Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Hiburan

Pameran Seni Kiwari: Refleksi Seniman Perempuan atas Diri dan Lingkungannya

Ardhias Nauvaly Azzuhry oleh Ardhias Nauvaly Azzuhry
11 Juli 2023
A A
seniman perempuan di pameran kiwari mojok.co

Kurator Gintani Swastika dan Susi Pudjiastuti saat pembukaan Pameran Kiwari (IG @tumuhunmuseum)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Museum Tumurun Solo sejak 21 Mei 2023 menyelenggarakan pameran berjudul “Kiwari: Narasi Identitas dan Kefanaan” selama satu semester. Pameran yang dikuratori oleh Gintani Swastika ini memamerkan karya-karya dari enam belas seniman perempuan.

Mayoritas karya Pameran Kiwari secara terang berangkat dari posisi sosial sebagai perempuan. Namun beberapa juga berbicara tentang hal lain secara luas. Perlu diketahui, Kiwari dihelat di lantai dua gedung museum. Ada dua ruangan yang menjadi tempat ditaruhnya karya-karya dari seniman yang ikut berpameran.

Perenungan perempuan

Adit, pemandu tur Museum Tumurun mengatakan, ada alasan kuratorial di balik pembagian ruang pamer menjadi dua. “Ruang pertama berbicara tentang perenungan diri sedangkan ruang kedua bercerita tentang refleksi seniman terhadap situasi di luar dirinya.”

Ruangan pertama diisi oleh tiga seniman perempuan kondang, yakni Emiria Soenassa, Melati Suryodarmo, dan Mella Jaarsma. Melati menampilkan rekaman pertunjukan “Exergie-Butter Dance” yang menjadi koleksi Museum Tumurun.

Dalam video, ia menari dengan busana Eropa di atas mentega yang juga identik dengan Benua Biru sembari ditingkahi musik etnik Makassar. Melalui karya ini, Melati ingin menceritakan tentang jatuh dan bangun dirinya. Karya ini masuk ke dalam kurasi pameran sebab narasinya yang menyentuh perihal bauran identitas.

Berlanjut ke karya Mella Jaarsma bertajuk “Feeding the Nation”. Kolase yang merupakan sketsa dari karya busana ini membicarakan soal perempuan beserta renungan psikisnya. Karya ini juga memotret posisi gendernya di tengah bangsa yang patriarkis ini. Posisi yang, menurut Mella, menjadikan perempuan macam sapi perahan.

Di ruangan pertama ini, tata cahayanya dibuat minimalis, dindingnya bercat biru dongker sehingga menyerap cahaya, dan ukuran ruangannya tidak luas. Penataan artistik ini dibentuk agar memudahkan pengunjung ikut masuk ke dalam perenungan seniman.

https://www.instagram.com/p/CttOI-4v4_I/?hl=en

Protes perempuan

Di ruangan kedua yang lebih besar dan putih bersih, terdapat banyak karya-karya yang kentara membicarakan isu di luar identitas kedirian. Sebut saja “Burning Country” karya Arahmaiani.

Karya ini membicarakan kekerasan terhadap perempuan, utamanya Tionghoa, lewat instalasi korek api (siap dibakar dan menjalar) yang ditata membentuk Kepulauan Indonesia dengan kebaya di atasnya.

Begitu pula dengan “Avante!”, patung perunggu perempuan yang memprotes brutalitas Orde Baru, karya Dolorosa Sinaga. Melalui “Burning Country”, Dolorosa memosisikan diri sebagai potret korban. Ia ingin melihat perempuan lebih dari sekadar objek yang ditindas. Patung protes ini adalah pernyataan bahwa selama Reformasi dan kapan pun, perempuan juga bisa jadi subjek yang aktif melawan.

Di antara karya-karya yang bercerita ke luar, terselip lukisan pen on canvas milik Windi Apriani. “Ini menceritakan tentang refleksi dirinya sebagai perempuan dengan segala kompleksitasnya, Makanya, pakai pena melukisnya,” tutur Adit.

Ketika ditanya alasan penempatan karya “refleksi ke dalam” diletakkan di ruang kedua, Adit menjawab, “Pertimbangan estetika (formal) saja.”

Memang, secara warna, guratan pena Windi yang didominasi white space sehingga terkesan monokrom akan terkesan asing bila ditempatkan di ruang pertama yang temaram. Walhasil, ditaruhlah karya tersebut di ruangan kedua. Dengan ini, pernyataan Adit tentang pembagian ruang berdasarkan arah pengisahan tidaklah absolut.

Iklan

Di luar kedua ruangan tersebut, ada juga karya yang dipamerkan di luar kedua, yakni di tembok kiri di atas tangga masuk. Karya tersebut adalah “Terpesona dengan Kegelisahan”, rekaman slow motion pertunjukan studio dari Pasukan Garuda Merah Batalyon Infanteri 403 Yogyakarta yang menarikan yel-yel “Terpesona”.

Didatangi pengasuh pesantren putri dari Kudus

Yang relatif tidak hanya perihal pembagian ruang, namun juga metode apresiasi karya. Saat saya berkunjung ke sana pada Rabu (5/7/2023), ada yang menatap lamat-lamat, ada yang mondar-mandir lalu pulang, banyak pula yang cekrak-cekrek.

Cara menikmati karya yang disebut terakhir tadi dilakoni oleh, salah satunya, beberapa para pengasuh Pesantren Manhajul Qur’an Putri dari Kudus. Mereka berkunjung kemari atas dawuh kiainya selepas berziarah. “Karyanya bagus-bagus. Apalagi kalau difoto,” kata mereka nyaris berbarengan.

Museum Tumurun terletak di Jl. Kebangkitan Nasional No.2, RW.4, Sriwedari, Kec. Laweyan, Solo. Sedangkan pameran “Kiwari: Narasi Identitas dan Kefanaan” ini, masih akan dibuka sampai 21 November 2023.

Penulis: Dhias Nauvaly
Editor: Iradat Ungkai

BACA JUGA Di Solo, Festival Literasi Patjarmerah Terus Melokal dan Kolaboratif

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

 

 

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2023 oleh

Tags: pameran seniSeni rupaseniman perempuan
Ardhias Nauvaly Azzuhry

Ardhias Nauvaly Azzuhry

Magang Mojok

Artikel Terkait

Biennale Jogja 18 Mojok.co
Ragam

Blusukan di Biennale Jogja, Sensasi Menikmati Karya Seni di Desa

11 November 2025
Jogja Disability Arts (JDA) upayakan pameran seni rupa ramah tunanetra MOJOK.CO
Seni

Merancang Pameran Seni Rupa agar Dinikmati Tunanetra, Mereka Memang Tak Melihat tapi Bisa Mendengar

21 Agustus 2025
Kurator Suwarno Wisetrotomo Melarang Pemasangan Lukisan Yos Suprapto di Pameran Galeri Nasional Indonesia. MOJOK.CO
Aktual

Kurator Suwarno: Saya Nggak Mau Pasang Lukisan Yos Suprapto di Galeri Nasional Indonesia, Bukan Soal Takut atau Tidak Takut

24 Desember 2024
Pameran seni di Galeri Nusantara UNU Yogyakarta, anomali di tengah NU MOJOK.CO
Seni

UNU Yogyakarta Menjelma “Anomali” bagi NU Lewat “Under The Same Sun”

10 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026
Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” MOJOK.CO

Tiga Kali Gagal Seleksi CPNS, Pas Sudah Diterima Jadi ASN Malah Tersiksa karena Makan “Gaji Buta”

7 April 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO

Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”

8 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.