Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Bagaimana Film Anak ‘Iqro: My Universe’ Melawan Pseudosains dan Sekulerisme dalam Sains

Haris Firmansyah oleh Haris Firmansyah
15 Juli 2019
A A
Film Anak Iqro: My Universe MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Film Anak Iqro: My Universe adalah perlawanan sekulerisme di dunia sains, serta melawan pseudosains yang belakangan marak setelah dimotori kaum bumi datar.

Film anak bergenre sains religi Iqro: My Universe sudah menghantui penonton sejak trailer-nya muncul di bioskop. Trailer filmnya diputar sebelum penayangan film Annabelle dan Toy Story.

Dibandingkan dengan Toy Story yang sama-sama film anak, film Iqro: My Universe lebih masuk akal. Setidaknya tidak ada adegan benda mati bisa hidup saat tidak dilihat manusia. Tidak seperti Toy Story, yang bikin anak berkhayal bisa berbicara dengan boneka dan mainan.

Lalu, jika dibandingkan dengan film horor Annabelle yang juga mengandung unsur religi, film Iqro: My Universe justru lebih cocok dengan penonton Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Tokoh utamanya tidak bermain dengan dunia hantu yang bagi sebagian orang hanyalah isapan jempol. Justru tokoh utamanya yang masih remaja sudah berambisi menjangkau luar angkasa. To infinity and beyond.

Bukankah ini kabar baik? Film religi dalam negeri biasanya dikaitkan dengan dunia gaib, entah itu perdukunan, hantu penasaran, atau azab-azaban. Bahkan film impor semacam Annabelle pun masih memakai metode lama. Sementara film Iqro: My Universe sudah mengantarkan genre film religi untuk anak menuju level selanjutnya: melakukan perkawinan antara iman dan sains.

Di poster filmnya, Aqila sang tokoh utama berbusana astronaut seperti Buzz Lightyear. Hal ini memicu kritik dari warganet yang menilai leher Aqila terlalu panjang. Editing yang kasar, ceunah.

Padahal itu sesuatu yang wajar terjadi di poster film Indonesia. Maklumi sajalah. Toh, di poster film Si Doel, kepala Rano Karno juga lebih gede daripada kepala Mandra dan Atun.

Selain desain poster, trailer filmnya juga kena cibiran kritikus karena sebuah dialog;

Seorang akhi: “Siapa astronaut pertama di dunia?”

Aqila: “Yuri Gagarin?”

Seorang akhi: “Nabi Muhammad SAW.”

Nabi Muhammad diyakini oleh sang akhi sebagai astronaut pertama di dunia karena peristiwa Isra Mi’raj. Nabi Muhammad telah menembus langit ketujuh, jauh sebelum Neil Armstrong bisa mendarat di bulan.

Pernyataan tersebut dianggap keliru karena Nabi Muhammad bukan astronaut. Dilansir dari Wikipedia, definisi astronaut atau antariksawan adalah orang yang telah menjalani latihan dalam program penerbangan antariksa manusia untuk memimpin, menerbangkan pesawat, atau menjadi awak pesawat antariksa.

Sementara kendaraan yang menjadi tunggangan Nabi Muhammad dari masjid al-Aqsa menuju Mi’raj adalah buraq. Buraq bukan termasuk pesawat antariksa, melainkan sesosok makhluk berwujud binatang dengan kecepatan kilat yang diciptakan oleh Allah dari cahaya.

Iklan

Jawaban Aqila juga kurang tepat. Bisa dibilang Yuri Gagarin bukan astronaut. Sebab astronaut hanya digunakan untuk menyebut antariksawan asal Amerika Serikat. Sementara Yuri Gagarin berasal dari Rusia atau Uni Soviet, maka ia disebut kosmonaut. Nah, kalau orang China beda lagi sebutannya: taikonaut.

Kalau umat sampai tahu fakta ini, tentu tidak terima Nabi Muhammad disamakan dengan orang Amerika.

Namun, konteks pesan yang ingin disampaikan film ini tentunya tidak sedetail itu. Kalau boleh menyimpulkan, amanat dari dialog itu: boleh saja kita mengandalkan ilmu, tapi jangan lupa dengan iman. Ilmu memang bisa mengantarkan manusia pergi ke bulan. Namun, dengan iman, manusia bisa dibawa menembus langit ketujuh dalam semalam dan bertemu dengan Sang Pencipta.

Film Iqro: My Universe bisa menjadi jawaban untuk sekulerisme dalam sains: jangan bawa-bawa agama ke dalam sains. Dalam sejarahnya, agama dan sains memang sering kali berbenturan. Misalnya, asal-usul manusia versi teori Charles Darwin yang tidak sesuai dengan isi kitab suci. Ketika mempelajari keduanya, seorang manusia akan bingung dengan leluhurnya. Jadi, nenek moyang manusia itu Nabi Adam atau monyet yang berevolusi?

Film ini mengamanatkan bahwa iman bisa berdampingan dengan ilmu. Seseorang yang iman dan ilmunya seimbang tentu akan mudah menjalani hidup dan mengejar cita-cita.

Dalam sejarahnya, sains berguna untuk menjalankan perintah agama. Contohnya, ilmu astronomi yang dipakai untuk menentukan awal bulan puasa dan hari lebaran.

Di sisi lain, kisah Aqila si muslimah cilik ini juga melawan pseudosains yang belakangan marak setelah dimotori kaum bumi datar. Aqila percaya bumi itu bulat, maka ia bermimpi menjadi astronaut.

Seandainya Aqila tergabung dalam Flat Earth Society, tentu ia menganggap bumi itu datar. Alih-alih berambisi jadi aktor astronaut NASA, Aqila justru ingin meruntuhkan dominasi konspirasi elite global. Aqila berencana menyibak misteri Antartika yang ditengarai dijadikan pangkalan militer Amerika Serikat.

Di filmnya, Aqila punya mimpi jangka panjang, yakni ingin mencari planet hunian baru selain Bumi. Sementara Aqila versi Bumi Datar, bakalan melakukan penjelajahan ke Antartika. Sebab, menurut kanal YouTube komunitas Bumi Datar, di balik Antartika ada sumber daya alam yang belum terjamah manusia. Konon, daratan impian itu ingin dikuasai sendiri oleh Amerika Serikat.

Sebagai film anak, Iqro: My Universe mengajak anak-anak untuk berani bercita-cita dan giat untuk mewujudkannya. Bagaimanapun rintangannya, seorang pejuang mimpi harus tangguh melaluinya. Obsesi Aqila dengan luar angkasa adalah simbol cita-cita anak Indonesia. Masa depan sebuah bangsa yang perlu diakomodir oleh negara.

Seperti anime Captain Tsubasa yang mampu membangkitkan dunia persepakbolaan Jepang, film Iqro: My Universe bisa saja melahirkan astronaut-astronaut baru yang terinspirasi dengan cerita perjuangan Aqila. So, jangan pernah remehkan kekuatan cerita fiksi.

Namun, sebagian ibu-ibu, alih-alih mengajak anak-anaknya menonton film anak, justru sibuk menolak film Dua Garis Biru—padahal mah, memang bukan ditujukan untuk anak-anak. Lantaran film yang dibintangi Zara JKT48 itu menghadirkan cerita anak SMA yang hamil di luar nikah, sehingga dikatakan mengajarkan yang tidak-tidak.

Hmmm.

Orang yang menolak Dua Garis Biru, tapi juga nggak menyerukan untuk nonton film Iqro: My Universe yang memenuhi standar religiusitas dan moralitas mereka, itu sama sekali tidak membantu perfilman Indonesia.

Terakhir diperbarui pada 15 Juli 2019 oleh

Tags: film anakfilm indonesiaIqra My Universepseudosainssekulerisme
Haris Firmansyah

Haris Firmansyah

Pegawai Bank Ibukota. Selain suka ngitung uang juga suka ngitung kata.

Artikel Terkait

Sinefil.MOJOK.co
Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

9 Februari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO
Catatan

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara dalam Mobil! Mojok.co
Pojokan

Film Tukar Takdir Nggak Sekadar Adegan Mesra Nicholas Saputra dan Adhisty Zara!

8 Oktober 2025
Pabrik Gula lempeng. MOJOK.CO
Ragam

Mengulik Kejadian Nyata dari Pabrik Gula, Film Horor yang Alur Ceritanya “Lempeng-lempeng” Saja

7 April 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Mahasiswa Pariwisata UGM Jogja belajar dari kepala suku di Raja Ampat, lebih dari ilmu kuliah

Mahasiswa UGM Belajar Kehidupan dari Kepala Suku di Raja Ampat, Merasa “Kecil” karena Ilmu di Kuliah Sebatas Teori tanpa Aksi Nyata

13 Maret 2026
Brio, Mobil Honda Paling Menderita Sepanjang Sejarah MOJOK.CO

Brio Adalah Mobil Honda Paling Menderita: Sering Dihina Murahan, tapi Sebetulnya Paling Ideal Menjadi Mobil Pertama Bagi Anak Muda yang Tidak Takut Cicilan

12 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.