Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
24 Februari 2024
A A
Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island.mojok.co

Ilustrasi Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island (Dok. Bintang Cahaya Sinema)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Film Woman From Rote Island menggambarkan bagaimana kekerasan seksual masih menjadi momok mengerikan bagi para perempuan di pelosok negeri. Namun, parade trauma korban dalam film ini hanyalah bagian kecil dari yang sesungguhnya terjadi di Rote sana.

Selesai menonton film ini, bulu kuduk saya masih merinding. Padahal, tak ada satupun dedemit saya jumpai sepanjang film. Perasaan getir juga masih menyelimuti, meski nyatanya ini adalah pengalaman kedua saya menonton film pemenang Piala Citra 2023 itu.

Saat beranjak keluar studio, mencoba melepaskan rasa yang campur aduk ini, saya mendapati dua orang perempuan terlihat tengah menangis sesenggukan. Agak lama saya memperhatikan, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk menghampiri mereka.

Juwita (28), salah satu dari dua perempuan yang sesenggukan, baru saja menyaksikan pemutaran film Woman From Rote Island. Ternyata, sepanjang film berdurasi 1 jam 48 menit tadi, kami berada di studio yang sama.

Bagi Juwita, ada alasan kuat mengapa ia begitu terbawa perasaan hingga menangis. Woman From Rote Island ternyata sangat relate dengan kehidupannya. Sebab, salah satu anggota keluarganya pernah mengalami apa yang menjadi premis utama film ini: kekerasan seksual.

“Kakakku pernah mengalaminya, 10 tahun lalu. Tapi traumanya masih dia rasakan sampai sekarang,” kata Juwita, menceritakan kisahnya kepada Mojok di salah satu sudut ruangan Empire XXI, Kota Jogja, Jumat (23/2/2024).

“Menyaksikan film tadi bikin aku jadi sadar lagi bagaimana beratnya kakakku melewati kehidupannya 10 tahun terakhir ini.”

Sementara Denisa (30), perempuan yang datang menonton bersama Juwita, mengaku tak bisa menahan air mata sepanjang nonton. Padahal, ini adalah kali kedua ia menyaksikan film karya Jeremias Nyangoen ini. Sebelumnya, Denisa menonton Woman From Rote Island pada pemutarannya di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2023, November lalu.

“Udah dua kali nonton dan rasanya masih sama,” kata Denisa. “Enggak bisa membayangkan betapa beratnya jadi Martha [tokoh dalam film] dan perempuan lain di luar sana yang menjadi korban kekerasan seksual.”

Ada banyak tangis-tangis lain

Film Woman From Rote Island, yang mulai tayang di bioskop sejak 22 Februari 2024, berpusat pada kisah Orpa (Merlinda Dessy Adoe). Ia merupakan ibu tunggal yang harus mengalami berbagai derita dalam hidupnya setelah kepergian sang suami.

Martha (Irma Novita Rihi), putri tertua Orpa, menjadi korban kekerasan seksual saat menjadi pekerja migran di luar negeri. Setelah kembali ke kampung halaman, Martha hidup dalam belenggu trauma. Ia sering melamun. Martha juga kerap berteriak histeris saat teringat kejadian tragis yang menimpanya itu.

Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island.mojok.co
Orpa (diperankan Merlinda Dessy Adoe), hidup dalam berbagai penderitaan selepas kepergian sang suami (Dok. Bintang Cahaya Sinema)

Belum hilang trauma itu dari ingatannya, Martha kembali mengalami kekerasan seksual. Sayangnya, meski menjadi korban, ia justru harus membayar ganti rugi kepada orang yang melindung pelaku.

Sementara adik Martha, yakni Bertha (Bani Sallum Ratu), tiba-tiba menghilang. Naasnya, saat ditemukan, dia sudah dalam keadaan meninggal. Kondisi jasadnya juga penuh dengan luka, yang mengindikasikan bahwa Bertha adalah korban penculikan dan pembunuhan. 

Sebagai orang yang dua kali menonton Woman From Rote Island, saya akhirnya paham mengapa Juwita dan Denisa amat emosional. Rasa haru, sedih, geram, sesenggungan hingga tangis, sulit kita lepaskan seusai menonton film ini.

Iklan

Hal tersebut juga diakui Novi Hanabi, program manager Jakarta Film Week 2023, yang juga tergabung dalam produksi Woman From Rote Island. Selama pemutaran di  Kupang, misalnya, ia mengaku banyak menyaksikan mama-mama dan opa-opa menyeka air mata seusai menonton.

“Mereka mendatangi saya, memeluk, sambil menangis,” kata Novi saat berkunjung ke kantor Mojok, Jumat (23/2/2024). “Mereka bilang, ‘terima kasih sudah membuat film yang begitu indah’, yang mewakili perasaan mereka selama ini.”

Woman From Rote Island hanya sekeping dari segudang tragedi

Meski secara terbuka menggambarkan fenomena kekerasan seksual para perempuan di Rote, kata Novi, sebenarnya ini hanya bagian kecil saja dari yang sesungguhnya terjadi. “Woman From Rote Island ini hanya versi mild dari apa yang sebenarnya terjadi di sana,” ujarnya.

Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island.mojok.co
Gambaran fenomena Kekerasan seksual dalam film ini hanya secuil saja dari yang sebenarnya terjadi (Dok. Bintang Cahaya Sinema)

Cukup lama tim produksi melakukan riset untuk film ini. Dan, kenyataan yang mereka jumpai, keadaan perempuan-perempuan di pelosok negeri, seperti Pulau Rote, memang jauh lebih memprihatinkan.

Ada banyak kasus kekerasan seksual terjadi di sana. Yang sialnya, sebagaimana tergambar dalam film, para korban dipaksa menerima traumanya karena tak ada penyelesaian dari pihak berwenang.

“Jadi, penggambaran dari film ini memang berdasarkan kisah sesungguhnya para perempuan di Rote, meski ini versi ringan saja. Karena gambaran sesungguhnya amat mengerikan,” sambung Novi.

Hal serupa juga diakui Van Jhoov, pemeran Damar–mantan kekasih Martha–dalam Woman From Rote Island. Kata lelaki asal Kupang ini, perempuan-perempuan di daerahnya memang sangat rentan mengalami kekerasan seksual.

Bahkan, lapisan fenomena ini sampai ke level yang lebih mengerikan. Seperti perdagangan manusia, misalnya, yang juga terpotret dalam film.

“Bagi masyarakat perkotaan di sini, mungkin itu hal baru. Tapi bagi kami, itu itu menjadi fenomena yang sangat mudah kami jumpai di sana [Rote],” kata Van Jhoov kepada Mojok.

Film ini adalah pengingat sekaligus penggerak

Lebih lanjut, menurut Van Jhoov, film ini pun menjadi penting karena memotret berbagai persoalan yang selama ini jarang mencuat di permukaan. “Ada banyak Martha-Martha lain di sana,” kata lelaki yang akrab disapa VJ ini. “Film ini adalah pengingat bagaimana selama ini perempuan-perempuan di pelosok sana hidup dalam ancaman kekerasan seksual,” lanjutnya.

Memotret Duka Korban Kekerasan Seksual dalam Woman From Rote Island.mojok.co
Kampanye soal anti-kekerasan seksual harus menjadi isu bersama (Dok. Bintang Cahaya Sinema)

Sementara Novi menyebut, melalui film ini penonton dapat berefleksi bahwa tak pernah mudah untuk hidup sebagai perempuan di negeri ini. Kekerasan seksual dan diskriminasi gender, terjadi setiap saat. Ia juga tak pandang bulu, menimpa banyak perempuan di semua lapisan dan level masyarakat.

“Bedanya, mungkin kita yang masyarakat perkotaan lebih punya privilese untuk menyuarakan. Tapi bagi perempuan-perempuan seperti di Woman From Rote Island, tak ada pilihan selain menanggung trauma yang berkepanjangan,” jelasnya.

Film ini, lanjut Novi, juga menjadi penting karena membawa pesan yang jelas. Bahwa kekerasan seksual hanya bisa masyarakat lawan jika bergerak bersama.

“Belajar dari Mama Matha di film, perjuangan melawan kekerasan seksual tak bisa sendirian. Kita harus bersama-sama melawannya,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Film ‘Siksa Neraka’ Sekadar Sinetron ‘Azab’ Indosiar Versi Bioskop yang Cocok Dinikmati Saat Lagi Malas Mikir

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2024 oleh

Tags: Filmkekerasan seksualpiala citrapilihan redaksireview filmwoman from rote island
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO
Ragam

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO
Ragam

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
alfamart 24 jam.MOJOK.CO
Ragam

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Mohammad Zaki Ubaidillah, dari Sampang, Madura dan langkah wujudkan mimpi bulu tangkis di Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan Jakarta MOJOK.CO

Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan

19 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.