Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Makna Hedonis dan Hedonisme, Konsep Filsafat yang Tafsirnya Udah Liar ke Mana-mana

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
8 Oktober 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bagi para hedonis atau penganut hedonisme, kebahagiaan terbesar (“greatest good”) adalah kebebasan dari rasa takut dan ketiadaan rasa sakit, baik mental ataupun fisik.

Ada yang tersisa dari gerakan aksi mahasiswa tempo hari. Dari Detik, eks Kepala BIN Hendropriyono menyebut para pendemo adalah kelompok hedonis. Selain itu ia juga bilang yang intinya, sia-sia deh kalau demo kalian berniat mengganggu pelantikan Jokowi-Ma’ruf Amin tanggal 20 oktober mendatang.

Pernyataan Hendropriyono jelas ditolak mahasiswa. Enak aja—kenapa harus dibilang hedonis? Mahasiswa-mahasiswa ini kan cuma menjadi penyambung lidah rakyat, kok malah dituduh sembarangan?!

Eh, tapi, yang lebih penting lagi…

…hedonis itu apa, sih???

Mendengar kata “hedonis”, yang mungkin pertama kali terlintas di kepala kita (hah, kita???) adalah istilah “hedon” yang sering diasosiasikan dengan tindakan boros nan impulsif; membeli barang ini dan itu, semata-mata demi kesenangan pribadi. Dalam KBBI, kata yang tertera adalah “hedonisme” yang bermakna: ‘pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup’.

Filsuf Yunani kuno, Aristippus, menjadi salah satu peletak dasar konsep filsafat hedonisme. Berangkat dari pertanyaan “What really constitutes the good life?” yang dilemparkan oleh Socrates, Aristippus memunculkan paham yang secara maksimal mengejar kebahagiaan ini.

Dalam tulisan Gregory Sadler bertajuk Epicurus Handout: Comparison between Aristippus’ and Epicurus’ Hedonism, disebutkan bahwa hedonis menurut teori Aristippus meyakini bahwa di dunia ini hanya ada dua hal: kesenangan dan rasa sakit.

Teori hedonisme kemudian dikembangkan oleh Epicurus. Jika Aristippus lebih banyak menekankan kesenangan secara fisik, Epicurus justru sebaliknya; ia menekankan pula kesenangan mental. Bahkan, kebahagiaan, menurut Epicurus, adalah tidak terganggu dengan adanya sakit secara mental maupun fisik. Dengan kata lain, kebahagiaan terbesar (“greatest good”) adalah kebebasan dari rasa takut dan ketiadaan rasa sakit.

Sejalan dengan gagasan “meminimalisasi rasa sakit”, Epicurus juga menjelaskan bahwa hedonisme menekankan sikap memperbanyak kebahagiaan mental, misalnya mengobrol dengan teman.

Dari paparan di atas, seharusnya sekarang jelas hedonis itu apa dan gimana cara kerjanya. Hedonis, alias penganut hedonisme, adalah mereka-mereka yang menghindari rasa sakit, ataupun konsekuensi munculnya rasa sakit, demi kebahagiaan dan kesenangan yang natural dan necessary atau “memang diperlukan”.

Dalam praktik etik, paham ini percaya bahwa semua orang di dunia memiliki hak untuk melakukan apa pun, dengan tujuan mencapai kebahagiaan. Lagi pula, hedonisme percaya bahwa kesenangan dan kebahagiaan seseorang haruslah jauuuuuh lebih banyak dan melimpah ruah jika dibandingkan dengan rasa sakit!

Wah, wah, wah, kalau begitu, bukankah sesungguhnya hedonisme bukan paham soal menghambur-hamburkan uang? Ya gimana lagi coba; hal-hal yang kita anggap sebagai “kesenangan” kan sesungguhnya merupakan sumber rasa sakit. Maksud saya, bukankah belanja habis-habisan justru bakal menimbulkan rasa sakit dan ngilu karena melihat dompet langsung kosong??? Contoh lain, orang hedonis juga nggak akan mungkin minum alkohol dan mabuk-mabukan. Pasalnya, efek mabuk itu kan nggak enak dan malah menimbulkan sakit fisik. Iya, kan???

Ah, tapi tahu apa saya soal mabuk? Jangankan alkohol, makan durian separuh aja langsung mabuk dan perlu izin bedrest seharian. Sungguh tidak hedonis.

Iklan

BACA JUGA Apa Itu Mosi Tidak Percaya dan Bagaimana Cara Kerjanya atau artikel Aprilia Kumala lainnya.

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2026 oleh

Tags: aksi mahasiswaEpicurushedonishedonismeHendropriyono
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Vokal kritisi kebijakan uin alauddin makassar, berujung fatal. MOJOK.CO
Edumojok

Pahitnya Jadi Mahasiswa Kritis di UIN Makassar: Berujung Skors, Beasiswa Dicabut, hingga Kecewakan Orang Tua yang Seorang Guru Honorer

24 Februari 2026
Video

Cikal Bakal Peristiwa Malari dan Meletupnya Aksi Mahasiswa di Berbagai Kota

22 Oktober 2024
Karantina Wilayah MOJOK.CO
Esai

PSBB Yes, Karantina Wilayah No: Bagaimana Memahami Cara Berpikir Pemrentah agar Tidak Gila Lebih Cepat

2 April 2020
Pojokan

Salah Kaprah Ancaman Menristekdikti ke Semua Rektor Indonesia

30 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.