MOJOK.CO Kebanggaan punya papa hebat itu tak terperi. Adlun, Imat, dan Fais selalu ingin papa mereka terlihat lebih baik dari papa-papa lainnya termasuk dalam hal pidato.

Mop kali ini bakal menceritakan tentang tiga bocah polos yang bercerita tentang pidato papa mereka, seorang penjual lampu LED di masa pandemi, dan seorang perawat yang punya niat baik tapi sok pintar. Penghiburan ini jangan sampai buat kalian lagi-lagi murung. Bergembiralah sudah!

Pidato Papa

Tiga orang anak bernama Adlun, Imat, dan Fais sedang membicarakan kehebatan papa mereka, yang akan mencalonkan diri sebagai kepala desa.

“Sa pu papa kalo ba pidato tra pake maik,” ucap Adlun dengan bangga. Seolah sang papa ini tra butuh teknologi lagi perihalsuaranyayang kelewat lantang. Konon pemimpin yang baik memang yang suaranya bergema tanpa Toa.

Imat yang tak mau kalah membalas dengan nada angkuh: “Sa pu papa kalo ba pidato tra pake teks.” Tentu ini lebih membanggakan, mana ada pemimpin yang mau terlihat tidak becus karena bicara di depan rakyatnya saja perlu lihat teks.

Mendengar pernyataan kedua kawannya, Fais tak menjawab apa-apa. 

Adlun dan Imat serentak bertanya pada Fais: “Is, ngana pu papa bagaimana?”

Fais pasang muka sedi sekalian jengkel sambil menjawab, “Duh, kasihan, sa pu papa kalau ba pidato tra pake otak.”

Menjual Lampu di Pasar

Pada siang hari, di bawah terik matahari, di pasar tradisional, Laso menjual lampu LED. Dia penjual portabel, di mana ada kerumunan, Laso pasti jualan. Di pelabuhan, dia menjual. Di terminal bus, dia menjual. Di mana-mana, dia ada.

Kali ini, Laso jualan di pasar tradisional. Di dekat lapak milik Laso, ada lapak ikan.

Karena virus korona, dia banting harga. Lampu LED yang biasa dia jual sebesar 30 ribu, kali ini hanya 10 ribu. Namun, sayang, harga murah belum tentu barang bisa laris. 

Sudah seperti penjual obat dengan gaya akrobatik, Laso meneriakkan harga LED yang begitu murah seantero pasar. Namun, suaranya tidak digubris oleh pengunjung.

Ada yang lewat di hadapannya, ia tawarkan jualannya.

Laso melihat lapak ikan di sebelahnya sudah banyak pengunjung. Dia menguping tipis, banyak yang tanya-tanya harga ikan dan saling tawar menawar. Nama penjual ikan itu adalah La Ballo. Kedatangan pengunjung yang begitu ramai, membuat wajah La Ballo semringah.

“Om La Ballo, ikan cakalang ini berapa harganya?” tanya salah satu pengunjung. 

“Oh, itu 25 ribu, Tante.”

“Wah, mahal sekali, padahal lampu milik Laso hanya 10 ribu,” jawab tante tak bernama itu.

“Kalau begitu beli saja itu lampu, baru goreng deng minyak kelapa.”

“…”

Mendengar barang dagangannya dibandingkan dengan harga ikan milik La Ballo, Laso menjadi semangat. Dalam hatinya, daganganya pasti laris hari ini. 

Dan, Laso kembali menawarkan lampu LED kepada orang-orang. 

“10 ribu, 10 ribu, 10 ribu. Lampu LED ini tahan banting dan murah sekali, Om-om dan Tante-tante,” begitu kata Laso menawarkan barang-barangnya. 

Saking semangatnya, Laso mencoba membenturkan lampu LED itu ke aluminium yang dia sudah siapkan.

“Coba lihat ini, Nona-nona, lampu ini tidak pecah.” Bukan lampu LED yang pecah, malahan aluminium yang peyot.

Akan tetapi, percobaan berulang kali itu, tak membuat orang-orang melirik dagangan milik Laso. Hanya satu orang yang merapat ke lapaknya, yaitu tante tadi yang sempat tanya-tanya harga ikan milik La Ballo. 

“Om Laso, apa betul harga lampu LED ini hanya 10 ribu?” tanya tante.

“Betul sekali, Tante, murah tho?”

“Memang murah, tapi saya belum berniat beli lampu LED.” 

Laso mulai emosi, langsung dia berucap: “Tante, tadi ngana tidak beli ikan, sekarang ngana juga tidak beli lampu saya. Ngana mo ba apa di pasar?! Mo pamer gincu?!

Menjadi Perawat Jangan Sok Pintar

La Rullah sempat menjadi mahasiswa perawat di kampus swasta di Makassar. Dia sudah melewati dua semester ketika itu. Sebelum memasuki semester berikutnya, dia bersama teman yang lain harus magang di rumah sakit yang ada di Kota Daeng.

La Rullah ditempatkan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo. Konon, gosip dari senior-seniornya, bagi siapa yang ditempatkan magang di RS. Wahidin Sudirohusodo, dipastikan mahasiswa itu cerdas atau punya relasi dengan pihak akademik.

La Rullah punya dua-duanya. Bisa diuji.

Ketika satu minggu magang sudah La Rullah lewati, ada pasien baru masuk dari Kendari. Pasien rujukan. Pasien dengan penyakit gula. Lukanya di paha dan sudah bernanah. Sudah berlubang besar. Tulangnya sudah kelihatan.

La Rullah menjadi perawat yang merawat pasien baru itu. Sebagai anak magang, apa pun yang diperintahkan oleh perawat senior, tidak ada kata tidak, harus mau. 

Luka yang sudah bernanah itu dibersihkan oleh La Rullah. 

Ketika La Rullah membersihkan nanah pasien menggunakan gunting karena saking tebalnya nanah tersebut, si pasien yang berumur 60 tahun tersebut menjerit kesakitan. 

Mendengar jeritan kesakitan pasien itu, La Rullah mengingat nasihat salah satu dosennya: “…ketika merawat, perawat mesti mengibur pasien; saat mengambil tindakan, perawat mesti mengalihkan rasa sakit itu dengan mengajak ngobrol.”

“Ibu, yang sabar, ya,” ujar La Rullah.

“Iye, Nak, tapi ini sangat sakit,” jawab si pasien.

La Rullah sambil menggunting nanah itu, dia terus melakukan percakapan dengan pasien. 

“Iya, Bu, penyakit memang selalu menyakitkan. Apa ibu masih ingat kisah Nabi Luth?”

“Masih, Nak.”

“Nah, kita perlu banyak mencontoh kisah Nabi Luth tersebut, penyakit kusta yang dia derita, tetapi dia tetap sabar, ….”

Wajah si pasien langsung berubah, tiba-tiba dia langsung senyum.

“Maaf, Nak. Itu bukan Nabi Luth, tapi Nabi Ayyub.”

Sekarang, giliran La Rullah yang senyum, senyum malu. 

BACA JUGA Pace dan Mace Ribut Soal Stay Home atau Homestay atau artikel lainnya di MOP.

Baca juga:  Nggak Seperti Kami yang LDII, Muhammadiyah Sudah Cukup Lucu Kok