Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Transisi Energi di Indonesia Masih Salah Arah, Hanya Memperparah Krisis Iklim

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
16 Februari 2023
A A
diskusi transisi energi

Ilustrasi upaya transisi energi yang salah arah justru memperburuk krisis iklim (Mojok.c0)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Aktivis lingkungan Melissa Kowara menyebut bahwa upaya transisi energi di Indonesia masih salah arah. Selain tidak efisien dan salah sasaran, langkah-langkah tersebut juga tidak dibarengi komitmen berperspektif lingkungan, sehingga hanya memperburuk krisis iklim.

Seperti yang sudah diketahui, dalam KTT G20 di Bali tahun lalu, negara anggota termasuk Indonesia mendeklarasikan aksi nyata untuk transisi energi yang berkelanjutan. Salah satu strateginya adalah dengan mempercepat penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara dan mengembangkan energi terbarukan yang adil serta berkelanjutan.

Melissa, yang merupakan aktivis gerakan Extinction Rebellion, sangsi dengan pernyataan tersebut. Baginya, strategi yang dipaparkan oleh negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, hanya bakal memperparah krisis iklim, alih-alih menciptakan kebermanfaatan.

Misalnya saja, negara masih sering membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di wilayah-wilayah yang sudah kelebihan listrik, bukan yang membutuhkan. Selain pemborosan, tindakan itu tentunya hanya bakal memperparah kesenjangan.

Selain itu, ada juga upaya-upaya kontraproduktif lain. Seperti memproduksi aneka teknologi nirmanfaat, yang malah bikin boros penggunaan batu bara; hingga membuat aturan yang justru membatasi penyebarluasan panel surya—energi yang lebih ramah lingkungan.

Sebagai informasi, PT PLN (Persero) membuat regulasi yang menyatakan bahwa pabrik-pabrik swasta hanya boleh memasang daya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sekitar 10–15 persen dari total daya yang terpasang dengan PLN.

“hal-hal itu ‘kan bertolak belakang dari apa yang sesungguhnya dibutuhkan,” jelas Melissa, dalam podcast PetikTalks, yang tayang di kanal Youtube Petikine, dikutip Rabu (15/2/2023).

Ia pun menilai, upaya transisi energi yang digencarkan Indonesia ini terlihat seperti “proyekan”, yang mana ia sarat kepentingan dan begitu tersentralisasi. Padahal, yang dibutuhkan adalah demokrasi energi, bagaimana pembangkit listrik harus terdesentralisasi di wilayah-wilayah yang punya sumber listrik.

Hentikan aliran duit ke perusak lingkungan

Salah arah pemerintah dalam upaya menggenjot transisi energi juga terlihat dalam pendanaan secara besar-besaran ke industri ekstraktif. Menurut Melissa, 80 persen PDB Indonesia berasal dari industri ekstraktif, yang sebenarnya sangat merusak lingkungan dan memperparah krisis iklim.

Melansir The Guardian, studi Global Resources Outlook menemukan bahwa industri ekstraktif bertanggung jawab atas setengah dari emisi karbon dunia dan lebih dari 80 persen hilangnya keanekaragaman hayati. Hari ini, sumber daya alam yang dikeruk industri ekstraktif tiga kali lebih cepat dibandingkan enam dekade lalu.

Maka, kata Melissa, percuma Indonesia dan pemerintah dunia mengklaim dan terus berkampanye soal menjaga lingkungan, jika mereka terus jor-joran mengelurkan duit untuk para perusaknya.

“Mereka gembar-gembor ingin menyelamatkan generasi mendatang. Tapi, di sisi lain, mereka juga terus menggencarkan pendanaan ke industri ekstraktif yang memperparah krisis iklim,” lanjut Melissa.

Menurut Melissa, itu hanya menunjukkan bahwa pemerintah tidak punya komitmen untuk menyelamatkan lingkungan. Upaya-upaya itu hanya berorientasi ekonomi, dengan cara mengeruk sumber daya alam sebanyak-banyaknya. Alhasil, meski banyak duit yang mengalir ke negara, keberlangsungan lingkungan harus dikorbankan.

Butuh komitmen serius

Melissa menegaskan, solusi untuk menuntaskan krisis iklim sebenarnya sudah ada dan banyak bentuknya. Bermacam kajian dan rekomendasi, tak hentinya dibuat oleh lembaga internasional, aktivis, dan LSM-LSM lingkungan sebagai pertimbangan untuk menentukkan kebijakan yang lebih ramah lingkungan.

Iklan

Tak hanya itu, banyak teknologi telah dihasilkan dan sumber daya manusia pun sebenarnya telah berdaya untuk menuntaskan masalah ini. Namun, menurut Melissa, yang sesungguhnya tidak dimiliki adalah political will atau komitmen dari pemerintahan sedunia.

Kebanyakan pemerintah di dunia, kata dia, hanya berorientasi pada aspek ekonomi negara, tanpa memikirkan masa depan bumi.

Melissa mencontohkan, sekaliber konferensi COP26 saja mengundang perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri ekstraktif. Padahal, COP26 merupakan konferensi tingkat tinggi yang pembahasan utamanya adalah perubahan iklim.

“Kalau dalam konferensi iklim yang diundang saja adalah pihak yang menyebabkan krisis iklim, bagaimana bisa menelurkan solusi?” ujar Melissa, melempar pertanyaan.

“Ya, itu, seperti halnya di Indonesia. Orang-orang yang bikin kebijakan politik, adalah mereka-mereka yang main tambang,” tandasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Amanatia Junda

BACA JUGA Walhi Ajak Pilih Pemimpin yang Sadar Isu Lingkungan

Terakhir diperbarui pada 16 Februari 2023 oleh

Tags: Kebijakan Energi Nasionalkrisis iklimMelissa KowaraPemilu 2024perubahan iklimtransisi energi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Pabrik Semen, Pracimantoro, Wonogiri.MOJOK.CO
Ragam

Pabrik Semen Mengancam Wonogiri, Bisa Hancurkan Sumber Air dan Bentang Karst

23 Januari 2025
Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

19 Maret 2026
Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.