Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Stephen Hawking versus Kaum Bumi Datar

Hasanudin Abdurakhman oleh Hasanudin Abdurakhman
15 Maret 2018
A A
ilustrasi Menjawab 4 Pertanyaan Logika yang Terasa Tidak Penting tapi Sangat Mendasar mojok.co

ilustrasi Menjawab 4 Pertanyaan Logika yang Terasa Tidak Penting tapi Sangat Mendasar mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Stephen Hawking bikin kontroversi ketika bilang tak ada peran Tuhan dalam penciptaan semesta. Dia jelas salah. Buktinya, ia tak pernah (berani?) berdebat terbuka dengan Dr. Zakir Naik.

A Brief History of Time, buku Stephen Hawking yang paling terkenal, ditulis dengan cara menceritakan seorang astronom yang sedang memberi kuliah tentang alam semesta.

Astronom itu bercerita tentang bagaimana Bumi dan planet-planet lain membentuk sistem tata surya, tata surya yang merupakan bagian dari galaksi, dan galaksi yang merupakan bagian dari alam semesta mahaluas. Di akhir kuliah, ada seorang perempuan tua yang mendatangi astronom tadi dan mengomel, “Semua cerita yang kau sampaikan dalam kuliah tadi sampah semua. Yang benar adalah, dunia ini datar seperti piring dan berada di atas punggung seekor kura-kura raksasa.”

“Tapi kura-kura itu sendiri berdiri di atas apa?” tanya si astronom tadi.

“Ia berdiri di atas kura-kura juga. Kura-kura di bawahnya juga berdiri di atas punggung kura-kura yang lain. Begitu seterusnya, terus ke bawah.”

Laksana seorang ilmuwan kafir yang mencoba mendebat Dr. Zakir Naik, astronom tadi kehilangan kata-kata. Setelah menulis panjang lebar tentang potret alam semesta dari jagat makrokosmos sampai jagat kuantum serta membahas superstring, di bagian akhir bukunya Hawking menegaskan bahwa yang ia tulis itu hanyalah sebuah teori tentang alam semesta. Ini potret alam semesta menurutnya. Sama pula dengan teori Bumi datar di atas punggung kura-kura tadi, itu juga sebuah teori. Jangan tertawakan teori itu, misalnya, dengan alasan bahwa tak seorang pun pernah melihat kura-kura yang dimaksud. Toh sama saja, tak seorang pun pernah melihat superstring. Singkatnya, Hawking mengakui bahwa sepintar-pintarnya dia, tetap saja dia tidak bisa membantah teori yang disusun kaum Bumi datar.

Alih-alih memperkuat argumennya tentang teori alam semesta yang ia ajukan, Hawking malah membuat blunder di bukunya yang kedua yang ditulis bersama Leonard Mlodinow, The Grand Design, dengan mengatakan bahwa alam semesta tak memerlukan Tuhan untuk tercipta alias Tuhan tidak terlibat dalam penciptaan alam semesta. Ini jelas sebuah pelecehan terhadap teori Bumi datar. Sebab, teori Bumi datar jelas sekali mengedepankan peran Tuhan. Dunia ini berada di atas punggung kura-kura, dan tentulah kura-kura itu ciptaan Tuhan.

Kita bisa anggap saja provokasi Hawking di The Grand Design itu tak lebih dari usaha dia untuk jualan buku. Saya pernah dibisiki seorang teman tentang resep menulis buku laris. “Kalau kamu menulis buku tentang sains, bawalah Tuhan dan agama ke dalamnya. Kalau kamu menulis buku tentang agama dan Tuhan, bawalah sains ke dalamnya. Dijamin, buku-buku seperti itu akan laris.”

Benar saja. A Brief History of Time dikabarkan sangat laris, terjual hingga 10 juta kopi. Buku ini bahkan dinobatkan sebagai buku yang “paling banyak dibeli, tapi paling sedikit dibaca”. Jadi, boleh dibilang bahwa buku Hawking ini lebih banyak menjadi pajangan di lemari buku, dibeli orang dengan tujuan gengsi biar dianggap pintar. Padahal paham juga tidak, walau Hawking sendiri sudah berusaha menulis untuk dicerna semudah mungkin. Ia sengaja tidak menuliskan persamaan matematika dalam buku itu. “Satu persamaan matematika akan membuat separuh dari calon pembaca lari, tidak jadi membeli,” saran editor buku Hawking. Akhirnya Hawking hanya menulis satu persamaan saja, yaitu E = MC2. Kalau dia bisa menghindarkan persamaan itu, seharusnya bukunya terjual 20 juta eksemplar.

Bagi saya, blunder di The Grand Design tadi adalah kegagalan terbesar Hawking. Ia terlalu memuja akal dan menyembah matematika. Teorinya menjadi terlalu rumit, terlalu eksklusif. Bahkan boleh dibilang terlalu mengada-ada. Sudah sangat jelas bisa kita amati dengan mata telanjang bahwa Bumi ini datar, tapi dia mati-matian membantahnya. Padahal pembuktiannya sangat sederhana. Kalau Bumi ini bulat, tentulah air laut itu akan tumpah. Coba simulasikan dengan menyiramkan air ke permukaan bola, airnya tumpah, bukan? Sedangkan kalau kita tuangkan di atas piring datar, air tidak akan tumpah. Bukti sederhana seperti ini tidak diakui oleh Hawking.

Hal lain yang sangat disayangkan adalah sampai akhir hayatnya, sampai kemarin ketika ia wafat, Hawking tak pernah mendapat kesempatan untuk bertemu dan berdebat dengan Dr. Zakir Naik. Ini sangat disayangkan. Kalau ia berdebat, kita semua tahu hasil akhirnya. Hawking akan kalah, pulang ke rumah, dan mendapat hidayah. Tapi perdebatan itu tidak pernah terjadi.

Mungkin ini bagian dari skenario kaum ateis sekuler. Mereka mencegah terjadinya pertemuan antara Naik dan Hawking karena takut kehilangan muka. Kalau Hawking kalah, yang malu bukan hanya Hawking, tapi seluruh ilmuwan sekuler ateis. Saya tadinya sempat berharap terjadinya debat legendaris itu. Bertahun-tahun saya menunggu kejadian historis itu, peristiwa yang akan membuat Royal Society dan American Physical Society terguncang! Sayang, itu tidak terjadi.

Para penerus Hawking jelas tidak punya nyali untuk berdebat. Jadi, apa boleh buat, kita semua harus berhenti berharap dan berkesimpulan, Zakir Naik telah menang WO atas Hawking.

Terakhir diperbarui pada 15 Maret 2018 oleh

Tags: a brief history of timeateisStephen Hawkingthe grand designTuhanzakir naik
Hasanudin Abdurakhman

Hasanudin Abdurakhman

Artikel Terkait

Cerita Mereka yang Berhasil Stop Main Judi Online Setelah Kehilangan Segalanya: Kalah Puluhan Juta, Ingin Resign dari PNS, Tapi Bisa Taubat Gara-Gara Grup Facebook.MOJOK.CO
Esai

Tentang Sebuah Kampung yang Ketagihan Judi Togel

4 Januari 2024
Tuhan, Mengapa Saya Terlahir Menjadi Manusia Seperti Ini? MOJOK.CO
Kilas

Tuhan, Mengapa Saya Terlahir Menjadi Manusia Seperti Ini?

25 Desember 2023
Mungkin Tuhan Menamparku, Cinta Perempuan itu Bukan Untukku. MOJOK.CO
Kilas

Mungkin Tuhan Menamparku, Cinta Perempuan itu Bukan Untukku

4 Juni 2023
Tuhan Itu Apa
Esai

Bapak, Tuhan Itu Apa?

14 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang MOJOK.CO

Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

20 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.