Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Konsultasi Celengan

Emangnya Jadi PNS itu Masih Menjanjikan Ya Secara Finansial?

Haryo Setyo Wibowo oleh Haryo Setyo Wibowo
19 Oktober 2018
A A
jadi pns
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Membludaknya pendaftar CPNS menunjukan bahwa pekerjaan sebagai PNS ternyata masih diminati para Milenial. Om Haryo kali ini akan membahas sebenarnya jadi PNS di zaman sekarang tuh menjanjikan nggak sih secara finansial?

Dear Celengers,

Kemampuan menabung, investasi, dan melakukan konsumsi sangat tergantung dengan profesi kita. Dulu, orang berpikir bahwa kemampuan finansial PNS Indonesia tidaklah bagus, untuk tidak mengatakan daya belinya rendah. Tetapi lihat fenomena yang selalu terjadi saat lowongan jadi PNS dibuka. Jika milenial di luar sana sudah tidak menghiraukan untuk menjadi pegawai negeri, di Indonesia tetep antri mengingat remunerasinya bagus!

Beberapa waktu lalu, Om bertanya ke salah satu awak Mojok, “lho ini kok nggak ikut ujian CPNS, males? Nggak tertarik?”

Eh, lha kok jawaban anak milenial berlatar belakang pendidikan dari universitas bergengsi dan jurusan “mudah dapat pekerjaan tersebut” mengingatkan pada jawaban anak muda jaman Om lulus dulu. Bedanya, kalau anak ini pintar sementara teman Om termasuk spesies yang kalau ujian pun sebenarnya tidak akan mampu mengerjakan. Kalau pun nekat nyogok hanya uangnya yang akan diterima.

“Anu, saya pingin lama di Mojok. Di sini tuh enak banget, bisa belajar menulis dan tidur siang”

Demi toutatis! Kok ya bisa-bisanya milih bekerja di tempat yang membolehkan tidur siang.

Loh, tapi kalau dipikir ulang, itu alasan yang sangat logis. Untuk mempertahankan tagline mojok agar tetap “nakal dan banyak akal” seperti anak-anak, memang diperlukan tidur siang yang cukup. Bagi sementara orang, tidur siang memang sesuatu yang mewah. Kalau di dalam disiplin ilmu yang Om tekuni, tidur siang kalau dimoneterkan nilainya sama dengan harga kamar hotel. Loh kok mahal? Emang iya!

Bayangkan di kantor kalian, apalagi setelah makan siang dalam bentuk paket nasi, bakmi goreng, balado kentang dan gorengan. Ya Allah, kurang paripurna bagaimana coba? Full carbo, Bro! Begitu masuk kantor lagi kena semburan AC yang membius, apa trus semangat kerja lagi? Masa nggak ngantuk?

Kalau sudah begitu tidur pun perlu 1001 strategi: harus mlipir ke mushola pura-pura duduk tafakur (tapi liur netes), nyender di meja (bonus kejedot bangku), merem melek nggak jelas (tiba-tiba kejengkang), seolah berpikir sambil terpejam tapi (tau-tau ngorok). Dampak pertama, Kinerja melorot, kemudian bonus tidak turun dan akhirnya dipecat. Tragis, hanya karena masalah tidur.

Padahal kalau dia tau, kerja jadi PNS itu tergantung niat. Niatnya kerja keras dan tekun bisa, niatnya tidur dan do nothing lebih bisa lagi. Sebelum kita membahas lebih lanjut soal manfaat finansialnya, kita perlu memahami juga soal motivasi kerja berdasar geografi dan sejarah.

Profesi impian anak di Amerika berdasarkan survey tidak pernah seheroik cita-cita kalian yang ingin menjadi seperti Pak Habibie. Mereka menginginkan profesi yang dalam penglihatan mereka asik, menyenangkan dan memukau. Tidak heran kalau yang tertanam dalam benak mereka, jenis pekerjaan berikut akan sangat keren: penari, aktor, musisi, guru dan ilmuwan.

Begitu beranjak dewasa mereka segera tersadar bahwa keren itu belum tentu berbanding lurus dengan pendapatan. Mereka sadar bahwa untuk menjadi penari profesional berpenghasilan wah, sama sekali tidak mudah. Kemauan, tanpa didukung bakat dan kerja keras tidak akan pernah cukup. Sama sulitnya dengan menjadi aktor atau musisi yang laku di bisnis pertunjukan.

Ini jelas mengesampingkan idealisme. Benar bahwa bekerja memang tidak selamanya soal materi saja, tetapi juga bicara pencapaian-pencapaian yang ukurannya tidak selalu dalam bentuk uang. Ada banyak seniman yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia seni pertunjukan. Terus berkarya dan asal bisa tidur siang saja sudah cukup. Hahahaha nggak lah.

Iklan

Pada akhirnya mereka berada pada tahap realistis terhadap kebutuhan pasar tenaga kerja. Mereka memilih disiplin ilmu yang tingkat penganggurannya rendah dan penghasilannya bagus. Dasar pijakan mereka jelas, mengingat kredit pendidikan yang mereka ambil selama masa studi juga harus cepat dilunasi begitu mereka mendapatkan pekerjaan

Beberapa bidang pendidikan unggulan yang cepat diserap pasar tidak berbeda jauh dengan di Indonesia seperti teknik sipil, keuangan, dan teknik mesin. Di atas itu ada beberapa bidang pendidikan yang baik serapan dan penghasilannya secara rata-rata lebih tinggi: Ilmu aktuaria, Zoologi, teknik nuklir, biologi molekuler, kedokteran, farmasi dan matematika terapan.

Bagaimana di Indonesia? Saat masa kanak-kanak justru cita-citanya lebih wah daripada anak Amerika. Hanya ada sedikit atau mungkin malah dianggap penyimpangan jika anak-anak menginginkan pekerjaan-pekerjaan yang diimpikan oleh anak-anak Amerika.

“Besok kalau sudah gede cita-citamu jadi apa, Nak?”

Kalau tidak insinyur, ya dokter. Tidak ada perubahan fundamental sejak era Si Doel yang digadang babenya menjadi tukang insinyur hingga era Awkarin yang digadang jadi dokter. Umumnya, begitu menginginkan jadi penari, musisi atau pekerjaan yang terkait seni langsung dileskan matematika untuk mematikan dan mengubur impiannya.

Tidak heran kalau secara turun temurun jenis pekerjaan yang paling diinginkan anak muda negeri ini sebenarnya hanya mewakili hasrat orang tua yang terpendam. Simak saja urutannya: guru, pegawai bank dan jadi PNS. Klasik banget untuk tidak mengatakan kuno! Dalam bayangan orang tua, pegawai bank bermandikan uang dan sangat sejahtera. Sementara guru dan PNS mewakili perasan aman, tenteram, terkendali sepanjang jaman hehehe.

Pertanyaan pentingnya, benarkah PNS sebagai profesi dapat mewakili perasaan aman tenteram, terkendali sepanjang jaman?

Jawaban sebenarnya tidak sekedar aman, tetapi juga sejahtera. Secara umum, sudah bukan masanya membicarakan perihnya menjadi ASN. Kesejahteraan mereka melenting jauh jika dibandingkan dengan era Orde Baru. Single salary, yang berisikan gaji, tunjangan kinerja, tunjangan profesi dan yang masih terus digodo tunjangan kemahalan daerah sudah menyejahterakan mereka.

Ilustrasi saja untuk sarjana yang ingin menjadi guru berstatus PNS. Dengan mengacu pada aturan yang ada, seorang guru yang bersertifikat akan mendapatkan gaji dengan besaran 7 – 8,5 juta. Dengan catatan, itu di daerah dan guru dengan kualifikasi guru ahli pertama. Di Jakarta, tunjangan kinerjanya tinggi 2-3 kali lipat. Otomatis take home pay tersebut dapat melompat ke angka 14 juta per bulan.

Itu belum kalau mendapatkan “tunjangan kejut” seperti lebaran tahun 2018 yang dapat digunakan untuk menambal kebutuhan karena adanya inflasi musiman serta inflasi biaya pendidikan swasta. Jika dikelola dengan baik, gaji di bulan tersebut dapat 100% masuk tabungan. Kurang enak apa coba jadi PNS?

Secara umum, dengan besaran gaji yang berpedoman pada PP30-2015 ditambah dengan Perpres 37 Tahun 2015 tentang kinerja pegawai. Rentang take home pay (THP) pegawai pemerintah DKI Jakarta yang terendah dan tertinggi berada di kisaran 6,8jt – 122,9jt. Tidak berbeda jauh dari THP pegawai di lingkungan direktorat pajak yang berkisar 6,3jt – 133,3jt per bulan.

Jadi jangan heran kalau melihat PNS jaman sekarang wanginya bukan fanbo lagi, banyak perempuan PNS yang sudah beralih ke chanel dari bedak hingga parfumnya. Cowoknya juga muka-mukanya sudah tidak berminyak lagi seperti jaman orba. Sekarang relatif rapi, terpelajar dan bergawai mahal.

Terpenting, jadi PNS itu soal niat. Ada yang niatnya kerja kerja kerja, ada juga yang niatnya tidur tidur tidur. Kalau soal karir, terkadang tinggal cara bergaul dan kedekatan dengan atasan saja. Kalau performanya tidak bagus dan di bawah standar? Tetap aman, tenteram dan terkendali sepanjang jaman. Tidak akan dipecat selama tidak merugikan dan membahayakan negara.

Jadi salah kalau mengatakan jadi PNS itu tidak dapat tidur siang. Bisa banget! Loh tapi itu merugikan negara? Halah dikit aja ituu…

Terakhir diperbarui pada 22 Oktober 2019 oleh

Tags: CpnsDaftar CPNSjadi pnsKonsultasi keuangan
Haryo Setyo Wibowo

Haryo Setyo Wibowo

Artikel Terkait

Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
seleksi CPNS. CPNS Jogja, PNS.MOJOK.CO
Sehari-hari

Dua Kali Gagal Tes CPNS Meski Nilai Tertinggi, Kini Malah Temukan Jalan Terang Modal Ijazah SMA

8 Maret 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO
Edumojok

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Rif'an lulus sarjana UGM dengan beasiswa. MOJOK.CO

Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda

15 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Orang Jawa desa pertama kali coba menu aneh (gulai tunjang) di warung makan nasi padang (naspad). Lidah menjerit dan langsung merasa goblok MOJOK.CO

Orang Jawa Desa Nyoba “Menu Aneh” Warung Nasi Padang, Lidah Menjerit dan Langsung Merasa Goblok Seketika

15 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.