Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Industri dan Pemerintah Harus Bertanggung Jawab Atas Hujan Mikroplastik di Jakarta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 Oktober 2025
A A
BRIN: Hujan di Jakarta mengandung mikroplastik beracun. MOJOK.CO

Ilustrasi - Hujan MIkroplastik di Jakarta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hujan yang selama ini dianggap sebagai berkah ternyata membawa ancaman baru. Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan partikel mikroplastik dalam air hujan di wilayah Jakarta. Temuan ini menandai babak baru pencemaran lingkungan yang kini telah menjangkau atmosfer dan berpotensi mengancam kesehatan manusia.

Menurut hasil riset tersebut, mikroplastik yang turun bersama air hujan berasal dari berbagai sumber, seperti serat sintetis pakaian, debu kendaraan bermotor, hingga sisa pembakaran sampah plastik. Partikel berukuran sangat kecil ini melayang di udara, terbawa angin, lalu akhirnya ikut jatuh bersama hujan.

“Ancaman mikroplastik terhadap kesehatan manusia sangat besar. Dalam penelitian pada hewan, partikel ini ditemukan di beberapa organ dan berpotensi menyebabkan gangguan reproduksi,” ujar Dosen Departemen Kesehatan Lingkungan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, Annisa Utami Rauf, Jumat (24/10/2025).

Annisa menjelaskan, risiko paparan mikroplastik paling tinggi terjadi di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta dan Jogja. Aktivitas masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai menjadi faktor utama meningkatnya jumlah partikel plastik di udara dan lingkungan.

“Kesadaran untuk membatasi konsumsi plastik masih rendah. Padahal, langkah sederhana seperti mengurangi kantong plastik atau beralih ke bahan ramah lingkungan bisa menekan risiko,” jelasnya.

Meski demikian, Annisa menilai sudah mulai ada tanda positif di beberapa daerah. Munculnya inisiatif masyarakat dan bisnis untuk mengganti plastik dengan bahan biodegradable atau wadah guna ulang menjadi langkah awal yang patut didukung.

Mikroplastik sudah masuk ke tubuh manusia

Berbagai studi internasional juga memperkuat kekhawatiran ini. Sejumlah penelitian menemukan partikel mikroplastik dalam darah, organ pencernaan, bahkan paru-paru manusia. Fakta itu menunjukkan partikel plastik mampu masuk dan bertahan di dalam tubuh.

“Beberapa penelitian memang sudah menemukan mikroplastik di tubuh manusia, tapi efek spesifiknya terhadap kesehatan belum sepenuhnya jelas,” ujar Annisa.

Menurutnya, setiap individu memiliki reaksi tubuh yang berbeda terhadap paparan mikroplastik. Ada yang mampu mengeluarkannya lebih cepat, ada pula yang menahan partikel itu lebih lama. Karena itulah, langkah pencegahan menjadi satu-satunya pilihan yang masuk akal saat ini.

“Kita belum tahu pasti dampaknya, tapi yang jelas, mencegah jauh lebih baik daripada menunggu hasil penelitian lengkap,” tambahnya.

Sumber paparan sehari-hari

Dalam kehidupan sehari-hari, sumber utama paparan mikroplastik berasal dari kemasan makanan dan minuman. Air minum dalam botol sekali pakai, wadah makanan panas, hingga lapisan plastik pada produk instan berpotensi menjadi media perpindahan partikel plastik ke tubuh manusia.

“Paparan paling tinggi biasanya dari makanan dan minuman yang dikemas plastik. Gaya hidup praktis di kota membuat kita sering tidak sadar bahwa itu berbahaya,” ujar Annisa.

Ia menyarankan masyarakat mulai beralih ke kebiasaan yang lebih sehat, seperti membawa tumbler, menghindari kantong plastik, dan memilih wadah non-plastik untuk makanan.

“Upaya kecil seperti membawa botol minum sendiri bisa memberi dampak besar dalam menekan akumulasi mikroplastik di lingkungan,” katanya.

Iklan

Tanggung jawab industri dan pemerintah

Annisa juga menyoroti peran industri dalam pengelolaan limbah plastik. Menurutnya, produsen besar seharusnya memiliki program pengembalian kemasan (take-back program) dan sistem daur ulang yang berkelanjutan.

“Produsen yang menghasilkan plastik semestinya punya tanggung jawab untuk mengambil kembali limbah produknya. Pemerintah dan industri harus bekerja sama agar sampah plastik tidak terus menumpuk di tempat pembuangan akhir,” tegasnya.

Konsep reduce dan reuse dinilai masih menjadi strategi paling efektif untuk menekan laju pencemaran plastik. Beberapa negara bahkan telah memberikan insentif bagi masyarakat yang mengembalikan produk lama atau mendaur ulang kemasan.

“Model seperti itu bisa diterapkan di Indonesia, tentu dengan menyesuaikan kondisi sosial dan budaya masyarakat kita,” ujarnya.

Fenomena mikroplastik di udara bukan hanya terjadi di Indonesia. Penelitian di Jepang menunjukkan partikel mikroplastik juga ditemukan di awan, menandakan polusi ini telah menyebar ke seluruh lapisan atmosfer.

“Mikroplastik kini ditemukan di udara, awan, hingga air hujan. Artinya, siklus plastik sudah lengkap dan bersifat global,” ujar Annisa mengingatkan.

Jika sumber pencemaran tidak segera dikendalikan, katanya, mikroplastik berpotensi menyebar lebih luas dan memberi dampak yang lebih serius pada ekosistem maupun kesehatan manusia.

Selain itu, Annisa juga menekankan pentingnya membangun kesadaran kolektif dari tingkat individu hingga pembuat kebijakan.

Pemerintah daerah, misalnya, dapat mengambil langkah nyata, misalnya dengan membatasi penjualan air minum dalam kemasan plastik di sekolah atau fasilitas publik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Warga Jakarta Harus Berbenah, Menjaga Langit Ibu Kota agar Bebas dari Air Hujan yang Mengandung “Partikel Beracun” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Oktober 2025 oleh

Tags: hujan mikroplastikjakartamikroplastikpakar ugmUGM
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co
Pojokan

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO
Sehari-hari

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO
Cuan

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukan Cuma Gaji Kecil, Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja Juga Mesti Siap dengan Budaya Pekewuh yang Memperlambat Kerjaan Mojok.co

Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan

22 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Suasana Kampung Ramadan Masjid Mlinjon, Klaten. MOJOK.CO

“Jajanan Murah” yang Tak Pernah Surut Pembeli di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten

17 Maret 2026
3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat MOJOK.CO

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat

23 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026

Video Terbaru

Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026
Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

Agus Mulyadi dan Segala Obrolan Receh yang Kebablasan Jadi Reflektif

20 Maret 2026
Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.