Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Polisi Itu Penegak Hukum, tapi Malah Paling Banyak Diadukan Langgar HAM

Redaksi oleh Redaksi
8 Agustus 2019
A A
Komnas HAM MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dalam rilis Laporan Tahunan Komnas HAM 2018, kepolisan menjadi lembaga yang paling banyak diadukan langgar HAM. Hmmm, kok bisa, ya?

Komnas HAM baru saja merilis Laporan Tahunan 2018 pada Rabu (07/08). Dalam peluncuran laporan tersebut, Komnas HAM memaparkan tiga institusi yang paling banyak dilaporkan atas dugaan pelanggaran HAM sepanjang tahun 2018. Ketiga institusi tersebut adalah kepolisian, korporasi, dan pemerintah daerah.

Dari 6.098 pengaduan yang diterima Komnas HAM sepanjang 2018, sejumlah 1.670 berkas aduan dari masyarakat diajukan kepada lembaga kepolisian. Pengaduan yang diterima di antaranya mengenai lambatnya penanganan laporan polisi hingga proses hukum yang tidak profesional. Dari lima klasifikasi soal hak yang dilanggar, pelanggaran terhadap “hak memperoleh keadilan” menjadi hak yang paling banyak diadukan telah dilanggar oleh kepolisian.

Hak memperoleh keadilan tersebut dapat dijabarkan mengenai lambatnya penanganan, tidak diterimanya laporan polisi, kriminalisasi, dan lain sebagainya.

Komisioner Komnas HAM, Amiruddin Al Rahab menambahkan, “Selain itu juga ada laporan yang masuk ke kita yang menjadi perhatian kita, masih terjadi tindakan kekerasan oleh aparat kepolisian dalam menangani proses penegakan hukum dalam rangka penangkapan dan penyidikan.”

Sementara itu, korporasi dan pemerintah daerah masing-masing menerima sejumlah 1.021 dan 682 berkas aduan. Persoalan soal sengketa lahan menjadi dugaan pelanggaran terbesar dari kedua institusi tersebut.

Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsari berpendapat, ketiga institusi tersebut memang selalu menjadi terlapor yang paling banyak diadukan setiap tahunnya. Beka mengungkapkan, laporan dari masyarakat yang tidak sedikit tersebut menunjukkan kalau standar pelaksanaan HAM di ketiga institusi tersebut masih perlu diperbaiki.

Sejumlah alasan pengaduan dugaan pelanggaran di tiga intitusi tersebut disebut juga akibat dari menguatnya politik identitas pada Pilkada 2017 yang menguat hingga Pilpres 2019. Hal ini yang kemudian berpotensi menurunkan kualitas kebijakan publik yang sarat dengan kepentingan tertentu.

Beka Ulung juga mengatakan bahwa akhir-akhir ini aktor intoleransi justru lebih banyak dilakukan oleh pejabat negara dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang diskriminatif. Ia mengungkapkan hal ini kemudian berakibat pada kualitas kebijakan publik baik di pemerintah daerah maupun kepolisian—selaku aparat keamanan—ketika mengeluarkan instruksi atau kebijakan lebih banyak dipengaruhi massa.

Selain itu dalam rilis laporan tersebut, mereka juga mengingatkan dan meminta Jokowi untuk segera menuntaskan kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu. Mereka berharap, laporan tahunan tersebut dapat menjadi rujukan program Jokowi.

Ya kalau sudah diingatkan lagi dan lagi gini, masak sih Jokowi lupa? Ehem. (A/L)

Terakhir diperbarui pada 5 September 2019 oleh

Tags: komnas HAMKorporasiPemerintah DaerahPolisi
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

rkuhap, kuhap, polisi.Mojok.co
Mendalam

Catatan Kritis KUHAP (Baru) yang Melahirkan Polisi Tanpa Rem Hukum, Mengapa Berbahaya bagi Sipil?

19 November 2025
Ortu kuras tabungan buat anak jadi polisi malah kena tipu. Sempat bikin stres tapi kini bersyukur tak jadi sasaran amuk tetangga MOJOK.CO
Ragam

Ortu Kuras Tabungan buat Anak Jadi Polisi malah Kena Tipu “Intel”, Awalnya Stres tapi Kini Bersyukur

6 September 2025
Polisi gelontorkan uang banyak untuk gas air mata yang digunakan dalam demo. MOJOK.CO
Aktual

Saat Duit Rakyat Hanya Dipakai buat Membeli Gas Air Mata Kadaluwarsa oleh Polisi

31 Agustus 2025
PoliceTube Adalah Ide Brilian Kepolisian yang Patut Diapresiasi! Mojok.co
Pojokan

PoliceTube Adalah Ide Brilian Kepolisian yang Patut Diapresiasi!

26 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.