Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Godaan Melecehkan Agama, dari PKI hingga Charlie Hebdo

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
10 Januari 2015
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“… adalah satu kenjataan bahwa partai2 Nasionalis dan Komunis di Indonesia tidak melakukan propaganda anti-agama; baik tentang al Qur’an, tentang mesjid, tentang isteri Nabi, tentang geredja, dan tentang hal2 agama pada umumnja” ~ Editorial Harian Rakjat/PKI, Februari 1965

Teror mengerikan yang menimpa tabloid Charlie Hebdo (CH) di kota yang melahirkan prinsip universil “Liberté, Egalité, Fraternité” menjadi frontpage dari 400-an koran di semua benua di muka bumi ini. Dengan mengusung jurnalisme satir, pemuatan secara berulang-ulang karikatur yang melecehkan keyakinan orang lain, para jurnalis “left wing” yang bekerja di belakangnya menerima serangan balik paling mematikan dan menggegerkan dunia.

Sayap-kiri dan anti-agama, begitu CH diidentikkan, kembali mengusik dan mengganggu ingatan historis kita. Di Indonesia, sayap-kiri paling gahar itu Partai Komunis Indonesia (PKI). Dan mereka secara laten diidentikkan dengan rombongan besar yang menganut politik anti sila pertama Pancasila.

Untuk mengetahui sejarah sehari-hari PKI, terutama generasi ketiga di bawah kepemimpinan politbiro D.N. Aidit, saya membaca secara tekun koran yang mereka terbitkan. Koran itu merekam apa yang mereka kritisi, dan bagaimana mereka mengambil tindakan lewat ucapan propaganda terhadap masalah yang berada di depan mata.

Dari 12.500 halaman Harian Rakjat; dan ada 3.500 editorial Harian Rakjat yang sudah diketik ulang di Warung Arsip, saya masih belum juga menemukan bahwa PKI secara sengaja dan berulang-ulang dengan ekstase yang membuncah-buncah melecehkan agama atau figur yang di-suci-kan umatnya.

Ada memang drama “Matinya Gusti Allah” yang dipentaskan keliling di Jawa Tengah, tapi ini anomali di antara ribuan karya kreatif yang diciptakan PKI atau mereka yang merasa sreg dengan garis ideologi dan politik yang diusung partai ini.

Puisi, cerpen, novel, pidato, drama, lirik lagu, karikatur, dan lusinan statemen politik dalam debat dan demonstrasi hampir tidak berurusan dengan keyakinan agama yang disucikan penganutnya.

Kalaupun terarsir dengan kiai, ulama, Darul Islam, Masjumi, itu bukan karena perkara pokoknya pada sentimen anti-agama, melainkan relasi ekonomi-struktural dalam proyek rebutan konstituen dan agraria yang dicanangkan politbiro dan commitee central.

Bagi PKI dan fans-nya, mengolok-olok dan melecehkan agama lewat editorial dan pictorial bukan saja kontraproduktif bagi perjuangan politik, melainkan juga cari mati secara konyol. Selain itu, melecehkan agama adalah pelecehan pada iman konstituennya yang notabene kebanyakan beragama samawi.

Maka ketika pada Januari 1965 ada isu berhembus dari Kanigoro, Kediri—dan ini yang terpanas yang saya bisa temukan—bahwa PKI injak-injak Kitab Suci, masuk rumah yang di-suci-kan dengan memakai alas kaki, PKI dan Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Front Nasional Jawa Timur dengan sigap dan cepat melakukan investigasi. Hasilnya minor.

Tindakan PKI, untuk menjelaskan secara terbuka duduk perkara sebuah kasus, sama cepatnya ketika muncul isu Ketua Ranting Barisan Tani Indonesia (BTI) Jatiwates yang menyuruh dua bocah umur 6 dan 8 tahun berak di undakan kolam Masjid Jami, Jombang. Sebab jika dibiarkan, isu ini bisa membakar apa saja dengan daya rusak mengerikan.

Bagi PKI, melecehkan agama lewat produk jurnalistik (termasuk karikatur), karya kreatif, dan aksi-aksi demonstrasi adalah selera rendah dalam politik massa. PKI sadar melakukan tindakan itu adalah langkah bunuh diri yang konyol. Alih-alih menghina agama samawi, PKI justru habis-habisan di Sidang Konstituante 1957-1958 membela eksistensi keyakinan pribumi—yang oleh negara saat ini diringkus dalam frase: “aliran kepercayaan”.

Demikian itulah, namanya saja nasib sial, ia datang tanpa diduga skala rusaknya. Bahkan dengan tidak melecehkan agama pun, kaum kominis Indonesia ini dibantai, dan dikerangkeng dengan kuantitas bejibun-jibun, yang makin ke sini makin tinggal kenangan statistik.

Terakhir diperbarui pada 27 September 2018 oleh

Tags: Charlie HebdoIslamPartai Komunis Indonesia
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Penulis dan kerani partikelir IBOEKOE dan Radio Buku.

Artikel Terkait

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid
Video

Dinamika Politik di Masjid Istiqlal dan Fenomena Muslim Tanpa Masjid

30 Maret 2025
Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern
Video

Dakwah Kreatif ala Miko Cakcoy Lewat Wayang, Jembatani Tradisi dan Agama di Era Modern

15 Maret 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa KIP Kuliah Ikut Dihujat Imbas “Oknum” yang Foya-Foya Pakai Duit Beasiswa, Padahal Beneran Hidup Susah hingga Rela Makan Sampah di Kos

25 Februari 2026
Denza D9 Bikin Alphard Terlihat Tua dan Tidak Menarik MOJOK.CO

Denza D9 Datang, Bikin Alphard Langsung Terlihat Tua dan Tidak Menarik: Pelajaran dari “Mobil China” yang Mengusik Singgasana Sang Raja

28 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
Perfeksionis

Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
User bus ekonomi Sumber selamat pertama kali makan di kantin kereta api. Termakan ekspektasi sendiri MOJOK.CO

User Bus Sumber Selamat Pertama Kali Makan di Kantin Kereta, Niat buat Gaya dan Berekspektasi Tinggi malah Berakhir Meratapi

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.