Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kotak Suara

Indeks Ketimpangan Gender di Indonesia Tinggi, Khususnya dalam Politik, Apa Faktornya?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Januari 2023
A A
indeks ketimpangan gender mojok.co

Ilustrasi ketimpangan gender (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Indeks Ketimpangan Gender di Indonesia masih cenderung tinggi, terutama yang paling buruk adalah di bidang politik. Lantas, apa saja yang menjadi faktor penyebabnya?

Pertengahan tahun lalu, World Economic Forum (WEF) merilis Global Gender Gap Report 2022. Laporan ini mengkaji ketimpangan gender di empat bidang, yakni pemberdayaan politik, partisipasi dan peluang ekonomi, pencapaian pendidikan, serta kesehatan dan kelangsungan hidup.

Iklan

Indeks ketimpangan gender WEF sendiri memiliki sistem skor dengan rentang skala 0-1. Skor “0” berarti menunjukkan ketimpangan gender yang sangat lebar, dan skor “1” menunjukkan tercapainya kesetaraan penuh.

Dalam laporan WEF tahun 2022, secara umum Indonesia mendapat skor indeks ketimpangan gender 0,697 dan berada di peringkat ke-92 dari 146 negara. Kendati meningkat sebanyak 0,009 dari 0,688 pada 2021, angka ini masih sangat rendah.

Laporan tersebut juga memaparkan, jika merinci elemen pembentuk indeksnya, skor Indonesia terbebani oleh indeks pemberdayaan perempuan di bidang politik yang sangat rendah, yakni 0,169 atau di bawah rata-rata global.

Hal ini pun menunjukkan bahwa dalam dunia politik, masih ada gap yang lebar antara laki-laki dan perempuan di dalamnya. Lantas, faktor apa yang menjadi penyebabnya?

Tidak serius dalam pengarusutamaan gender

Salah satu faktor yang bikin ketimpangan gender tinggi di Indonesia adalah tidak seriusnya agenda pengarusutamaan gender. Sebenarnya, sejak tahun 2013 pemerintah telah meluncurkan strategi untuk mengadopsi penganggaran responsif gender.

Namun, temuan peneliti Woman and Children Research Center, Antik Bintari menunjukkan bahwa implementasinya kacau balau. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa selain tidak adanya angka yang jelas mengenai pembiayaan program, implementasinya pun juga tidak serius.

Ia mencontohkan Filipina, sebagai negara tetangga yang sukses dengan program ini. Di sana anggaran jelas, dengan mewajibkan semua lembaga nasional menyisihkan 5 persen dari alokasi dana mereka untuk program pengarusutamaan gender dan pembangunan. Ini yang tidak ditemui di Indonesia.

Alhasil, pada 2022 Filipina menempati posisi puncak sebagai negara dengan kesetaraan gender terbaik di Asia Tenggara dengan indeks 0,783. Selama bertahun-tahun, Filipina konsisten di angka ini.

Lebih lanjut, dalam implementasinya, program pengarusutamaan gender di Indonesia juga masih dinilai “kurang relevan”. Hal ini mengingat sebagian besar program hanya diselaraskan dengan pemerintah atau lembaga yang berfokus pada urusan pemberdayaan perempuan saja, bukan semua instansi.

“Hal ini hanya memperkuat pemahaman yang sudah ketinggalan zaman bahwa isu-isu gender bukanlah arus utama (mainstream) dan tidak melintasi semua sektor [terutama politik],” papar dosen Universitas Padjadjaran tersebut.

Perempuan masih diobjektivikasi dalam politik

Masalah lain yang tak kalah penting, khususnya di bidang politik, adalah menempatkan perempuan sekadar objek. Hasilnya, banyak politisi perempuan pada akhirnya mendapat serangan-serangan seperti seksisme atau diskriminasi politik hanya karena identitasnya sebagai perempuan.

Menurut peneliti UIN Sunan Kalijaga, Siti Nurul Hidayah, hal tersebut menjadi preseden buruk bagi hak-hak perempuan dalam dunia politik. Ini diperparah dengan fakta bahwa budaya patriarki juga masih kental di dunia perpolitikan Indonesia.

Iklan

“Pelecehan terhadap perempuan di ranah politik praktis, merupakan ekses dari kuatnya kultur patriarki yang melanggengkan ketimpangan gender di masyarakat,” tulis Siti dalam kolomnya di Detik, dikutip Rabu (4/1/2023)

“Kultur patriarki juga memiliki tendensi untuk menjadikan perempuan sebagai objek kekuasaan laki-laki dan tidak memberikan hak otonom bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan publik,” sambungnya.

Lebih lanjut, Siti juga memaparkan bahwa pelabelan negatif sebagai makhluk lemah (dependen), irasional, dan lebih mengedepankan perasaan ketika mengambil keputusan, telah menjadi senjata utama untuk membatasi keterlibatan perempuan dalam ranah politik praktis.

Sialnya, anggapan-anggapan yang demikian tumbuh subur di parpol-parpol, yang pada gilirannya menghambat keterlibatan perempuan dalam politik. Alih-alih dilihat kompetensinya, keterlibatan perempuan dalam politik seringkali dipandang sekadar sebagai pemanis saja.

“Dari sini, kita belajar bagaimana demokrasi elektoral kita belum beranjak dari strategi politik kotor, yang tidak jauh dari nalar kebencian dan perendahan terhadap lawan politik [utamanya perempuan],” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Sistem Proporsional Tertutup Coblos Partai Rugikan Politisi Perempuan

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2023 oleh

Tags: genderindeks ketimangan genderketimpangan gender
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

presiden perempuan mojok.co
Kotak Suara

Sentimen Gender Masih Kuat, Perempuan Punya Tantangan Lebih untuk Maju sebagai Presiden

1 Agustus 2023
yenny wahid perempuan mojok.co
Kotak Suara

Yenny Wahid: Tak Perlu Ada Label Gender pada Kepemimpinan Perempuan 

12 Juli 2023
pengarusutamaan gender mojok.co
Kotak Suara

Mengenal Pengarusutamaan Gender dalam Kebijakan Publik

14 Desember 2022
Suara Hati Crossdresser yang Penuh Cinta Pada Tubuh Cantik Prianya. Foto oleh Kamaji Ogino on Pexels.com
Liputan

Suara Hati Crossdresser yang Penuh Cinta Pada Tubuh Cantik Prianya

16 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi 

13 Juli 2026
Cari kerja, lamaran kerja, Mahasiswa gap year kuliah di Unila. MOJOK.CO

Kesalahan Bikin CV dan Hal-Hal Sepele Lain yang Justru Bikin Jobseeker Ditolak Saat Melamar Kerja

16 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.