Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Sosial

Pemkot Jogja Luncurkan Program ‘Setu Sinau’ di Malioboro, Wisatawan Kini Bisa Belajar Budaya Sambil Jalan-Jalan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Februari 2026
A A
Malioboro, Jogja, aksi demo.MOJOK.CO

Ilustrasi - Jalan Malioboro (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kawasan Malioboro selama ini identik dengan tempat belanja oleh-oleh, berburu kuliner, atau sekadar berfoto di papan nama jalan. Namun, mulai akhir pekan ini, wajah Malioboro akan sedikit berubah. 

Wisatawan tidak hanya diajak untuk melihat-lihat, tetapi juga diajak untuk “kursus singkat” kebudayaan secara gratis di trotoar jalan.

Pemerintah Kota Jogja melalui Dinas Kebudayaan resmi meluncurkan program baru bertajuk Setu Sinau ing Malioboro. Acara perdana atau peluncurannya dijadwalkan berlangsung pada Sabtu pagi, 14 Februari 2026, mulai pukul 07.00 hingga 09.00 WIB. 

Lokasinya dipusatkan di sepanjang sisi timur Jalan Malioboro, tepatnya di area sekitar gedung DPRD DIY.

6 kelas budaya di pinggir Jalan Malioboro 

Konsep yang diusung dalam program ini adalah street workshop atau bengkel seni di jalanan. Artinya, kelas-kelas belajar ini dibuat sangat santai dan terbuka bagi siapa saja yang sedang melintas di Malioboro, baik itu warga lokal yang sedang olahraga pagi maupun turis yang sedang jalan-jalan.

Ada enam jenis keterampilan budaya yang bisa dipelajari langsung dari para ahlinya. Pertama, ada kelas “Sinau Aksara Jawa”, di mana pengunjung bisa belajar cara menulis dan membaca huruf Jawa. 

Kedua, kelas “Sinau Nggamel” bagi mereka yang ingin mencoba memukul bilah-bilah gamelan. Dan ketiga, kelas “Sinau Ngadi Busana” yang mengajarkan cara memakai kain atau busana tradisional Jogja yang benar.

Selain itu, bagi penyuka gerak dan seni rupa, tersedia kelas “Sinau Njoged” (belajar dasar-dasar tari) dan “Sinau Nggambar” (melukis bersama seniman). Terakhir, ada kelas “Sinau Dolanan Anak” yang bertujuan mengenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda di tengah gempuran gadget. 

Semua kelas ini berjalan berbarengan di sepanjang trotoar, sehingga suasana Malioboro akan tampak seperti sekolah budaya raksasa yang tanpa sekat.

Libatkan mahasiswa asing 

Satu hal yang membuat program ini unik adalah hadirnya para mahasiswa asing. Pemerintah Kota Jogja sengaja mengajak mahasiswa dari berbagai negara yang sedang kuliah di Jogja untuk ikut belajar bersama. 

Kehadiran mereka diharapkan menciptakan suasana obrolan yang seru antara warga lokal, turis domestik, dan turis mancanegara.

Dengan cara ini, kebudayaan Jogja tidak lagi dianggap sebagai hal yang kaku atau hanya bisa dilihat di dalam keraton, tetapi menjadi sesuatu yang hidup dan bisa dipelajari oleh siapa saja dari berbagai latar belakang negara.

 

View this post on Instagram

 

Iklan

A post shared by DinasKebudayaanKotaJogja (@dinaskebudayaankotajogja)

Bukan sekadar belanja dan makan 

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Jogja, Yetti Martanti, menjelaskan bahwa program ini adalah cara pemerintah untuk memberikan “nilai tambah” bagi Malioboro. Selama ini, interaksi di Malioboro lebih banyak bersifat ekonomi atau konsumsi, seperti membeli barang atau makanan. 

Melalui Setu Sinau, pemerintah ingin pengunjung pulang membawa sesuatu yang lebih berkesan, yaitu pengetahuan dan pengalaman batin.

Yetti menyebut bahwa pengalaman belajar langsung dengan para seniman adalah sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang. Hal ini diharapkan bisa memperkuat ikatan emosional antara wisatawan dengan Kota Jogja. 

Jadi, orang yang datang ke Malioboro tidak hanya ingat rasa bakpianya, tetapi juga ingat bagaimana serunya mencoba memukul gamelan untuk pertama kali.

Menghidupkan kembali “ruh” Malioboro 

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya besar Pemerintah Kota Jogja untuk mengembalikan fungsi Malioboro sebagai koridor budaya. Mengingat Malioboro merupakan bagian dari Sumbu Filosofi yang sudah diakui dunia, kawasan ini memang seharusnya menjadi ruang publik yang mendidik, bukan sekadar pusat perbelanjaan.

Rencananya, kegiatan Setu Sinau tidak hanya berhenti saat peluncuran saja. Pemkot Jogja menjadwalkan kegiatan ini menjadi agenda rutin setiap Sabtu pagi. Harapannya, Malioboro bisa menjadi “museum hidup” di mana kebudayaan dipraktikkan langsung di depan mata masyarakat setiap harinya.

Acara peluncuran pada Sabtu esok rencananya akan dihadiri langsung oleh Wali Kota Jogja, Wakil Wali Kota, serta pimpinan DPRD DIY. Kehadiran para pejabat daerah ini menjadi simbol dukungan penuh bahwa ruang publik harus terus dimanfaatkan untuk pelestarian budaya yang inklusif atau bisa dinikmati oleh semua kalangan tanpa terkecuali.

Bagi masyarakat yang tertarik untuk ikut serta, cukup datang langsung ke area Malioboro pada Sabtu pagi. Tidak ada syarat khusus atau biaya pendaftaran. Cukup bawa semangat untuk belajar dan bersosialisasi di jantung kota Jogja.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Alasan Sepele yang Membuat Orang Sleman seperti Saya Iri dengan Kota Jogja

 

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: jalan malioboromalioboropemkot jogjasetu sinausetu sinau ing malioboro
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

4 Oleh-Oleh Malioboro Jogja Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli Mojok.co
Pojokan

4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli

24 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO
Kilas

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja
Edumojok

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
rekomendasi indomaret di Jogja yang cocok untuk melamun. MOJOK.CO
Ragam

3 Indomaret Unik di Jogja yang Cocok Disinggahi untuk Meromantisasi Hidup, Dijamin bikin Kamu Betah Melamun

10 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Duka merantau lama: nelangsa dengan pertanyaan dan permintaan ibu yang sebenarnya sangat sederhana MOJOK.CO

Pertanyaan dan Permintaan Ibu yang Bikin Saya Nelangsa dan Bersalah karena Merantau Lama, Padahal Ia Tak Banyak Menuntut

24 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Mending, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati Mojok.co

Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati

25 Maret 2026
Pengendara motor plat S di jalanan Jombang tidak kalah ngawur dari plat K MOJOK.CO

Motoran di Jatim: Dibuat Sadar kalau Plat S Jadi Motor “Paling Rusuh” di Jalan

23 Maret 2026
Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.