Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Kita Berlebaran, Mereka Tersapu Keadaan

Kokok Dirgantoro oleh Kokok Dirgantoro
30 Juni 2017
A A
arus balik mojok

arus balik mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Apa kabar, kawan-kawan? Alhamdulillah, selesai berlebaran juga kita tahun ini. Sudah sungkeman kan? Dengan bumbu nangis sesenggukan tidak? Hidup memang perlu drama, termasuk menangis haru ketika mencium tangan orang tua atau saat ziarah kubur.

Lalu bagaimana selanjutnya? Pamer kesuksesan dong. Datang menggunakan motor atau mobil baru lalu bagi-bagi uang ke keponakan dan orang tua hingga mentraktir makan keluarga besar. Sesekali dengan sengaja membuka jendela mobil di depan rumah mantan sembari berharap dia melihat kita di dalam mobil. Dalam hati kita berbisik, rasain dulu mutusin aku, sekarang aku sudah mapan dan kamu cuma pacaran dengan orang yang bergaji UMR.

Bahagia sekali. Mendapat THR dan menggerakkan sektor riil di daerah. Menambahkan jumlah uang beredar sekaligus membagi kebahagiaan. Senyum merekah seperti Kalis Mardiasih setiap selfie terhampar di banyak lokasi. Lebaran kerap disebut dino becik (hari baik) untuk bertemu keluarga dan berbahagia bersama.

Dengan tulisan ini saya hendak “sedikit” merusak kesempurnaan kebahagiaan itu. Mengapa? Karena tidak semua orang mengalami keberuntungan. Saya dengan sengaja akan menuliskannya.

Korban Infrastruktur

Jakarta—Surabaya akan kian dekat. Jarak 800-an km itu akan dilancarkan dengan jalinan tol Trans-Jawa yang membentang dari Jakarta—Cikampek, Cikopo—Palimanan, Palimanan—Kanci, Kanci—Pejagan, Pejagan—Pemalang, Pemalang—Batang, Batang—Semarang, Semarang—Solo, Solo—Kertosono, Kertosono—Mojokerto, dan Berakhir di Surabaya.

Dengan kecepatan 80 km/jam, pada suatu masa Jakarta—Surabaya dapat ditempuh dalam 10 sampai 11 jam saja.

Berkah ekonomi dari perputaran usaha quarry batu, pasir, urukan, split, semen, besi, dan baja. Ribuan pekerja diserap. Ekonomi bergerak bahkan sejak infrastruktur dibangun. Warung-warung makan dan tempat tinggal pekerja memberikan tambahan pendapatan bagi masyarakat sekitar proyek.

Pembangunan tol juga akan menjadi infrastruktur dasar pembangunan infrastruktur lainnya. Serat optik bisa menyewa lahan atau jalur pembatas di tengah tol. Kanan kiri koridor tol bisa menjadi jalur pipa gas, kabel listrik, air bersih, jalur limbah, bahkan mungkin juga jalur irigasi. Belum lagi penurunan biaya logistik.

Indah memang. Namun, saat mudik dari Malang menuju Tangerang Selatan, saya keluar di exit toll Semarang untuk membeli tahu bakso Ungaran yang dijual di kios oleh-oleh yang berjajar di sepanjang jalan. Pak Hartono, pemilik kios menyambut saya. Saya menanyakan penjualan dan beliau jawab lumayan. Sampai kemudian beliau berkata, “Tapi, saya tidak tahu nasib kios ini nanti setelah semua ruas tersambung, Mas.”

Dalam jarak 800-an km tersebut ada berapa ribu usaha yang akan berkurang pendapatannya bahkan tutup? Entah. Sepertinya untuk studi seperti ini jarang ada yang mau bikin. Beda dengan bikin survei elektabilitas pilkada. Banyak lembaga yang bikin dengan independen. Katanya.

Saya belanja di toko Pak Hartono kira-kira Rp250 ribu. Bayangkan ada traffic arus mudik dan balik dari jutaan mobil. Jika ada satu mobil belanja Rp200 ribu, ada Rp200 miliar penjualan oleh-oleh. Belum termasuk tempat makan, wisata sederhana, hotel/losmen untuk istirahat. Semua akan turun drastis ketika infrastruktur tersambung. Lalu siapa yang menikmati kue traffic di rest area jalan tol? Tentu saja waralaba padat modal yang sanggup membayar sewa tempat di lokasi utama yang tentu tak terjangkau pengusaha kecil minim akses seperti Pak Hartono.

Harga Stabil dan Nasib Petani Kecil

Stabilitas harga yang terjadi dalam suasana Ramadan hingga Lebaran adalah hal yang patut disyukuri. Pemerintah menyatakan bekerja keras untuk membuat hal ini terjadi. Pengkritik pemerintah mengatakan tidak ada kenaikan harga adalah sinyal ekonomi melambat/memburuk. Pemuja akan membela, pembenci akan mencaci. Basis data sudah tak penting lagi. Ya, ampun dua kalimat itu berima indah sekali. Saya tak akan membahasnya. Biarlah pemuja dan pencaci saling memuaskan hasrat sampai mengalami multiple orgasm.

Iklan

Saat kita bahagia melihat notifikasi THR, gaji sudah masuk, dan merasakan harga stabil, ada banyak yang tak seberuntung kita. Banyuwangi—Jember kelebihan produksi cabai merah besar. Harga Rp25 ribu/kg di level petani sebelum puasa terjun bebas hingga Rp6 ribu/kg.

Biaya tanam untuk balik modal petani cabai besar yang berpengalaman Rp3.500/kg. Yang kurang pengalaman atau kurang modal, bisa produksi di harga Rp5.500. Untung sangat rendah. Kabar baik di sepuluh hari terakhir puasa, harga di tingkat petani meningkat ke Rp17 ribu. Nasib lebih buruk dialami petani cabai hijau besar yang di level petani hanya dihargai Rp3.500/kg. Rugi membayangi petani. Demikian juga terong di Grobogan. Entah apa yang terjadi hingga panenan terong hanya dihargai Rp500/kg.

Yang hobi membuat kue tentu bahagia. Harga telur awal puasa Rp18 ribu. Paling mahal yang saya dapati di sekitar rumah adalah Rp24 ribu. Publik bersorak karena leluasa membikin kue dengan anggaran relatif rendah. Bisa memasak opor ayam dengan banyak telur. Adakah yang sejenak bertanya bagaimana nasib peternak ayam petelur yang Anda kenal?

Harga jagung pakan dari Rp3.700/kg meningkat ke Rp4.200. Biaya pakan untuk ayam petelur bisa berkontribusi 60—70% terhadap biaya produksi. Ketika harga jagung naik sementara harga telur standar, berarti ada yang kehilangan margin. Siapa mereka? Ya jelas peternak skala kecil dan menengah.

Jangan lupakan mereka, petani dan peternak. Tanah mereka akan kian terkikis karena perkembangan infrastruktur. Harus ada keseriusan mendampingi, mendukung, dan membantu mereka agar tak tersapu zaman begitu saja. Harga lahan di sekitar proyek akan melambung ratusan persen dalam jangka pendek. Rayuan tenaga marketing otomotif, elektronik, hingga penyanyi di kafe dangdut bisa membuat pemilik lahan melepas tanahnya dan tenggelam dalam konsumsi. Sesaat bahagia lalu menangis berkepanjangan karena kehilangan alat produksi.

Pekerja yang Kelelahan

Bersabar, menunggu Magrib, menahan diri dari emosi dan tingkah berlebihan lainnya. Sebulan penuh dijalani, tetapi banyak yang tak meneladani Ramadan. Ramadan usai, Lebaran tiba, kembali lagi ke sifat asal.

Tak semua orang bisa memperoleh cuti bersama bahkan menambah cuti saat dekat Lebaran. Mereka harus kerja keras dalam puasa bahkan saat takbir berkumandang. Yang beruntung bisa cuti kadang minim empati.

Banyak tempat makan kekurangan pekerja hingga pelayanannya lambat. Saat Lebaran, sebagian yang sudah belajar sebulan menahan diri tak tersisa lagi jejaknya. Sibuk memarahi pekerja di rumah makan karena banyak menu kosong dan makanannya tak kunjung datang.

Saya menemui beberapa kasus seperti ini. Seorang penyelia rumah makan yang saya datangi sempat saya tanya jumlah orang yang bekerja. Dia menjawab, di hari biasa ada 15 orang, kini hanya 5 orang. Sibuknya luar biasa, melayani “orang liburan” yang lapar dan marah-marah. Beberapa terlihat kelelahan walau berupaya tetap senyum.

Pegawai SPBU juga mengalami hal yang sama. Tak hanya mengurusi antrean mobil dan motor yang kadang tak sabaran, tapi juga mengurus mereka yang numpang istirahat dan membuang sampah seenaknya di sekitar SPBU. Mau diingatkan, tapi yang buang sampah rombongan banyak banget. Cuma bisa diam dan saat sepi mereka harus merangkap petugas kebersihan. Membersihkan sampah mereka yang katanya sebulan penuh berupaya membersihkan hatinya.

Beberapa pengurus masjid dan pesantren juga kerepotan. Ini malah tidak ada unsur ekonomi sama sekali. Bekerja hanya mengharap rida Allah Swt. Saya dan keluarga tertolong ketika salat Subuh di masjid Pesantren Zaenuddin, Tegal. Dibantu parkir, dijagakan mobil karena ada anak bungsu saya yang sedang tidur. Saya, istri, dan dua anak yang dewasa bisa salat dengan tenang.

Saya tak sendirian. Ada banyak sekali mobil yang menumpang istirahat. Pengurus masjid dan masyarakat sekitar terlihat santai saja. Mungkin sudah biasa melakukan perbuatan baik tanpa berharap dipuji atau mendapat keuntungan materi. Lelah, tapi banyak pahala. Kalian tidak usah nanya mobil apa saja yang parkir di sana. Tak perlu.

Banyak hal terjadi selama Ramadan, mudik, dan akhirnya kembali beraktivitas. Rindu Ramadan datang adalah satu hal, tetapi meneladani pencapaian kita sendiri dalam menahan diri untuk terus diaplikasikan di hari-hari biasa juga tak kalah penting. Semangat zakat fitrah, zakat mal, dan sedekah selama Ramadan juga perlu terus dilanjut terutama dalam hal mengasah empati. Setidaknya mendoakan saudara-saudara yang tidak seberuntung kita.

Selamat menempuh perjalanan kembali ke perantauan. Mudik selesai, kerja dimulai.

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2017 oleh

Tags: arus balikArus MudikcabaiLebaranMasjidSPBUtelurtol trans-jawa
Kokok Dirgantoro

Kokok Dirgantoro

Artikel Terkait

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid? MOJOK.CO
Esai

Dakwah Kok Masuk Roblox! Memangnya Anak Muda Hari Ini Masih Ngumpul di Masjid?

22 Juni 2026
Lulusan SMK cuma kerja jadi pegawai di SPBU, diremehkan saudara tapi malah jadi tempat ngutang MOJOK.CO
Sehari-hari

Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang

21 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran
Catatan

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Rekonstruksi kasus penganiayaan pelajar berujung meninggal di Jalan Yos Sudarso, Gondokusuman, Kota Jogja (depan SMA 3 Yogyakarta) MOJOK.CO

Gambaran Jelas Penganiayaan Pelajar di depan SMA 3 Yogyakarta dalam 21 Adegan Rekonstruksi

9 Juli 2026
Polyworking (mencari pekerjaan tambahan atau sampingan) jadi pilihan rasional in this economy karena satu pemasukan gaji tak beri rasa aman MOJOK.CO

Polyworking: Pekerja Kurangi Waktu Luang demi Pekerjaan Tambahan dan Pesan untuk Lulusan Baru jika Sumber Gaji Tak Cukup 1

8 Juli 2026
Bagi Najwa Shihab, gagasan liar anak muda seperti dalam esai para penerima Djarum Beasiswa Plus dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2026 harus diberi ruang MOJOK.CO

“Gagasan Liar” Anak Muda Harus Diberi Ruang, Terdengar Tak Lazim tapi Penting Dibicarakan

6 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Pertama kali beli mesin cuci di rumah desa, kena julid tetangga MOJOK.CO

Pertama Kali Beli Mesin Cuci di Rumah Desa: Terharu Ringankan Beban Ibu hingga Dianggap Buang Duit oleh Tetangga Julid

10 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.