Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

WR Supratman dan Cita Citata

Jibal Windiaz oleh Jibal Windiaz
14 Desember 2014
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Nasipkoe soedah begini. Inilah yang disoekai oleh Pemerintah Hindia Belanda.Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka”. (Surat terakhir WR Supratman sebelum meninggal di Surabaya)

Bukan sembarang jomblo. Pejuang juga komposer ini punya spirit move on yang menginspirasi bangsanya untuk keluar dari keterjajahan masa lalu.

Di luar kemahirannya bermain biola dan mencipta lagu, WR Supratman terlibat aktivitas jurnalistik di Koran Sin Poo dan harian Kaoem Moeda. Buku Perawan Desa salah satu karya jurnalistiknya yang dicap subversif, lantaran mengungkap kebiadaban Pemerintah Belanda yang menindas dan memperkosa perempuan-perempuan desa. Tak ayal, Perawan Desa dilarang beredar pada masa itu. Namun spirit yang terkandung dari buku itu terlanjur membakar semangat para jong untuk semakin bertekad satu, mengusir kaum penjajah.

Wage Rudolph Supratman lahir di Jatinegara, Senin Wage 1903 dan wafat pada Rabu Wage 1938,  lantaran sakit  yang dideritanya semasa menjadi buronan polisi Belanda. Namun lagu Indonesia Raya yang diperdengarkan pada kongres Sumpah Pemuda II 1928 bukan hadir sebagai lagu penghibur lara, bukan lagu yang mengajak para jong untuk merayakan rasa Sakitnya Tuh Disini. Bagi Bung Wage, rasa memiliki dan bertanah air satu jauh lebih penting dibanding melagu-lagukan kejombloan. Termasuk bagi saya, mantan jomblo yang gagal punya band seeksis Slank atau Aerosmith.

Dari susunan liriknya, lagu Indonesia Raya merupakan sonata atau sajak 14 baris. Terdiri dari satu oktaf (atau dua kuatren) dan satu sekstet. Penggunaan bentuk ini terbilang avant garde, meskipun soneta sudah populer di Eropa semenjak era Renaisans. Penggunaan soneta tersebut menginspirasi ekspresi seniman Angkatan Punjangga Baru, karena lima tahun setelah dikumandangkan, para seniman angkatan itu mulai banyak menggunakan soneta sebagai bentuk ekspresi puitis.

“Biar saja meninggal, Indonesia pasti merdeka.” Spirit optimis itu terbilang senada dengan quote bijak yang diamini para jomblo hari ini, “aku rapopo, sing penting kamu hepi.” Nah, ini yang penting dicatat, walaupun WR Supratman tidak ikut merasakan udara kemerdekaan, namun lagunya abadi dalam ingatan manusia Indonesia. Setidaknya abadi sebagai lagu pelengkap acara beraroma khusus.

Optimisme adalah jamu. Meski bisa jadi racun bila salah dosis. Apalagi sampai dioplos cairan pembersih lantai. Ayahab, Bro!

Dan kita mesti bersyukur, di Kongres Pemoeda 1928 seorang Cita Citata belum seeksis sekarang. Setidaknya lagu Sakitnya Tuh Disini cukuplah menjadi lagu pengejek para jomblo hari ini.

Jika saja penyanyi unyu itu sudah ada dan dipesan untuk melaunching lagu Sakitnya Tuh Disini pada kongres 1928, jangan kaget kalau puisi Mohammad Yamin pun berubah judul menjadi ‘Soempah Pemoeja’. Kemudian sejarah mencatatnya sebagai ‘Kongres Pemoeja’. Pemoeja bahasa sakit hati. Niscayalah Bung Wage panjang umur, karena  tak perlu ada musisi avant garde yang menjadi buronan polisi Belanda. Lalu hubungan gelap Bung Wage dan Cita Citata pun menyusul terkuak, laris menjadi gosip hot di Koran Sin Poo dengan headline Skandal Cinta di Balik Lagu Kebangsaan Jomblonesia Raya.

Yaelah segitunya. Hehe.

Brengseknya lagi, seniman pro kretek macam saya ini merasa diolok-olok pula. Video klip lagu itu terkesan mengejek para perokok. Sudah difitnah lewat gambar kemasan rokok berdada rusak, diejek pula lewat gerak nyanyi Cita Citata. Olok-olokan semacam ini pasti tak lepas dari konspirasi kepentingan pasar obat. Laris deh bisnis cocot motivator jualan obat sakit hati.

Bung Wage pun di alam sana mungkin cuma bisa meyesali; “mosok sih kita jadi bangsa pemuja sakit hati.” Kenapa coba Cita Citata menunjuk-nunjuk sakitnya melulu ke arah dada, bukan ke kepala, atau ke organ vital lainnya. Apa iya, diselingkuhi melulu mengancam hati? Bagi yang berdompet cekak, diselingkuhi pacar mungkin bencana bagi kemakmuran dompet. Itu berlaku bagi yang memposisikan pacar semata ATM. Tapi bagi yang diplorotin? Kan malah jadi lebih sehat.

Nah, mumpung lagi musim serba-serbi tandingan, apa perlu saya bikin lagu tandingannya: SAKITNYA TUH DI SITU. Di pikiranmu itu lhoh, Cit.

Terakhir diperbarui pada 7 Juni 2017 oleh

Tags: Cita CitataSakitnya Tuh Di siniWR Supratman
Jibal Windiaz

Jibal Windiaz

Artikel Terkait

juliari batubara
Kilas

Sidang Dakwaan Kasus Bansos: Juliari Pakai Duit Bansos untuk Bayar Honor Cita-Citata. Emosi Ga? Emosi Ga? Emosi Lah, Masa Ga?

22 April 2021
Esai

Ketika Iis Dahlia di KDI Dikeroyok Fatin Shidqia, Citra Scholastika, dan Netizen

25 Juli 2018
Kilas

Hari Kesaktian Pancasila, Kesaktian Siapa yang Kita Bela?

1 Oktober 2017
Bersama Cita Citata Kita Taklukkan Dunia
Esai

Bersama Cita Citata Kita Taklukkan Dunia

22 Januari 2016
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital: Harga RAM Makin Nggak Ngotak MOJOK.CO

Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal

16 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.