang, dari tahun 2023 sampai 2025, hampir 1500 kasus kecelakaan tercatat di jalan pantura Batang. Dan rata-rata korban kecelakaan terjadi di waktu malam hari. Dari tabrakan beruntun, adu banteng, sampai human error.
Tidak pelak jika pada tahun 2026 ini Pemerintah Kabupaten Batang telah menyusun rencana pembangunan penerangan jalan umum melalui proyek Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha Alat Penerangan Jalan Umum (KPBU APJU).
Program ini diharapkan mampu meningkatkan keamanan masyarakat, menekan angka kecelakaan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Masalahnya: banyak perempuan harus kerja shift malam
Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, menyebut kebutuhan penerangan jalan di Kabupaten Batang saat ini masih sangat tinggi. Berdasarkan data pemerintah daerah, tingkat kekurangan lampu penerangan jalan masih mencapai hampir 70%,
“Minimnya penerangan jalan memiliki dampak langsung terhadap keselamatan masyarakat. Angka kecelakaan lalu lintas di Kabupaten Batang terus mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir,” jelasnya dalam kegiatan di Aula Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (21/5/2026).
Terlebih, banyak industri di Batang menerapkan sistem kerja shift malam dengan mayoritas pekerja perempuan. Jalan yang minim penerangan dinilai berpotensi meningkatkan risiko kriminalitas serta membuat masyarakat merasa tidak aman saat beraktivitas malam hari.
“Untuk mempercepat realisasi pembangunan tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Pemkab Batang memilih menggunakan skema KPBU atau Public Private Partnership. Melalui skema tersebut, pemerintah akan memasang sebanyak 9.387 titik lampu baru yang tersebar di berbagai ruas jalan,” tegas Faiz.
Rinciannya meliputi 1.949 lampu di jalan nasional, khususnya wilayah timur Kabupaten Batang, 954 lampu di jalan provinsi, serta 6.484 lampu di jalan kabupaten. Lampu yang akan dipasang menggunakan teknologi efikasi tinggi hingga 160 lumens per watt sehingga lebih hemat energi dan optimal dalam pencahayaan.
Ketimbang setan, ada yang lebih horor nan mengerikan di Alas Roban Batang
Sepengalaman saya motoran malam hari, saya selalu ngeri tiap melintasi Alas Roban. Bukan karena cerita mistisnya yang sudah jamak beredar, bukan pula karena saya takut disesatkan atau melihat penampakan setan.
Bagi saya, kondisi jalan yang begitu gelap justu lebih mengerikan ketimbang setan. Pasalnya, kondisi jalan Alas Roban yang gelap membuat saya selalu samar dengan situasi. Ketika saya melaju di jalanan meliuk-liuk dan turunan curam, saya pernah nyaris tergelincir karena mendadak menghindari lubang.
Selain itu, saya juga harus berhadapan dengan tipikal pengendara pantura yang ugal-ugalan, yang kerap kali membuat saya nyaris terserempet bahkan adu banteng.
Truk-truk parkir sembarangan yang membahayakan
Sudah minim penerangan, jalan berlubang, dan keberadaan pengendara ugal-ugalan, masih ada ancaman lain dari truk-truk besar yang berhenti di bahu jalan.
Situasi tersebut membuat saya kerap gelagapan. Sebab, ketika tengah ngebut dengan pandangan yang samar, saya kerap harus mengambil keputusan kilat: antara ngerem mendadak atau segera mengarahkan motor ke tengah.
Dua pilihan tersebut sama-sama tidak menguntungkan. Ngerem mendadak bisa memicu kecelakaan beruntun dengan pengendara motor lain di belakang saya. Sementara berpindah jalur mendadak juga berpotensi membuat saya terlindas kendaraan-kendaraan besar.
Pada akhirnya, selain kewaspadaan, saya hanya bisa berpegang pada doa Ibu dan pertolongan Tuhan agar selamat sampai tujuan.
Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Tidar (Untidar) Magelang periode Agustus-November 2026.
Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kabupaten Batang Memang Jadi Kawasan Industri, Tapi Bertahan di Sana Tak Bisa Sejahterakan Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan