Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

NU Memang Ormas Penuh Humor, Beda dengan Muhammadiyah

Ilham Ibrahim oleh Ilham Ibrahim
26 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Konon Muhammadiyah itu nggak ada lucu-lucunya, beda dengan NU yang dari tokoh sampai akar rumput bisa selo dan lucu semua. Jadi kalau tulisan ini nggak lucu, dimaklumi ya?

Saya kader Muhammadiyah yang sebenarnya cukup pesimis tulisan ini akan lulus dimuat di Mojok dengan alasan tidak lucu. Sebab sebagai kader dari ormas yang lahir di desa Kauman ini, harus saya akui orangnya banyak yang serius-serius. Nggak bisa diajak guyon, sedikit-sedikit kembali ke Al-Quran dan As-Sunnah, wah pokoknya kaku.

Sedikit banyak, stereotip seperti itu memengaruhi saya yang tadinya—menurut kedua orang tua saya—saya ini anak yang lucu, eh lama-lama kok jadi anak yang serius juga waktu udah gede gini.

Beda dengan anak-anak muda NU yang lucu-lucu, humornya selalu tepat, punchline-nya sering kena, joke-jokenya sering tak terduga, pokoknya garing tidak memiliki tempat yang aman di ormas yang didirikan oleh KH. Hasyim Asyari ini.

Sampai-sampai ada yang bilang bahwa untuk memimpin ormas sebesar NU selain harus memiliki kematangan hati dan pikiran, juga harus punya sense of humor yang tinggi. Singkatnya, NU tanpa humor itu contradictio in terminis.

Misalnya, Gus Dur dikenal memiliki kekayaan humor yang tak pernah habis di samping dikaruniai kecerdasan yang jauh melampaui orang kebanyakan.

Saya juga sering menyimak kajian KH. Said Aqil Siradj berisi tentang pencerahan untuk umat dan kaya akan humor. Setiap mendengarkan celotehan beliau, saya pasti tertawa terpingkal-pingkal.

Salah satu contoh celotehan yang sempat viral adalah saat KH. Said bergurau kepada mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Din Syamsuddin di hadapan Presiden Jokowi pada Juli 2018 silam.

“Yang saya muliakan, Bapak Presiden RI, Insinyur Haji Joko Widodo. Para Menteri Kabinet Kerja, Menteri Agama Lukman Hakim. Bapak Gus Din Syamsyuddin, Mantan Ketua IPNU Cabang Bima,” seloroh KH. Said Aqil saat sambutan yang diikuti tawa hadirin.

Ya, asal diketahui saja Prof. Din Syamsyuddin ini memang pernah jadi Ketua IPNU, tentu banyak hadirin yang tertawa karena baru tahu, atau sudah tahu tapi merasa pernyataan itu jadi ejekan halus. Akan tetapi balasan mantan Ketum Muhammadiyah ke Ketum PBNU tersebut nggak kalah telak.

“Tadi Bapak Aqil Siradj menyebut saya mantan Ketua IPNU cabang Sumbawa. Saya sungguh tersanjung dan secara subjektif ini adalah pengakuan saya masih warga NU. Dan secara subjektif pula, saya merasa ini dukungan bagi saya mencalonkan jadi Ketua Umum PBNU yang akan datang.”

Jelas hadirin semakin ketawa lagi mendengarnya.

Tuh lihat, jangankan KH. Said Aqil, Prof. Din Syamsuddin yang cuma sempet jadi Ketua IPNU Cabang Bima saat muda saja sudah bisa melucu seperti itu. Apalagi yang dari kecil sampai sekarang tetap NU. Bisa dibayangkan bukan?

Tetapi, tentu ini bukan hanya gaya khas KH. Said saja, semua Kiai NU kalau menyampaikan ceramah, penuh humor, dan kelucuan. Ini sudah jadi pemahaman umum.

Iklan

Bukan hanya kaum elite NU, anak-anak muda NU juga memang punya gaya humor yang khas dan berkelas. Saya sering nongkrong dengan anak-anak muda NU yang humornya tidak hanya menghadirkan tawa tapi juga mendatangkan inspirasi.

Contoh paling mudah adanya NU Garis Lucu. Walau pun kelahiran NU Garis Lucu sebagai respons terhadap sebagian golongan NU yang nggak asik lagi (NU Garis Lurus), tapi postingan-postingan mereka di twitter maupun di instagram selalu menghadirkan humor yang cerdas, mengajak kita berpikir, dan satu hal yang menjadi keunggulan mereka dibanding lembaga humor lainnya adalah jarang menyakiti siapa pun.

Misalnya humor ini: #FatwaTanggalTua “Bila bertemu kotak amal, berhentilah sejenak. Berikan senyuman terbaikmu. Sebab senyum itu sedekah.”

Sebaliknya, Muhammadiyah boleh berbangga dengan sederet aset amal usaha yang melimpah. Sekolah berdiri di pelosok-pelosok, rumah sakit, dan perguruan tinggi ada di mana-mana. Akan tetapi karena terlalu serius dengan pembangunan, harus saya akui kami belum dapat menyaingi kelucuan NU yang mahakaya.

Baru setelah Muhammadiyah mendapat kritikan tajam dari salah seorang social influencer kelas wahid sekelas Mas Iqbal Aji Daryono, lahirlah Muhammadiyah Garis Lucu sebagai jawaban. Nah, kehadiran akun tersebut diharapkan mampu mencairkan suasana internal Muhammadiyah yang kadang seriusnya kelewatan. Namun dari kelahirannya sampai sekarang, yaelah, sumpah demi apa pun, fanspage itu nggak ada lucu-lucunya!

Saya sendiri sebagai kader Muhammadiyah sejak dalam kandungan sampai sekarang belum mampu menciptakan gaya humor yang sedemikian khas dan berkelas, apalagi menginspirasi, selayaknya teman-teman NU.

Sejak kecil kita dicecoki Himpunan Putusan Muhammadiyah yang isinya doktrin untuk tidak melakukan qunut saat salat subuh karena itu perbuatan bidah! Merokok dan ziarah kubur hukumnya haram! Kebayang nggak gimana seriusnya kita ini? Huvt.

Di sisi lain, saya lihat kualitas humor NU semakin sempurna pasca pembakaran bendera HTI di Garut beberapa waktu silam. Karena NU bukan tipikal ormas yang suka dengan hal-hal yang serius, saya jadi tahu, pembelaan yang sempat keluar—meski akhirnya minta maaf—mereka sampaikan terkait masalah ini saya yakin hanya sebagai lucu-lucuan saja.

Coba sekarang Anda bayangkan betapa lucunya kalau dibilang pembakaran bendera HTI itu untuk memurnikan kalimat tauhid? Bandingkan dengan tokoh GP Anshor lain yang bilang kalau bendera HTI itu tercecer sehingga perlu diamankan.

Tentu kita bertanya, mengapa bendera itu tidak disimpan saja di tempat yang aman tanpa harus dibakar? Tapi karena aksi ini spontan saja, ya di situ barangkali letak kelucuannya. Namanya juga aksi spontan ya kan?

Belum lama ini juga PBNU meminta agar Muhammadiyah dan MUI tidak membuat suasana jadi semakin resah. Tentu kita jadi bertanya-tanya, memangnya yang belakangan membuat kita sedang resah begini itu siapa?

Kalau Anda mau bilang kalau pernyataan tokoh-tokoh NU itu serius, contradictio in terminis.

Tenang, ini cuma usaha saya untuk bikin lucu-lucan aja kok. Kalau ternyata nggak lucu ya maaf, kan tadi sudah saya bilang, saya ini kader ormas yang nggak ada lucu-lucunya.

Terakhir diperbarui pada 25 November 2019 oleh

Tags: bakarbenderaDin SyamsuddinHTIKH. Hasyim Asy'ariMuhammadiyahnusaid aqilviral
Ilham Ibrahim

Ilham Ibrahim

Artikel Terkait

Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO
Sehari-hari

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Tarawih di masjid Jogja
Ragam

Berburu Lokasi Tarawih sesuai Ajaran Nahdlatul Ulama di Jogja, Jadi Obat Kerinduan Kampung Halaman di Pasuruan

18 Februari 2026
Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO
Esai

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers MOJOK.CO
Esai

Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

6 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026
Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
Wawancara beasiswa LPDP

Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

20 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP prasejahtera asal Ngawi lolos S2 di UGM Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Pernah Hidup dari Belas Kasih Tetangga, Anak Muda Asal Ngawi Lolos Beasiswa S2 LPDP UGM padahal Merasa “Tidak Pantas”

23 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.