Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Pariwisata Jogja di Titik Jenuh? Puspar UGM dan Pelaku Pariwisata Beri Solusi

Hammam Izzuddin oleh Hammam Izzuddin
27 Mei 2023
A A
Pariwisata Jogja di Titik Jenuh? Puspar UGM dan Pelaku Pariwisata Beri Solusi. MOJOK.CO

Pantai di Gunungkidul, (Photo by Ake Widyastomo on Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Persoalan pariwisata di Jogja sebenarnya bukan masalah jenuh atau tidak. Namun, terkait juga pengelolaan produk dan kemauan pengambil kebijakan di empat kabupaten dan satu kota untuk saling terintegrasi. Selain itu, harus ada riset yang jelas untuk menentukan potensi yang kuat dari masing-masing wilayah sehingga tidak saling berebut wisatawan.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto Setyo Aji menyatakan, persoalan pariwisata di Jogja bukan masalah jenuh atau tidak, tapi bagaimana menata produknya. Carrying capacity atau daya dukung maksimal destinasi harus diperluas tidak hanya di beberapa titik saja.

GIPI yang memiliki anggota 20 asosiasi industri maupun profesi di bidang pariwisata tahu betul kondisi di lapangan karena langsung bersingungan dengan wisatawan maupun pengelola destinasi.

“Carrying capacity-nya sudah luas, jadi bukan pariwisata Jogja yang jenuh, tapi bagaimana menata produk dari empat kabupaten dan satu kota di DIY untuk saling mendukung,” kata Bobby kepada Mojok, Sabtu (27/5/2023). Bobby menilai, masing-masing kabupaten/kota sudah bukan saatnya berebut market satu sama lain, tapi justru saling terintegrasi. 

Lakukan riset, perbaiki infrastruktur pariwisata

“Libatkan penta helix, kemudian lakukan riset. Sebenarnya potensi wisata yang riil dari masing-masing kabupaten/kota di DIY itu apa? Kemudian rumuskan potensinya dan link match-nya,” kata Bobby. 

Lewat riset akademik tersebut, menurutnya akan menghasilkan rekomendasi ke pemangku kebijakan yang nantinya bisa memperbaiki dan mengembangkan infrastruktur sesuai dengan market masing-masing kabupaten/kota. “Jadi tidak saling bertabrakan potensinya, empat kabupaten satu kota tumbuh bersama. Semua berkembang,” kata Bobby. 

Ia memberi contoh, bagaimana di Bali, market wisatawan di Ubud berbeda dengan Kuta karena konsepnya berbeda. Begitu juga market wisatawan di Kuta berbeda dengan Nusa Dua. Konsep yang berbeda itu kemudian dilindungi regulasi, itu mengapa mereka berkembang dan tidak saling tabrakan.

Persoalan lain yang perlu juga perlu menjadi perhatian pengambil kebijakan adalah infrastruktur dan amenities atau fasilitas yang belum lengkap di destinasi. Sehingga wisatawan tidak hanya datang ke tempat yang itu-itu saja. Terutama untuk wisatawan asing.

“Sekarang, sudah saatnya, pariwisata di kabupaten/kota di DIY itu harus terintegrasi dan terorkestrasi dengan baik. Tidak lagi berpikir parsial atau sendiri-sendiri. Namun, berpikir pariwisata Jogja secara utuh,” tegasnya.

Resistensi masyarakat di musim liburan

Kepala Pusat Studi Pariwisata (Puspar UGM) Dr. Mohammad Yusuf, MA mengatakan, selama ini untuk mengukur titik jenuh pariwisata di sebuah daerah, Puspar secara konseptual selalu merujuk pada carrying capacity atau daya dukung maksimal yang bisa diberikan oleh sebuah destinasi.

Carrying capacity minimal terdiri dua aspek utama: physical dan socio-cultural. Jika melihat persebaran titik atraksi wisata di DIY secara physical, ada beberapa titik yang sangat jelas melebihi carrying capacity, khususnya di kawasan kota. Dampaknya, banyak titik macet, banjir, dan kekeringan,” kata M Yusuf kepada Mojok, Sabtu (26/3/2023). 

Lebih lanjut M Yusuf mengatakan, secara socio-cultural, resistensi yang dari masyarakat Jogja menunjukkan sangat jelas bahwa pembangunan kepariwisataan di Joga, khususnya di musim liburan, telah melebihi carrying capacity.

Libatkan masyarakat lokal lebih banyak

M Yusuf memberikan kemungkinan solusi yang bisa dilakukan oleh Pemda DIY, salah satunya perlu kajian carrying capacity di setiap atraksi utama dan beberapa atraksi pendukung. Perlu persebaran atraksi sehingga tidak menumpuk di beberapa titik utama. 

Serta, lebih mementingkan kualitas ketimbang kuantitas. Peningkatan kualitas atraksi, fasilitas, dan tata kelola kelembagaan. “Sehingga pengalaman wisatawan semakin meningkat,” ujarnya. Selain itu, perlu pelibatan yang lebih luas masyarakat lokal, sehingga kue pariwisata dinikmati oleh semakin banyak orang,” papar M Yusuf.

Iklan

Ia menambahkan, perlu ada penegakan aturan yang tegas, khususnya kepada pelaku pariwisata, untuk meminimalisir penyimpangan dan pelanggaran aturan.

Pariwisata berkelanjutan

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo dalam kesempatan terpisah kepada Mojok mengatakan pariwisata berkualitas dan berkelanjutan telah masuk dalam rencana kebijakan kepariwisataan DIY periode 2022-2027. “Pariwisata berkualitas, tidak identik dengan biaya mahal. Tapi menekankan pada upaya destinasi memberikan pengalaman yang lebih daripada sebelumnya,” kata Singgih yang juga Penjabat Walikota Yogyakarta. 

Menurut Singgih, menurunnya jumah wisatawan yang datang ke Yogyakarta pada libur Lebaran 2023 kemarin, sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena, tujuan pariwisata berkualitas memang bukan mengejar kuantitas wisatawan.

Menurut Singgih, ada tiga fokus dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan di DIY.  Konservasi alam, konservasi budaya, dan konservasi sosial. “Ketiganya merupakan satu kesatuan yang menjadi tujuan untuk pengembangan konsep pariwisata ini,” ujar Singgih.

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Akui Saja, Pariwisata Jogja Memang Sudah Menemui Titik Jenuhnya

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 27 Mei 2023 oleh

Tags: pariwisaja jogjapariwisataPuspar UGMtitik jenuh pariwisatawisata jogja
Hammam Izzuddin

Hammam Izzuddin

Reporter Mojok.co.

Artikel Terkait

Mobilitas bus pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Kawasan Sumbu Filosofi (KSF) dan tata kelola di Jogja MOJOK.CO
Liputan

Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata

10 Januari 2026
Risiko ketimpangan sosial di balik gegap gempita wisata Jogja di mata guru besar Sosiologi UGM MOJOK.CO
Ragam

2 Sisi Koin Wisata Jogja: Ekonomi Berputar, Tapi Ada Risiko Ketimpangan Sosial bagi Warga Lokal dan Masalah yang Terus Berulang

1 Januari 2026
Kenorakan-kenorakan orang yang pertama kali ke Jogja dan bikin risih (Dari angkringan, Tugu Jogja, hingga Jalan Malioboro) MOJOK.CO
Ragam

Kenorakan-kenorakan Orang yang Pertama Kali ke Jogja, Niat Kelihatan Kalcer tapi “Nggak Mashok!”

20 Oktober 2025
Alasan Warga Lokal Jogja Malas Jajan Tempo Gelato yang Digandrungi Banyak Wisatawan Mojok.co
Pojokan

Alasan Warga Lokal Jogja Malas Jajan Tempo Gelato yang Digandrungi Banyak Wisatawan

30 Juli 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kekerasan kepada siswa.MOJOK.CO

Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

15 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.