MOJOK.CO Kantor Samsat jadi ramai karena ibu-ibu Manado salah sangka dengan istilah balik nama. Sementara Unang begitu cerdik setelah menemukan dompet yang terjatuh.

Karena saya lahir di Bolaang Mongondow, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Utara, lalu bekerja dan menetap di Kota Jayapura, Provinsi Papua, maka mop-mop saya kebanyakan memakai narasi orang Manado atau Papua.

Pada mop-mop sebelumnya, saya memindai beberapa komentar pembaca yang isinya agak kesulitan memahami dialek Manado atau Papua. Tapi ada juga yang berkomentar bahwa meski sering hilang sinyal, lama-lama tutur dari Timur bisa dipahami.

Sebenarnya mudah sekali kawan-kawan. Kalau kami di Manado, biasanya memakai “kita” untuk kata ganti orang pertama atau “saya”. Kalau di Papua, biasanya mereka hanya menulis “sa”. Nah, untuk “kamu” orang Manado memakai “ngana” atau “ngoni” untuk yang jamak “kalian”. Sedang di Papua “kamu” menjadi “ko”.

Selain itu, orang-orang Timur juga terkesan lebih irit kata. Misal “lihat” menjadi “lia”, “baik” menjadi “bae”, dan “balik” jadi “bale”. Begitu juga dengan “jahat” menjadi “jaha”, “busuk” jadi “busu”, “kasih” menjadi “kase”, dan “banyak” jadi “banya”.

Semoga glosarium ringkas di atas bisa memandu pembaca memahami mop-mop yang berasal dari Timur. Dalam mop-mop di bawah ini, saya juga memberi keterangan untuk beberapa kata. Selamat membaca!

Mengamuk di Samsat

Kantor Samsat Manado siang tadi ramai. Ini gara-gara ada seorang ibu yang BPKB motornya akan balik nama.

“Ibu, ibu, ini ndak apa-apa, cuma balik nama,” bujuk seorang petugas.

Tapi ibu itu tetap meronta. “Pokoknya kita nimau (tidak mau),” teriak ibu itu.

Petugas itu terus membujuk, “Ibu, kalo bagini ndak mo klar-klar ini urusan.”

“Biar jo, mo mampos le, kita nimau!” tolak ibu itu.

Penasaran, petugas itu bertanya kenapa ibu itu tidak mau BPKB-nya balik nama, “Alasan ibu sebenarnya apa?”

“Kalu mo balik nama, kita pe nama itu Maya Rolet. Coba ngana bale itu nama!” kata ibu itu.

Mendengar alasan itu, si petugas hanya menggaruk-garuk kepalanya.

Tato Matahari

Ongol baru saja bebas dari rutan di Kotamobagu, karena asimilasi di masa wabah virus corona. Waktu itu, ia dipenjara karena mencuri berdus-dus obat batuk sasetan di sebuah warung.

Sebelum dibui, sekujur tubuh Ongol mulus tanpa tato. Tapi selama di rutan, ia mulai merajah tubuhnya. Salah satu tato kebanggaannya dilukis di atas perutnya. Tato matahari.

“Tato apa itu?” tanya orang kampung yang lewat di depan rumah Ongol.

“MATAHARI!” teriak Ongol, membikin orang itu takut. Setelah itu, ia menuju pangkalan ojek.

Di pangkalan, tiba-tiba ada seorang pria cepak dan tegap yang melihat ke arah perutnya Ongol. Merasa diperhatikan, Ongol lantas bertanya, “Bekeng apa ngana lia-lia kita pe puru?”

“Tatonya bagus. Tato apa itu?” tanya pria itu, sambil memperlihatkan pistol di pinggangnya. Ternyata pria itu polisi.

“Eh, tato kukis (kue) pia, Ndan,” jawab Ongol hati-hati.

“Baru kiapa (kenapa) merah bagitu?” tanya polisi itu lagi.

“Banya pake mentega kwa’, Ndan,” jawab Ongol, yang kemudian segera pamit pulang.

Pulang Kampung

Pace bekerja sebagai ABK di sebuah kapal penangkap ikan dari Jepang. Setelah bertahun-tahun berkeliling Samudra Pasifik, ia akhirnya cuti dan pulang kampung. Rasa rindunya kepada Mace tak terkira, pun kepada anak semata wayangnya, Timo yang baru berusia lima tahun.

Saat di rumah, Pace yang ingin sekali bercumbu dengan Mace, merasa terhalangi akan keberadaan Timo. Pace pun memikirkan ide, ia memberi uang kepada Timo lalu menyuruhnya pergi bermain di warnet.

“Ini seratus ribu, ko main puas-puas sudah,” kata Pace.

Timo berlari girang ke luar rumah. Sesampainya di warnet, ia kaget karena pintunya tertutup.

“Timo, pulang sudah. Warnetnya tutup karena ini hari Minggu,” kata pemilik warnet.

Timo segera pulang ke rumah dengan kecewa. Ia membuka pintu rumah lalu melangkah masuk ke kamar ayah dan ibunya.

“Ini Agustus punya! Ini for September! Ini Oktober!” kata Pace terengah-engah.

Namun Mace merasa ada yang mengawasi mereka. Ia lantas menyuruh Pace menghentikan “perbuatannya”.

“Eh, Timo! Ko dari kapan di situ?” tanya Mace yang terkejut melihat anaknya berdiri di depan pintu kamar.

Terbata-bata, Timo coba menjawab, “Da … da … ri … Ma … ret ….”

Dompet Hilang

Unang baru saja dari warung. Tapi ia terkejut ketika ada dompet tebal yang tergeletak begitu saja di tepi jalan. Setelah celingak-celinguk dan tak ada orang yang memperhatikannya, ia segera memungut dompet itu.

Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat. Ia lantas membuka dompet itu. Setelah melihat isinya, ia segera menelepon nomor stasiun radio di kotanya.

“Hallo … ini deng Memora FM? Kita tadi dapa dompet di pinggir jalang. Isi ada KTP atas nama Utu’ Mamahit, doi lima juta, kartu ATM, SIM, STNK, kartu kredit deng surat-surat penting laeng,” cerita Unang.

Penyiar radio Memora FM yang kebetulan sedang mengudara dan yang mengangkat telepon dari Unang itu senang.

“Bukang main ngana pe jujur skali. Jadi ngana mau torang umumkan di radio, kalu ngana mo kase pulang itu dompet dang? So susah komang mo dapa orang jujur macam ngana di zaman bagini,” kata penyiar itu.

“Bukang bagitu. Kita cuma request lagu for Utu’ yang punya ni dompet dang. Lagu dari Panbers judulnya Relakanlah,” kata Unang, lalu menutup teleponnya.

Siapa Paling Jago

Ada tiga setan Pokpok yang biasanya memakan orok, tengah berdikusi di malam yang sunyi.

“Daripada ndak ada karja, mari jo torang (kita) adu nyali deng kekuatan,” kata Pokpok A1.
“Mo tes nyali apa le torang malam ini?” tanya Pokpok A2.
“Iyo, mo adu apa torang?” sambung Pokpok A3.
“Bagini, di bawah sana ada desa-desa deng kota. Nah, sapa paling banyak mangsa ini malam, dia untung!” tantang Pokpok A1.

Pokpok A2 dan A3 menerima tantangan itu. Kemudian Pokpok A2 secepat peluru terbang ke arah sebuah desa. Tak sampai lima menit, ia kembali dengan mulut bersimbah darah.

“Ngoni lia desa sana? Orang-orang di sana abis samua kita makang!” kata Pokpok A2.

Tak mau kalah, Pokpok A3 pun segera melesat secepat kilat. Tak sampai tiga menit ia kembali dengan mulut penuh darah dan tulang.

“Ngoni lia kota di bawah sana? Abis samua orang di sana!” kata Pokpok A3.

Kali ini giliran Pokpok A1 yang pertama kali mengusulkan lomba itu. Tak banyak bicara, ia segera melesat secepat angin dan hanya semenit kemudian ia kembali. Wajahnya hancur. Hal ini membuat Pokpok lainnya merasa kalah, karena yang pasti mangsa Pokpok A1 lebih banyak dengan kondisinya seperti itu.

“Eh, ngoni dua ada lia tiang listrik di pertigaan sana?” tanya Pokpok A1.
“Iyo, ada lia. Kiapa so (memang kenapa)?” kata kedua pokpok serentak.
“Pemai le, kita nyandak lia no!” kata Pokpok A1.

Pelabuhan

KM Kambuna bersandar di Pelabuhan Bitung. Banyak sekali penumpang yang berdesak-desakan turun. Tiba-tiba saja, terdengar suara orang tercebur ke laut disusul dengan teriakan seorang ibu.

“Tolooonnnggggg! Kita pe anak ada ciri di laut! Tolooonngggg!” teriak ibu itu.

Sontak saja seluruh penumpang kaget. Mereka menengok ke bawah, ada seorang bocah laki-laki tengah berjuang agar tak tenggelam.

“Byuuuuurrrrr!”

Kali ini ada seorang pahlawan meloncat dari atas kapal. Usianya tampak sudah lewat paruh baya. Ia masih menoleh ke kiri dan kanan, lalu coba berenang ke arah bocah dan menyelamatkannya. Setelah berhasil ke darat, ia disambut ibu dari bocah itu.

“Adoo! Opa! Trima kase banya neee!” kata ibu itu sambil memeluk Opa.
“Iyo, biasa itu,” jawab Opa.

“Opa, sebagai tanda terima kase, Opa minta apa dang? Tetap kita kase,” kata ibu itu, menawarkan hadiah kepada penolong nyawa anaknya.

“Opa nyandak minta apa-apa. Opa cuma mo tanya. Sapa yang tola (dorong) pa Opa tadi eee?” kata Opa.

BACA JUGA Pidato Tanpa Teks yang Jadi Kebanggaan atau artikel lainnya di MOP.

Baca juga:  Bendera Indonesia Terbalik dan Burung Garuda yang Dimakan