Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Pakar Politik UGM: Golkar Lebih Baik Ganti Airlangga ketimbang Bikin Poros Koalisi Baru

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Juli 2023
A A
partai golkar bikin poros baru mojok.co

Ilustrasi kursi ketua umum Partai Golkar (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Airlangga Hartarto dikabarkan diberi waktu hingga Agustus untuk membentuk poros baru pada Pemilu 2024. Jika gagal, partai siap mengadakan Munaslub untuk mengganti posisinya sebagai ketum Partai Golkar. Pakar politik UGM Arga Pribadi Imawan menyebut, opsi mengganti Airlangga lebih masuk akal ketimbang harus bikin poros baru.

Baru-baru ini, geger geden terjadi di internal Partai Golkar. Pasalnya, sejumlah politisi seniornya tengah mewacanakan penyelenggaraan musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) untuk melengserkan Airlangga dari kursi ketum.

Munaslub akan dilakukan jika target pembentukan poros baru koalisi, yang mengusung Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto sebagai bakal calon presiden, gagal terwujud.

Seperti diketahui, Musyawarah Nasional (Munas) Partai Golkar 2019 telah memutuskan langkah yang akan diambil partai pada Pilpres 2024. Langkah partai tegas: mengusung Ketua Umum Partai Golkar sebagai bakal calon presiden.

Airlangga sendiri diberi waktu hingga Agustus untuk membentuk poros koalisi baru yang mengusung dirinya sebagai capres. Apabila gagal, para politisi senior telah mewacanakan Munaslub untuk mengubah keputusan Munas 2019 sekaligus pergantian ketua umum.

Ambisi bikin poros baru terlalu muluk

Pakar politik UGM Arga Pribadi Imawan menyebut, opsi yang paling rasional untuk diambil Partai Golkar adalah mengganti Airlangga sebagai ketum, alih-alih bikin poros baru.

Menurut Arga, poros ataupun bursa pencapresan kini sudah mengerucut antara Anies Baswedan, Prabowo Subianto, dan Ganjar Pranowo. Dengan kata lain, sudah sangat kecil kemungkinan untuk mucul nama baru.

Terlebih, jika berbiara soal Airlangga, kata Arga, elektabilitasnya sebagai capres tidak terlalu tinggi. Dalam lima hasil survei terbaru saja, misalnya, elektabilitasnya tak sampai 1 persen.

Ia berada di posisi buncit. Bahkan kalah dari figur-figur yang bukan ketua umum partai—dan tidak diproyeksikan sebagai capres—seperti Erick Thohir dan Sandiaga Uno.

“Ambisi Golkar menurut saya terlalu tinggi. Jadi, yang paling mungkinkan adalah mengganti Airlangga sebagai ketua umum,” kata Arga kepada Mojok, Kamis (13/7/2023).

Airlangga juga gagal dongkrak popularitas Golkar

Masalah lain yang menjadi alasan mengapa Airlangga mungkin harus diganti adalah kegagalannya dalam mendongkrak popularitas Partai Golkar.

Imbasnya, tingkat keterpilihan partai berlambang pohon beringin itu juga jalan di tempat.

“Bahkan, ia kalah dari sebuah partai yang masih terkesan baru, Gerindra, yang elektabilitasnya sampai 18 persen; sedangkan Golkar 10 persen,” kata Arga.

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa makin ke sini kursi yang didapat Golkar di Senayan makin menyusut. Memang, pada Pemilu 2019 lalu Golkar mendapatkan 85 kursi—terbanyak kedua setelah PDIP. Tapi tak bisa dimungkiri bahwa itu turun dari pemilu-pemilu sebelumnya.

Iklan

Pada Pemilu 2004 lalu, perolehan kursi Partai Golkar di DPR RI mencapai 129 kursi. Ia turun ke 106 kursi pada 2009, lalu merosot lagi ke 91 kursi pada 2014, dan berujung pada 85 kursi di 2019.

“Padahal, jika kita bisa melihat posisi Airlangga yang berada di jajaran kabinet, seharusnya dia bisa mendongkrak popularitas Golkar,” tukasnya.

Golkar hilang marwah

Meski “hampir mustahil” bikin poros baru, Arga memahami rasionalitas para elite Partai Golkar mengapa mereka menginginkan level yang lebih tinggi, yakni masuk dalam bursa capres.

Sebab, Golkar seolah hilang marwah. Kata Arga, selama 10 tahun lamanya partai ini hanya mendekat ke partai penguasa.

“Padahal jika kita melihat dalam catatan sejarah, Golkar bahkan bisa masuk dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, yang ketika kita masuk desa-desa kita akan melihat Golkar sebagai salah satu partai terkuat,” uajr Arga.

“Tetapi jika kita melihat beberapa survei hari ini, itu terlihat berubah sangat jauh dari yang dulu,” lanjutnya.

Selain itu, Arga juga memaparkan dalam pengelolaan partai terdapat tiga level yang harus bersinergi. Level eksekutif, yang mengharuskan kecakapan lobby antara partai dengan pemerintah; level DPP, yang berpengaruh pada hubungan antarelite parpol; dan level akar rumput, untuk memastikan relasi partai dengan masyarakat dan pemilih.

“Nah, Airlangga ini justru tidak bisa menjadi salah satu corong atau poros yang kemudian bisa menyatukan ketiganya. Ia hanya sibuk dengan profesinya, dan gagal membangun konektivitas dengan tataran elite apalagi akar rumput,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Makna Pertemuan Prabowo dan Cak Imin, Jadi Berpasangan?

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2023 oleh

Tags: airlangga hartartoGolkarMunaslub GolkarPartai GolkarPemilu 2024
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, KKN Undip.MOJOK.CO
Kampus

Rasanya Satu Kelompok KKN dengan Anak Caleg, Semua Urusan Jadi Mudah Meski Suasana Bikin Tak Betah

14 Juli 2024
Komeng: Olok-Olok Rakyat Biasa untuk Menertawakan Politik MOJOK.CO
Esai

Komeng Adalah Bentuk Olok-Olok Paling Menohok yang Mewakili Lapisan Masyarakat Biasa untuk Menertawakan Politik

19 Februari 2024
bayi prabowo gibran di sumatera selatan.MOJOK.CO
Ragam

Kisah Bidan yang Membantu Persalinan Bayi Bernama Prabowo Gibran di Sumatera Selatan

16 Februari 2024
Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul 15.00 MOJOK.CO
Aktual

Menyaksikan Coblosan di Wotawati, Kampung Warisan Majapahit yang Mataharinya Tenggelam Pukul Tiga Sore

14 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026
Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis MOJOK.CO

Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis

31 Januari 2026
tan malaka.MOJOK.CO

Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi

6 Februari 2026
Jogja City Mall, Sleman bikin orang nyasar. MOJOK.CO

Megahnya Jogja City Mall Bergaya Romawi dengan Filosofi Keberuntungan, Nyatanya Makin Menyesatkan Orang “Buta Arah” Seperti Saya

3 Februari 2026
Derita punya pasangan hidup sandwich generation apalagi bonus mertua toxic MOJOK.CO

Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

5 Februari 2026
TKI-TKW Rembang dan Pati, bertahun-tahun kerja di luar negeri demi bangun rumah besar di desa karena gengsi MOJOK.CO

Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti

7 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.