Zara, Posting Video Pribadi Emang Hak Kamu, tapi Hak Itu Nggak Bebas Konsekuensi kalis mardiasih mojok.co

Aa Gym dan Riwayat Mangkelnya Ibu-ibu

Minggu lalu, ibu-ibu di jagad maya heboh setelah Aa Gym berkomentar di depan publik, “Istri saya sudah saya nikahi 19 tahun, sudah turun mesin tujuh kali.”

Gimana, ya. Sebetulnya riwayat mangkelnya Ibu-ibu dengan Aa Gym itu sudah ditabung sejak lama sekali. Pertama kali, saat Aa Gym poligami pada tahun 2006. Kedua kali, saat Aa Gym menggugat cerai Teh Ninih pada tahun 2011. Mereka berdua kemudian rujuk setahun kemudian.

Dan kali ini, ada isu Aa Gym kembali menggugat cerai Teh Ninih. Gugat cerai yang kali ini ramai kembali, sebab anak laki-laki Aa dan Teh Ninih turut berbagi cerita di media sosial. Gaza membagi informasi kepada publik bahwa ternyata selama kurang lebih 15 tahun, ia telah terbiasa melihat ibunya menjadi korban kekerasan verbal Aa Gym.

Pantas saja ketika tersiar rekaman suara Aa yang mengatakan bahwa Teh Ninih sudah turun mesin tujuh kali, ibu-ibu pun makin tak terbendung kesalnya. Turun mesin, adalah kiasan yang biasa dipakai untuk menggambarkan menurunnya kualitas atau performa seksualitas seseorang.


Jika ditujukan kepada seorang istri, ungkapan turun mesin tujuh kali tersebut bermakna istri tersebut sudah mengandung dan melahirkan tujuh kali, dan kondisi tersebut berpengaruh kepada performa seksnya.

Apakah layak seorang suami berucap istri turun mesin?

Tergantung niatnya, apa sebetulnya yang ingin ditunjukkan dari ucapan tersebut. Para jamaah yang pro Aa sih membela dengan menyebut bahwa ungkapan “turun mesin” itu biasa dipakai sebagai candaan dan amat biasa diungkapkan oleh bapak-bapak di tongkrongan.

Baca juga:  Wisata Akidah Bersama al-Ghazali: Tuhan yang “Tan Kinaya Ngapa”

Turun mesin jelas punya makna peyorasi yang bernuansa patriarkis.

Jika ingin menunjukkan bahwa hubungan yang dijalani sudah sangat lama, apakah tak lebih baik mengungkapkan, “sepanjang 19 tahun ini, istri saya adalah pasangan dan ibu dari tujuh anak yang performanya dalam relasi domestik maupun publik, tak pernah turun.”

Yang begini seharusnya pujian dari seorang suami saleh.

Akan tetapi, yang jelas, “turun mesin” dalam sebuah hubungan, jika merujuk kepada performa seksualitas, seharusnya tak hanya dialami oleh perempuan, akan tetapi juga laki-laki sebagai pasangannya.

Akan tidak adil jika istri dianggap turun mesin sebab tubuhnya mengalami kehamilan dan melahirkan, dilanjut dengan proses menyusui jabang bayi, sedangkan pihak laki-laki merasa tetap performative dan tetap utuh mesinnya sebab tubuhnya tidak menjalankan pengalaman reproduksi yang panjang, berat, rentan dan kepayahan.

Terlebih, dalam kasus Aa Gym, semua hal jadi serba sensitif. Belasan tahun lalu, khalayak protes karena Aa menikah dengan perempuan yang lebih muda.

Jadi, alangkah lebih tidak adil lagi, jika istri “pertama” yang dianggap turun mesin ini ternyata punya pembanding, yaitu perempuan lain yang lebih cantik atau lebih muda, yang tak menjalankan pengalaman biologis seberat yang dijalani istri “muda”.

Saya pribadi, mungkin memilih untuk mengajukan permintaan kepada pasangan saya kelak, untuk tidak menggunakan istilah turun mesin. Tubuh perempuan yang hamil itu tidak turun. Rahimnya jadi kuat secara alami.

Baca juga:  Adakah Poligami yang Ideal?

Semua bagian di tubuhnya jadi kuat secara alami karena mesti berbagi nutrisi untuk seorang bayi manusia dalam dirinya. Baik melahirkan per vaginam maupun lewat metode sesar, mesin seorang Ibu tak pernah turun.

Mesin dalam tubuh perempuan bersiaga mulai dari kontraksi otot rahim, diikuti dengan pembukaan leher rahim (serviks) secara bertahap. Dan setelah itu, otot panggul ibu akan mendorong bayi dan plasenta ke luar melalui vagina. Sebuah kerja reproduksi yang amat luar biasa.

Tepat setelah bayi hadir di pelukan Ibu, tubuhnya pun langsung mengeluarkan air susu, sumber kehidupan. Kekuatan demi kekuatan, terus dihadirkan.

Saya lebih senang jika kelak suami saya menggunakan istilah biologi atau istilah ilmiah saja.


Seperti, “Istriku sedang menjalankan pengalaman reproduksinya,” atau, “Istriku sedang sakit untuk sistem reproduksinya….”

Dan saya, sangat berterima kasih jika segala konsekuensi akibat pengalaman reproduksi itu disadari sebagai pengalaman bersama. Dua tubuh dan dua jiwa. Bukan satu pihak saja.

Ketika istri hamil, katakanlah, “ketika kami hamil…”

Ketika istri menyusui, katakanlah, “kami sedang berbahagia menyusui….”

Salam buat semua Ibu di dunia yang selalu tangguh.


Kamu bisa baca kolom Kelas-Kalis lainnya di sini. Rutin diisi oleh Kalis Mardiasih, tayang saban hari Minggu.