Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

‘Kami Sedih dan Waswas, Mereka seperti Tinggal di Kota Mati’ – Kata Keluarga Korban Bencana di Sumatera

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
1 Desember 2025
A A
Menanti kabar dari keluarga, korban bencana banjir dan longsor di Sumatera. MOJOK.CO

Hari-hari sedih dan waswas melihat kabar di media sosial. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa orang masih menanti kabar keluarganya di tempat yang terisolasi akibat bencana banjir dan longsor yang terjadi di pulau Sumatra yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Sementara itu, pemerintah pusat dinilai tak sigap dalam mengirim bantuan.

Menanti kabar dari keluarga di Sumatra

Sejak Senin (24/11/2025) yang lalu, saat bencana banjir dan longsor terjadi di pulau Sumatra, Siddiq belum bisa menghubungi seluruh keluarganya yang ada di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah. Satu tahun yang lalu, ia pergi merantau ke Pekanbaru untuk bekerja sehingga harus meninggalkan kedua orang tua, kakak, adik, nenek hingga sepupunya di sana.

“Waktu dengar berita bencana itu di media sosial, saya langsung hubungi keluarga (menelepon) tapi tidak ada yang aktif,” kata Siddiq kepada Mojok, Minggu (30/11/2025).

Siddiq sendiri terakhir pulang ke kampung halamannya pada Agustus 2025. Kini, ia hanya bisa memantau kondisi bencana dari media sosial, sementara teman-temannya yang lain beruntung sudah bisa menghubungi keluarga mereka. 

Namun jujur saja, membaca berita di media sosial membuatnya makin khawatir. Apalagi, desa tempat tinggal keluarganya (Kabupaten Bener Meriah) tidak masuk data bencana di pusat, padahal kerusakannya cukup berat. Selain, Kabupaten Bener Meriah, beberapa desa di Aceh Tengah dan Gayo Lues juga tidak masuk data tersebut.

“Dari informasi di media sosial yang saya himpun serta informasi dari teman-teman saya, di sana sudah kehabisan beras dan BBM, bantuan juga sudah 5 hari tidak masuk,” kata Siddiq.

Sibolga bak kota mati

Selain Aceh, bencana banjir dan longsor juga menerjang Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Tak seperti Siddiq, Gilbert Simanjuntak beruntung masih bisa mendapatkan informasi dari sahabatnya di Sibolga, Sumatera Utara. 

Anggota DPRD DKI Jakarta itu mengaku, sahabatnya, Puasa Sihombing masih selamat sembari menunggu bantuan dari pemerintah. Menurut cerita sahabatnya itu, Sibolga, Sumatera Utara sudah seperti kota mati. Mereka hidup tanpa lampu, air bersih, dan makanan. 

“Saat ini lebih dari 150 orang menumpang charge HP di kantor PLN untuk menghubungi keluarga,” kata Gilbert melalui pesan WhatsApp, Minggu (30/11/2025) malam.

Anak kecil dan ibu hamil, kata Puasa Sihombing, hanya dapat makanan sedikit selama beberapa hari ini. Lebih dari itu, tenda darurat, air bersih, makanan, serta genset juga belum banyak tersalurkan. 

Gilbert mengklaim belum ada koordinasi dari petugas lapangan karena walikota tidak berada di tempat selama beberapa hari. Bahkan tanah longsor di tengah kota pun belum tersentuh.

“Pemerintah pusat kurang tanggap, jangan berharap dengan pemerintah daerah,” kata Gilbert.

“Unsur kemanusiaan seharusnya lebih besar dari ego pribadi. Bantuan bisa diturunkan dengan helikopter untuk sementara,” lanjutnya.

Bantuan yang terlambat

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto berujar hingga Sabtu (29/11/2025) sore, jalur transportasi darat masih banyak yang tertutup. Seperti jalan akses nasional dari Sumatera Utara yang tersambung dengan Aceh Tamiang. 

Iklan

“Untuk wilayah Aceh Tengah juga belum bisa diakses via darat, dikarenakan jalan nasional Bireuen-Takengon ini putus total dan Jembatan Teupin Mane di Bireuen putus,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers, Sabtu (29/11/2025).

Sulitnya akses jalan di Aceh memengaruhi proses bantuan logistik ke warga jadi ikut terhambat. Tak pelak, kejadian penjarahan terjadi di beberapa titik. Dari video viral yang beredar di media sosial, warga korban banjir dan longsor masuk ke Gudang Bulog Sarudik, Sumatera Utara untuk membawa karung-karung beras dan minyak goreng.

Tak hanya Gudang Bulog Sarudik Sibolga, penjarahan juga terjadi di Tapanuli Tengah. Masyarakat yang menjadi korban dan longsor di Tapteng menjarah sejumlah minimarket. Penjarahan terjadi lantaran logistik bantuan belum diterima oleh masyarakat yang menjadi korban bencana di Tapanuli Tengah.

Template bantuan di IG. MOJOK.CO
Template dari story Instagram @sdq.ardh yang dibuat Siddiq untuk membantu warga terdampak di Sumatra. (Sumber: tangkapan layar IG)

Mendengar informasi tersebut, Siddiq tak tinggal diam. Ia berusaha membantu keluarga termasuk korban banjir dan longsor yang terjadi di pulau Sumatra dengan mengunggah sebuah story ajakan.

Ia berharap, tindakan kecilnya bisa membantu masyarakat yang terdampak sekaligus meringankan beban mereka. Lewat perbuatan baiknya, ia juga berdoa agar keluarganya diberi keselamatan.

“Kami sangat sedih melihat berita soal bantuan yang sangat lambat diberikan, semoga saya bisa menghubungi keluarga saya segera,” kata Siddiq. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Keindahan Semu di Kaki Gunung Semeru atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 1 Desember 2025 oleh

Tags: Acehbanjirbencana alamlongsorsumaterasumatera baratsumatera utaraSumatra
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Operasi Modifikasi Cuaca dari BMKG Difitnah Jadi Pemicu Banjir. MOJOK.CO
Ragam

Operasi Modifikasi Cuaca Mustahil Bikin Banjir, Teknologi Manusia Saja Belum Mampu Mengatasi Semesta Bekerja

28 Januari 2026
Banjir di Muria Raya, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Mendalam

Saat Warga Muria Raya Harus Kembali Akrab dengan Lumpur dan Janji Manis Awal Tahun 2026

20 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO
Kilas

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Dat, pemuda dengan 3 gelar universitas putuskan tinggalkan kota demi bangun bisnis budidaya jamur di perdesaan MOJOK.CO

Cabut dari Kota Tinggalkan Perusahaan demi Budidaya Jamur di Perdesaan, Beberapa Hari Raup Jutaan

4 Februari 2026
Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul MOJOK.CO

Memfitnah Es Gabus Berbahaya adalah Bentuk Kenikmatan Kekuasaan yang Cabul

30 Januari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
kos di jakarta.MOJOK.CO

Ngekos Bareng Sepupu yang Masih Nganggur Itu Nggak Enak: Sangat Terbebani, tapi Kalau Mengeluh Bakal Dianggap “Jahat”

3 Februari 2026
Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh” MOJOK.CO

Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”

31 Januari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.