Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

Redaksi oleh Redaksi
20 Desember 2025
A A
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO

Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan. (Dok. Perpustakaan Online)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Gedung Sarekat Islam Semarang menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan bangsa. Di situ lah tempat sosok Semaoen bersinar dalam kiprahnya, sebelum kemudian pindah haluan. Sementara secara khusus bagi Semarang, gedung tersebut menjadi simbol “Semarang Kota Pergerakan”.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, juga menegaskan betapa gedung seluas 1.000 meter persegi itu memiliki nilai yang sangat krusial dalam sejarah nasional. Gedung ini tidak hanya menjadi saksi pergerakan Sarekat Islam di Semarang, tetapi juga menjadi tempat dialog tokoh-tokoh besar bangsa dan titik penting saat Pertempuran Lima Hari di Kota Semarang.

Oleh karena itu, Kementerian Kebudayaan tengah memberi perhatian terhadap warisan sejarah tersebut.

Revitalisasi Gedung Sarekat Islam Semarang: pertimbangkan nilai manfaat bagi masyarakat

Fadli Zon mengaku telah beberapa kali melihat kondisi Gedung Sarekat Islam sejak 2012. Ia mencatat, meski sudah mengalami perbaikan, masih terdapat kerusakan serius di beberapa sisi gedung. Seperti kebocoran atap dan akar pohon yang menembus dinding.

Hanya memang, dalam hitungan Fadli Zon, sekitar 70%-80% struktur asli bangunan (termasuk pilar kayu jati dan tulisan “S.I.”) masih terjaga dengan baik.

Kini Kementerian Kebudayaan tengah menyiapkan upaya revitalisasi terhadap gedung tersebut pada 2026 mendatang. Tidak hanya perbaikan fasad, tapi juga fungsi gedung.

“Kementerian Kebudayaan akan mengkoordinasikan langkah revitalisasi bersama Pemkot, yayasan, dan komunitas budaya. Prinsipnya, revitalisasi tidak hanya menyasar fisik bangunan, yang paling penting, gedung ini bermanfaat bagi masyarakat. Bisa menjadi ruang belajar budaya, ruang dialog, seminar, diskusi, pameran sejarah, hingga aktivitas sastra,” jelas Fadli Zon saat meninjau kondisi gedung secara langsung di Kampung Gendong, Kelurahan Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur, Jumat (19/12/2025).

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang MOJOK.CO
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang. (Pemkot Semarang)

Menghidupkan kembali gedung bersejarah: jadi pusat edukasi dan budaya

Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang tentu menyambut baik komitmen Kementerian Kebudayaan tersebut. Tidak hanya berterima kasih atas perhatian pemerintah pusat, Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng juga menyepakati rencana pemugaran bangunan bersejarah tersebut pada tahun 2026 guna mengembalikan fungsinya sebagai pusat edukasi dan budaya.

“Karena ini aset sejarah penting, Pemkot Semarang juga akan ikut merawat bersama pada tahun 2026 mendatang,” ujar Agustina menegaskan komitmen Pemkot Semarang atas Gedung Sarekat Islam.

Agustina juga menekankan, revitalisasi nantinya tidak akan berhenti sebatas perbaikan bangunan saja. Namun, ia meminta masyarakat agar terlibat dalam menjaga keberlanjutan.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang MOJOK.CO
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang. (Pemkot Semarang)

Ia sudah menyiapkan rencana, ke depan pihak Pemkot Semarang akan melibatkan jajaran wilayah terdekat agar gedung ini menjadi ruang publik yang hidup. “Harapannya gedung ini hidup, digunakan warga untuk berbagai aktivitas budaya dan sosial,” tutur Agustina.

Agustina juga memastikan proses revitalisasi nantinya tidak berlangsung serampangan. Mengingat, Gedung Sarekat Islam Semarang merupakan cagar budaya tingkat kota yang ditetapkan sejak 2014. Pengerjaannya perlu hati-hati, oleh karenanya Agustina berkomitmen untuk mengikuti kaidah pelestarian yang ketat dengan melibatkan tenaga ahli yang tersertifikasi.

Gedung Sarekat Islam: Marwah Kota Semarang

Pada akhirnya, ada banyak nilai dan fungsi yang bisa terimplementasi dari revitalisasi Gedung Sarekat Islam Semarang, selain persoalan menyelamatkan fisik bangunan.

Bagi Agustina, merawat eksistensi gedung tersebut juga akan membangkitkan kembali marwah Semarang sebagai kota pergerakan yang mampu mengawinkan nilai sejarah dengan kebutuhan ruang kreatif masa kini bagi generasi muda.

Iklan
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang MOJOK.CO
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, bersama Wali Kota, Agustina Wilukeng, saat meninjau Gedung Sarekat Islam Semarang. (Pemkot Semarang)

“Menghidupkan kembali Gedung Sarekat Islam merupakan bagian merawat identitas Kota Semarang. Saya ingin tempat ini menjadi ruang yang hangat bagi warga untuk berkarya, berdiskusi, atau sekadar duduk minum kopi sambil menyelami sejarah, sehingga warisan bangsa ini tidak terasa berjarak, tapi justru menjadi bagian dari keseharian kita,” pungkas Agustina.***(Adv)

BACA JUGA: KH. Sholeh Darat Semarang Harusnya Semat Gelar Pahlawan: Penyusun Tafisr Al-Qur’an Jawa Pegon-Guru bagi RA. Kartini hingga KH. Hasyim Asy’ari atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 20 Desember 2025 oleh

Tags: Fadli Zongedung sarekat islam semarangkementerian kebudayaanMenteri Kebudayaansarekat islamsarekat islam semarangSemarangwisata sejarah semarangwisata semarang
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO
Kilas

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Jembatan Persen di Gunungpati, Semarang, dari kayu menjadi baja dan bercor beton MOJOK.CO
Kilas

Jembatan Persen di Gunungpati Semarang, Dari Kayu Jadi Bercor Beton berkat Aduan “Solusi AWP”

24 Januari 2026
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng akan renovasi rumah tak layak huni Mbah Kamijah di Gunungpati MOJOK.CO
Kilas

Saat Kabar Baik Menghampiri Mbah Kamijah, Lansia 87 Tahun yang Tinggal Sendiri di Rumah Tak Layak Huni Gunungpati Semarang

24 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ogah mudik apalagi kumpul keluarga saat Lebaran. MOJOK.CO

Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa

9 Maret 2026
Kuliner mainstream Lebaran buat kumpul keluarga

Di Balik Camilan “Mainstream” saat Lebaran, Ada Nilai Sentimental yang Mencairkan Suasana Kumpul Keluarga

6 Maret 2026
Lebaran.MOJOK.CO

Lebaran, Momen yang Ingin Saya “Skip” dari Kehidupan karena Hanya Berisi Trauma dan Kesedihan

6 Maret 2026
Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Pengendara motor plat K ngga ngerti fungsi zebra cross, lampu, sein, hingga spion MOJOK.CO

Pengendara Plat K Tak Paham Fungsi Zebra Cross-Spion, Cuma Jadi Pajangan dan Abaikan Keselamatan Orang saat Bawa Kendaraan

7 Maret 2026
Kuliner Sunda yang tidak ada di Jogja, seblak buat perantau ingin mudik Lebaran

Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar”

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.