Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas Ekonomi

Mengenang Pasar Ikan Giwangan yang Mati Total sebelum Jadi Besar

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Agustus 2023
A A
pasar ikan giwangan atau jogja fish market mojok.co

Ilustrasi penjual ikan laut (photo by Duangphorn Wiriya on Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pasar Ikan Giwangan, atau Jogja Fish Market (JFM), digadang-gadang bakal menjadi tempat jual beli hasil laut terbesar di Jogja. Sayangnya, kini sepi, sempat tak beroperasi, hingga akhirnya mati dan beralihfungsi.

Pasar Ikan Giwangan terletak di Jalan Tegalturi, Giwangan, Umbulharjo. Bangunan berwarna biru laut ini memang masih kokoh berdiri. Gedungnya pun juga masih tampak terawat. Namun, tak ada lagi keramaian maupun kegiatan yang merepresentasikan namanya sebagai “pasar”.

“Sempat beberapa kali lewat sana, tapi ya sepi-sepi aja, bau amis aja enggak,” kata Alam (21), pria asal Bantul yang memang kerap melewati pasar ikan ini.

“Malah tak kira tuh ini kantor dinas yang ada hubungannya sama perairan, soalnya gedungnya warna biru,” terang mahasiswa jurusan Administrasi Publik UNY ini.

Tak cuma pasarnya yang sepi. Bahkan, kios usaha terakhir yang berada di pasar ini, yakni Doeloe PIH Resto juga harus gulung tikar karena merugi.

Alhasil, pasar ini benar-benar mati dan bangunanannya kerap disewakan untuk acara-acara besar seperti resepsi pernikahan. Kalau tidak dipakai acara, pasar ini malah kalah ramai dengan warung-warung dan angkringan yang berada di sekitarnya.

Inisiatif awalnya sudah bagus

Ketika pertama kali diresmikan pada 2005 lalu oleh Kementerian Kelautan RI, niatnya Jogja Fish Market bakal jadi pusat penjualan atau pasar ikan dan hasil laut higienis pertama di Jogja.

Tujuannya pun mulia: di satu sisi ingin memudahkan masyarakat Jogja bagian utara agar tak perlu jauh-jauh ke pesisir untuk mencari ikan segar; dan di sisi lain sekaligus melebarkan sayap penjual ikan di Jogja selatan untuk mendapat pasar yang lebih luas.

Demi mengakomodasi tujuan tersebut, setahun berselang Pemkot Jogja selaku pengelola menggandeng pihak ketiga untuk menjadikan Jogja Fish Market tempat pelelangan ikan. Tempat ini pun di-rebranding menjadi Pasar Ikan Higienis (PIH) Jogja.

Jika boleh jujur, sebenarnya PIH Jogja punya segala prasyarat untuk menjadi pasar ikan modern terbesar di Jogja. Tempatnya luas, mencakup kurang lebih 9.000 meter persegi; kios-kios yang tertulis nama-nama ikan pun rapi berjajar, lengkap dengan AC; hingga tersedia juga gedung pertemuan dan arena bermain anak.

Sayangnya, panggang jauh dari api. Menurut catatan pengelola, per 2009 atau tiga tahun setelah peresmian, pihak PIH justru merugi. Pasar ikan ini sepi; yang jangankan pembeli, penjual pun minim yang mau datang kesini.

Alhasil, demi menutup biaya perawatan gedung, beberapa kios disewakan untuk restoran yang menyajikan menu ikan. Beberapa lahan juga dialihfungsikan untuk kegiatan-kegiatan seni seperti pentas wayang, hingga rapat dan resepsi pernikahan.

Sebab-sebab layu sebelum berkembang

Ada banyak faktor yang bikin satu dari 24 pasar ikan di Indonesia ini mati total sebelum menjadi besar. Kalau kata Mananger SDM dan Area Publik PIH Wigiharto, salah satunya karena promosi yang kurang gencar.

“Sejak kami mengelola, pasar ikan masih sepi karena promosi masih kurang,” ujarnya kala itu, menjelaskan alasan sepinya PIH Jogja.

Iklan

Dalam hemat Wigiharto, harusnya Pemkot Jogja bisa lebih menggenjot lagi promosi pasar ikan tersebut. Misalnya, dengan lebih sering mengadakan agenda-agenda publik di lokasi ini, hingga menawarkan ikan ke konsumen-konsumen tetap seperti hotel-hotel atau katering.

Konsumsi ikan warga Jogja itu besar. Kata Wigiharto, sehari saja bisa menghabiskan 14 ton. Sayangnya, tentu tak sebanding dengan penjualan ikan di PIH Jogja yang tiap bulan rata-rata hanya 5 ton.

Kebutuhan ikan warga Jogja, kalau kata Wigi, mayoritas memang dari wilayah pantai utara Jawa, seperti Semarang dan Jepara.

Selain kurangnya promosi, faktor lain yang bikin lini usaha ini sepi adalah susahnya membawa pedagang ikan dari pantai selatan Jogja ke PIH.

Menurut Wigi, meskipun sewa kiosnya gratis, banyak penjual ikan yang enggak pede berjualan di PIH. Mereka lebih senang berjualan hasil laut di pasar tradisional yang sudah eksis karena memang jualan ikan bukanlah bisnis umum.

Para pedagang ikan, kata Wigi, tidak mau gambling karena bisnis ikan butuh itung-itungan yang matang.

“Operasional pedagang ikan itu besar, sementara resiko tinggi. Kalau tidak laku malah mereka rugi karena ikan tidak bisa bertahan lama. Jadi menjualnya di tempat yang pasti-pasti aja,” ungkapnya.

Akhirnya, jadilah pasar ikan di Giwangan itu seperti sekarang ini: mati segan hidup pun susah. Dibilang mati, tapi kok sebagian gedung masih beroperasi; mau lanjut hidup tapi sepi pembeli.

Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Riwayat 5 Bioskop Mati di Jogja, Ada yang Berubah Jadi Teras Malioboro

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2023 oleh

Tags: ikanIkan LautPasar IkanPasar Ikan Giwangan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Reporter Mojok.co

Artikel Terkait

Iwak Kali Bu Jasman, Hidden Gems Langganan Emha yang Ramainya Pernah Kalahkan Soto Kadipiro MOJOK.CO
Kuliner

Iwak Kali Bu Jasman, Warung Langganan Emha Ainun Najib yang Ramainya Pernah Kalahkan Soto Kadipiro

31 Januari 2024
Pasar Ikan Higienis, Proyek Nasional yang Gagal Hidupkan Ekonomi Jogja Selatan  MOJOK.CO
Ragam

Pasar Ikan Higienis, Proyek Nasional yang Gagal Total Hidupkan Ekonomi Jogja Selatan 

31 Januari 2024
ikan wader major.co
Sosial

Guru Besar UGM: Ikan Wader Rentan Punah, Kok Bisa? 

10 Mei 2023
kuota penangkapan ikan mojok.co
Ekonomi

Potensi Perikananan di Indonesia Menurun, Kuota Penangkapan Ikan Nelayan Dibatasi

27 Februari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo, Tak Cuan Bisnis Melayang MOJOK.CO

Dua Kisah Bisnis Cuan, Sisi Gelap Bisnis Es Teh Jumbo yang Membuat Penjualnya Menderita dan Tips Memulai Sebuah Bisnis

15 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Keluar dari organisasi mahasiswa ekstra kampus (ormek) PMII, dicap pengkhianat tapi lebih sukses MOJOK.CO

Nekat Keluar PMII karena Tak Produktif: Dicap Pengkhianat-Nyaris Dihajar, Tapi Bersyukur Kini “Sukses” dan Tak Jadi Gelandangan Politik

13 Januari 2026
Film Suka Duka Tawa mengangkat panggung stand-up comedy. MOJOK.CO

“Suka Duka Tawa”: Getirnya Kehidupan Orang Lucu Mengeksploitasi Cerita Personal di Panggung Komedi demi Mendulang Tawa

13 Januari 2026
2016, Tahun Terakhir Gen Z dan Milenial Merasa Berjaya. MOJOK.CO

2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.