Inilah yang Terjadi Ketika Amerika Serikat dan Uni Soviet Adu Ukuran Batang di Era Perang Dingin

[MOJOK] “Salah satu kisah menarik dari Perang Dingin dengan pusatnya Amerika Serikat dan Uni Soviet: adu ukuran batang!”

Era Perang Dingin identik dengan gontok-gontokan antara dua jawara global, Amerika Serikat dan Uni Soviet.

Perang dingin, ibaratnya dua Titan bernama Amerika dan Soviet udah siap-siap buat adu jotos, masing-masing udah siap sedia brass knuckle dan butterfly knife di kantong celana.

Akan tetapi, kedua jawara ini ngga ada yang berani sampai melayangkan kepalan tinju pertama, karena keduanya tahu setelah kepalan tinju pertama mendarat di tubuh lawan, siapa pun yang memulai, duel hanya akan berakhir ketika keduanya mati terbunuh.


Apabila ditelisik dari segi militer, sebenarnya sejarah perang dingin antara dua superpower global ini terbilang unik. Karena ada suatu masa ketika yang penting adalah “Batang gue lebih gede dari batang elo”.

Biar gampang, sebut saja “Kontes adu ukuran batang”, dan secara harfiah, inilah masa ketika Amerika dan Soviet saling pamer siapa yang bisa bikin meriam dengan kaliber sebesar mungkin. “Dick-weaving contest”, istilah yahud yang menjadi tren di kalangan pecinta sejarah era perang dingin.

Pada dekade akhir 1940an hingga pertengahan 1960an, Amerika dan Soviet percaya kalau senjata nuklir yang bisa ditembakkan dari meriam artileri akan memegang kunci kemenangan dalam peperangan besar selanjutnya.

Baca juga:  Seperti Trump, Prabowo dan Sandiaga itu Tak Sebodoh yang Kamu Kira

Amerika mencuri start dengan program riset dan pengembangan meriam nuklir M65 “Atomic Annie” pada 1949, yang pada dasarnya adalah meriam nuklir seberat 83 ton yang menyadur desain dari meriam rel kereta Jerman era Perang Dunia II, K-5 kaliber 240mm. Bedanya adalah M65 memakai laras meriam kaliber 280mm. Bagaimana reaksi Soviet?

Soviet tentu saja tidak mau kalah dengan Amerika. Soviet ingin menunjukkan kalau mereka bisa membuat meriam yang jauh lebih besar, dan lebih praktis. Namanya juga gengsi, Soviet memulai program meriam nuklirnya sendiri, supaya keliatan kece dan gagah. Soviet memakai meriam kaliber 406mm.

Apa sampai situ saja? Tentu saja tidak, Soviet ingin meriamnya ini lebih kelihatan gahar, dan lebih mudah dipindah-pindah daripada M65 punya Amerika. Gimana caranya? Taro aja meriam raksasanya diatas sasis tank terbesar di AD Soviet, T-10M. Selesai sudah perkara.

Ide-ide gila terus mengalir di kantor biro desain Kotlin di Leningrad, yang berlangsung hingga tahun 1955, ketika lahirnya meriam nuklir swagerak (Self-Propelled Nuclear Cannon) Object 271 atau dikenal dengan nama resminya 2A3 Kondensator 2P.

Entah mengapa, Petinggi Soviet menamakan meriam raksasa penembak hulu ledak nuklir ini “Kondensator” yang sekilas bermakna meriam ini mampu mengkondensasikan efek uap panas yang timbul dari gontok-gontokan antar kedua negara superpower. Sebuah senjata pamungkas.

Apakah cukup sampai sana? Tentu saja tidak, Soviet membuat mortar swagerak raksasa kaliber 420mm bernama 2B1 Oka yang bisa menembakkan peluru mortar raksasa dengan hulu ledak nuklir, seperti 2A3 Kondensator.

Baca juga:  Dokumen AS Berisi Prabowo Subianto Terlibat Penghilangan Aktivis 98 Tersebar Jelang Pilpres

Mortar raksasa ini dipasang di sasis tank berat T-10M, tapi ini cerita buat lain waktu saja. Yang jelas, keberadaan 2A3 dan 2B1 menunjukkan kalau Soviet juga pengen punya meriam raksasa yang mampu menembakkan peluru nuklir.

Oke, Meriam superbesar dipasang di sebuah sasis tank berat, meriamnya bisa menembakkan peluru nuklir pula. Jika pembaca sekalian menganggap ini adalah ide yang gila, selamat, kalian lebih waras daripada saya dan segenap petinggi militer Soviet pada tahun 1952 (karena saya pribadi menyukai meriam-meriam kaliber sangat besar).

Begini, meriam superbesar, artinya ketika ditembakkan menghasilkan gaya tolak balik (recoil) yang superbesar pula. Begitu juga dengan 2A3 Kondensator, walau sudah dipasang di sasis tank terbesar Soviet seberat 60 ton, dan seluruh kerangka sasis sudah diperkuat gila-gilaan.

Menembakkan meriam ini sama saja dengan mengucapkan selamat tinggal ke segenap struktur kerangka tank, shockbreaker, gearbox hingga persneling yang tercinta.

Nikita Khrushchev, pemimpin Soviet pada tahun 1956 berpikir, “Kenapa bikin meriam supergede buat nembakin nuklir kalau lebih gampang bikin rudal gede jarak jauh yang bisa menggotong nuklir?”

Nah, dengan dasar pikiran randomnya ini, plus kebenciannya terhadap Almarhum Josef Stalin, mendorong Khrushchev untuk menghentikan semua program-program militer yang sama gilanya dengan 2A3 dan 2B1 yang merupakan produk dari filosofi militer Soviet era Stalin, “batang gue lebih gede dari batang elo”.


Baca juga:  Anggap Dewan HAM PBB Cuek, Amerika Serikat Mundur dan Bela Israel

Oleh sebab itu, meriam-meriam swagerak paling absurd sepanjang sejarah ini langsung dipensiunkan, dan mulai tahun 1960an, Soviet menggenjot gila-gilaan program pengembangan rudal balistik antar-benua.