Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Sori Suzuki Smash, yang Gesit Irit Itu Supra X 125, Bukan Kamu

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
7 Juli 2017
A A
supra x 125 mojok

supra x 125 mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dulu saya pacaran naik angkot, jemput pacar pun pakai angkot. Si doi berdiri di depan gang rumahnya, saya menghampiri dengan melambaikan tangan melalui pintu angkot sembari berseru,

“Kiriiii!”

Untunglah sopir angkotnya tidak fobia palu arit sehingga pas saya bilang kiri, nggak dicap komunis. Sang sopir hanya menepikan angkotnya supaya pacar saya bisa lompat ke dalam angkot. Kata kiri yang keluar dari mulut saya tidak membuat penumpang berkurang, malah nambah.

Tapi, sejak sales motor Honda menyerang, saya nggak jemput pacar pakai angkot lagi. Saya dibelikan motor oleh Bapak setelah sebelumnya berhasil mengendarai motor blio tanpa nabrak tembok kampus sebagaimana hari pertama belajar mengemudi bersamanya.

Motor pertama saya adalah Supra X 125. Warnanya perpaduan hitam dan hijau kue talam, dilengkapi sticker One Heart di bodinya. Stiker itu mengingatkan bahwa saya hanya punya satu hati dan sudah digunakan untuk mencintai satu gadis.

Motor ini dibeli kredit. DP dibayar orang tua, cicilannya saya yang bayar dipotong gaji per bulan. Alasan orang tua berinisiatif membelikan saya motor bukan karena saya sudah kerja, tapi malah biar saya tetap kerja. Waktu itu saya sempat bosan jadi pegawai dan berniat resign untuk mengejar cita-cita sebagai Raja Bajak Laut dan menemukan One Piece, tapi Bapak mencegah.

“Kalau nggak kerja, siapa yang bayar cicilan setiap bulannya?”

Anju. Saya dijebak dengan sebuah motor kreditan.

Mau tak mau saya mengurungkan tekad berlayar dengan bendera bajak laut. Jalan ninja saya dihentikan oleh seonggok motor rakitan tahun 2013. Saya kembali bekerja dengan semangat seadanya. Setidaknya sampai cicilan motor lunas.

Setelah menggunakan motor selama berbulan-bulan, saya merasakan enaknya. Yang dulu saya kesal dibelikan motor tanpa persetujuan, sekarang saya malah bersyukur punya orang tua pengertian. Sekarang saya bisa ke Indomaret tanpa harus jalan kaki. Bisa antar pacar ke stasiun (yang biasanya dia naik ojek, sekarang saya yang jadi ojeknya). Mau kencan nonton di bioskop, saya bisa langsung jemput di depan gang rumah pacar. Bagian jemput depan gang nggak bisa diubah walau saya sudah punya motor. Maklum, waktu itu kami backstreet. Orang tuanya nggak setuju dia pacaran dengan cowok keturunan Jawa.

Tapi, setelah putus dengan saya, mantan pacar saya ini kembali pacaran dengan cowok Jawa. Saya merasa ditipu. Sebab pacar barunya bawa Yamaha Vixion. Jangan-jangan dulu orang tuanya nggak setuju karena saya bawa Supra.

Padahal apa kurangnya Supra? Walau banyak tukang ojek yang pakai Supra, bukan berarti saya ngojek juga. Ya, kecuali sehabis nganter, dikasih duit, saya nggak nolak. Tapi, intinya Supra juga bagus. Iya, bagus! Ehm. Kayaknya.

Selama bawa motor Supra X ini saya nggak pernah ngeluarin banyak duit untuk ongkos perbengkelan. Paling banter ganti busi setiap tahun sekali. Selama empat tahun pemakaian, baru dua kali ganti aki.

Sewaktu ganti aki yang pertama, saya disalahkan oleh Bapak karena jarang memanaskan mesin motor di pagi hari sebelum berangkat kerja. Jangankan manasin motor, Pak, manasin diri sendiri aja susah. Setiap bangun tidur, seringnya saya kedinginan dan mencari kehangatan di balik selimut untuk tidur lagi. Menurut beliau, malas manasin motor adalah penyebab utama kenapa aki cepat tekor sehingga jarum di speedometer ngaco dan lampu depan remang-remang. Klakson pun bunyinya kayak curut kejepit.

Iklan

Selain nggak banyak jajan, Supra hemat bensin. Ngisi Pertamax full tank tak sampai 30 ribu rupiah, bisa kuat buat seminggu. Saya nggak perlu jadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral untuk menekan anggaran BBM, cukup naik Supra. Si gesit irit boleh jadi jargon Suzuki Smash, tapi Supra-lah juaranya. Karena iritnya itulah saya jadi cinta dengan Supra. Saya nggak pernah berniat ganti motor baru selama Supra masih super dan prima. Terserah mantan dan orang tuanya ngomong apa.

Tapi, ada satu omongan teman yang sempat saya dengarkan mengenai Supra dan saya.

“Beli helm dong. Biar nggak kegedean helm. Lu jadi kayak pilot pesawat Sukhoi.”

Sejak motor keluar dari dealer, saya memang pakai helm orisinal bawaan pabrik yang warna hitam itu. Alasannya, karena saya sudah dapat helm dari sononya, kenapa harus beli? Alasan lain, helm ini nggak bikin calon maling gelap mata atau mantan maling kambuh lagi. Saya yakin nggak bakal mengalami peristiwa helm dicolong, seperti yang dialami teman saya yang hobi beli helm mahal. Kalaupun nanti amit-amit motor saya digondol maling, paling helmnya ditinggal. Lengkap dengan pesan di kertas:

“Helm pilot Sukhoi kenapa dipakai naik motor, Mas?”

Tapi, setelah berkaca di spion, saya mengiyakan kalau helm Honda yang saya pakai ini bikin saya tampak seperti pilot Sukhoi.

“Untung, lo nggak pakai jaket Honda juga. Kalau iya, fix tukang ojek pengkolan genic,” ujar teman saya lagi.

Setelah beli helm baru, saya merasa lahir kembali. Saya naik Supra dengan penuh percaya diri. Sampai akhirnya saya dapat pengganti mantan. Dengan Supra ini juga saya jalan bersamanya ke mana-mana.

Suatu hari saya diajak naik bukit oleh temannya pacar yang juga mutual friend saya di Facebook. Waktu itu kami double date. Saya bonceng pacar naik Supra. Teman dan pacarnya naik Yamaha Byson. Sewaktu nanjak bukit, si Supra merengek, nggak kuat dan ngibarin bendera putih. Sampai akhirnya Supra mundur lagi dan saya cepat-cepat menyuruh pacar di boncengan untuk turun.

Di saat itulah saya tahu, Supra memang lebih pantas menyandang jargon Suzuki, tetapi soal tenaga ia masih kalah. Apalagi jika dibandingkan dengan Yamaha yang semakin di depan.

Selanjutnya, saya nanjak bukit bersama Supra dan minta bantuan tumpangan untuk pacar. Pacar saya pun di-pick up oleh teman saya yang bawa Byson. Sejak itu saya merenung lama, apakah saya masih pantas mencintainya?

Pulangnya saya membuat keputusan sulit. Saya nggak mau ganti motor, jadi saya berniat ganti pacar dengan alasan “Kamu terlalu berat buat aku dan motorku”. Saking cintanya saya dengan Supra.

Hehe. Canda.

Disclaimer: OTOMOJOK menerima kiriman ulasan dan pengalamanmu mengenai berbagai macam kendaraan. Dari Vespa klasik sampai Marcedes-Benz, Jaguar maupun Wim Cycle, bajaj roda tiga hingga truk gandeng roda delapan sekalipun. Panjang minimal naskah 800 kata, bisa dikirimkan ke [email protected]. Jangan lupa tulis “OTOMOJOK” di subject email. Tulisan yang dimuat akan menerima honor yang lumayanlah buat DP sepeda Family untuk keponakan.

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2017 oleh

Tags: hondasupra x 125suzukiyamaha
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Motor Honda Vario 150 2026, motor tahan banting MOJOK.CO
Catatan

Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual

15 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)
Pojokan

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Vixion R, Motor Terbaik Yamaha yang Mati karena Zaman MOJOK.CO
Otomojok

Vixion R, Tamat Riwayatmu Kini: Ketika Motor Terbaik Yamaha Mati karena Perubahan Zaman

6 Januari 2026
Omong Kosong Pemuja Hujan Musuh Honda Beat dan Vario MOJOK.CO
Otomojok

Pemuja Hujan di Bulan Desember Penuh Omong Kosong, Mereka Musuh Utama Pengguna Beat dan Honda Vario

27 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Kos horor di Jogja.MOJOK.CO

5 Tahun Tinggal di Kos-kosan Horor Jogja: Gajiku Lebih “Satanis” dari Tempat Tinggalku

12 Januari 2026
Gotong royong atasi tumpukan sampah Kota Semarang MOJOK.CO

Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

16 Januari 2026
Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi "Konsumsi Wajib" Saat Sidang Skripsi

Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi

17 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.