Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Taufiq Ismail Menyelamatkan Kita dari Bahaya Laten Lagu Wajib

Andre Barahamin oleh Andre Barahamin
30 Januari 2017
A A
Taufiq Ismail Menyelamatkan Kita dari Bahaya Laten Lagu Wajib

Taufiq Ismail Menyelamatkan Kita dari Bahaya Laten Lagu Wajib

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kapankah terakhir kali kita menyanyikan lagu wajib dengan sepenuh hati? Kemarin? Setahun lalu? Sepuluh tahun lampau? Sudah lama sekali pastinya.

Banyak orang mengeluh nasionalisme generasi saat ini telah luntur, tapi kita sendiri sudah lupa akan lagu-lagu wajib. (Mungkin tidak lupa juga sih, karena masa sekolah dasar kita diisi dengan kegiatan menghafal lagu wajib. Apa masih sampai sekarang?) Mayoritas kita mengeluh anak-anak sekarang kurang menghargai pahlawan, tapi kapan pula Anda meluangkan waktu untuk mengajarkan kepada mereka lagu-lagu kebangsaan?

Di samping nasionalisme, bangsa kita juga semakin bermasalah dengan nilai-nilai ketuhanan YME. Ini masalah mendesak yang tidak semua orang mau mengambil bagian untuk mencari solusi. Semuanya menjadi semakin rumit, karena kita kekurangan patron. Suri tauladan yang dapat menjadi patok moral dalam perjalanan kebangsaan.

Memang tidak ada yang lebih sulit daripada menjadi teladan. Itulah sebabnya saya sering terkagum-kagum pada sekelompok orang-orang yang melakukan hal-hal kecil guna berkontribusi pada masyarakat. Seperti yang dilakukan Opa Taufiq Ismail.

Dari dulu saya kira, bukan Pramoedya Ananta Toer yang layak jadi kandidat Nobel Sejarah. Almarhum Ben Anderson salah besar di sini. Satu-satunya kandidat paling cocok dan paling layak: Opa Taufiq.

Sastrawan yang karya-karyanya paling banyak bertebaran di buku-buku pelajaran terbitan beragam penerbit. Semasa jagal dari Kemusuk masih berkuasa, puisi-puisi Opa Taufiq adalah yang paling dibacakan di depan kelas. Begitu syahdu, begitu manis, begitu tenang. Hingga kita lupa dan tak perlu tahu bahwa negeri ini pernah membantai saudaranya sendiri karena gosip.

Mungkin banyak yang sudah lupa bahwa Taufiq Ismail bukan seorang wanprestasi. Penyair luar biasa ini adalah wajah Generasi ‘66, angkatan penyair yang legendaris itu. Generasi yang ikut menginisiasi Manifesto Kebudayaan di tahun 1963, gerakan anti “politik sebagai panglima”. Opa Taufiq, yang dilahirkan di Bukittinggi, 25 Juni 1935, menghabiskan masa jayanya sebagai salah seorang pendukung garis keras Orde Baru. Tidak diam-diam. Ia tampil membela Orde Baru bagai ksatria dengan menulis Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif LEKRA.

Malulah kalian wahai generasi muda pekerja seni yang malu-malu berpolitik!

Ketika Perang Dingin sedang berlangsung di Asia dan Afrika, Opa Taufiq tampil ke depan dan ikut berkonfrontasi. Ia menyerang LEKRA karena membuat kerja kepenyairan menjadi sukar karena mesti memikirkan derita rakyat. Bagi Opa Taufiq, tugas penyair adalah memotret peristiwa dari ketinggian. Mesti menjaga jarak agar objektif. Tidak boleh terkontaminasi langsung dengan kehidupan. Penyair adalah pertapa di atas menara gading. Suci dan bersih.

Warisan sikap macam ini, masih bisa kita temukan di kampus-kampus seantero negeri. Kalian yang menjalani laku macam ini, seharusnya berterima kasih kepada Opa Taufiq.

Tanpa jasa-jasa beliau, kalian semua akan jadi macam aktivis CGMI dan HSI. Mendedikasikan pengetahuan untuk revolusi dan pembangunan organisasi rakyat. Aktivitas yang sudah jelas kere dan tidak bermasa depan. Mau contoh? Coba lihat Berto Tukan dan Windu Jusuf, dua benjolan dari IndoPROGRESS.

Setelah Soeharto jatuh, Taufiq Ismail tak patah arang. Ia malah meluncurkan buku baru: Katastrofi Mendunia: Marxisma, Leninisma, Maoisma, Narkoba. Buku super ini terbit di tahun 2004. Didasarkan pada riset mendalam terhadap pokok-pokok pikiran Marx dan para pengikutnya, Opa Taufiq menelurkan sebuah tesis paripurna: Marxisma, Leninisma, dan Maoisma itu sama dengan narkoba! Jleb. Mampus kau Windu Jusuf!

Tesis ini setara dengan diktum Marx: “Die religion ist das opium des volkes.”

Oleh karena itu, sangat wajar jika saya membayangkan jika Opa Taufiq seharusnya diganjar Nobel Sastra atas prestasinya dalam mengarang kenyataan. Semua kontribusi dan pencapaian artistik beliau sudah seharusnya tidak hanya dimonopoli bangsa Indonesia saja. Taufiq Ismail sudah seharusnya menjadi warisan dunia. Agar para pendengkinya dapat tutup mulut dan mulai bertobat.

Iklan

Opa Taufiq adalah puncak dari evolusi otak manusia Indonesia. Ketika beliau mengkritik lagu “Padamu Negeri” sebagai lagu sesat karena manusia Indonesia diajak menyerahkan “jiwa raganya” kepada negaranya, bukannya Tuhan, tentu tidak banyak orang yang tidak akan mengerti. Salah paham karena tidak mampu menyelami kedalaman pikiran Opa Taufiq yang revolusioner dan avant garde. Mereka yang tidak paham bahwa bahaya sebagai orang tua yang sudah banyak makan asam garam dan mengalami kejamnya dunia, yang diinginkan Opa Taufiq adalah yang terbaik untuk semua.

Kenyataan yang banyak tidak diketahui publik adalah: Opa Taufiq merupakan figur revolusioner penuh dedikasi.

Melarang lagu “Padamu Negeri” hanya permukaan. Yang gagal dipahami orang banyak adalah, Opa Taufiq sedang ingin meredam pengaruh buruk dari Kusbini, si pencipta lagu. Tentu tak banyak orang yang tahu bahwa Kusbini adalah aktivis radikal pendukung Soekarno yang karya terakhirnya adalah himne “The New Emerging Forces” di tahun 1965. Jauh sebelumnya, musisi keroncong ini juga diketahui menggubah “NASAKOM”. Lagu ini dapat ditemukan dalam buku Api Kemerdekaan Indonesia terbitan LEKRA. Karya Kusbini bersanding dengan lagu-lagu semacam “Mariana Proletar” atau “Internationale” yang versi Melayunya diterjemahkan oleh Bapak Pendidikan Indonesia itu.

Anda tahu apa itu NASAKOM? “Kom” di sini merujuk pada Komunisma! Astaganaga!

Kita harusnya berterima kasih kepada beliau. Tanpa kritik Opa Taufiq, Anda dan saya tentu tidak akan pernah tahu mengulik-ulik siapa itu Kusbini, si pencipta lagu “Padamu Negeri”. Tidak akan tahu ia adalah aktivis radikal pro-Sukarno dan oleh karena itu tentu tak layak dikenang dan oleh karena itu pula mesti masuk keranjang sampah sejarah. Orang-orang seperti Kusbini semasa hidup telah melecehkan proses berkesenian yang begitu mulia dan suci. Kusbini serupa dengan LEKRA. Melumuri indahnya seni dengan lumpur problematika sosial.

Itu mengapa, penting bagi Opa Taufiq menyebarluaskan gagasan agar orang-orang berhenti menyanyikan “Padamu Negeri” (memang kapan kita nyanyi?).

Dengan tujuan menjaga cucu-cucunya dari marabahaya laten komunisma, ia menjadikan perjuangan ini sebagai misi sepanjang usia. Jalan pedang yang justru sering dipandang sinis oleh anak-anak muda. Generasi milenial yang lahir dan tumbuh dewasa ketika wajah presiden sudah sering berganti. Generasi yang paling sulit mengerti niat baik Opa Taufiq.

Niat baik dari seseorang yang tangannya ikut terlibat menyerahkan leher saudara sebangsanya untuk dijagal tanpa pengadilan. Ketulusan untuk menjaga harkat dan martabat bangsa, sebagaimana dulu Opa Taufiq membiarkan tentara melakukan kejahatan kemanusiaan. Mereka yang tidak mengalami langsung masa itu, tentu tidak akan paham mengapa kekhawatiran Opa Taufiq terhadap bangkitnya PKI adalah mimpi buruk yang sudah mengganggu dirinya hampir dua dekade belakangan.

Tentu saja penting untuk mengingatkan generasi muda agar tidak menduakan sang Pencipta. Ia selalu harus jadi yang utama dan oleh sebab itu, lirik lagu yang terindikasi ke arah tersebut sudah seharusnya diganti dan bahkan kalau perlu dilarang. Menduakan Tuhan melalui lagu dapat berakibat buruk: seperti Marxisma dan narkoba! Selain tentu bakal masuk neraka.

Budi baik dan jasa Opa Taufiq sudah terlampau banyak untuk bangsa yang masih porak poranda oleh perampasan tanah dan upah murah ini. Semoga kelak wajah Opa Taufiq yang teduh dan memancarkan kebijaksanaan itu dapat kita awetkan di salah satu pecahan rupiah. Menurut hemat saya, wajah beliau yang waskita ini cocok menggantikan Kaisepo yang dianggap oleh Melayu-Melayu pandai sebagai “monyet”.

Kok gue kzl ya nulis ini.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2021 oleh

Tags: featuredkomunismelagu wajibpadamu negeriTaufiq Ismail
Andre Barahamin

Andre Barahamin

Artikel Terkait

Belajar Tentang Sejarah Ekonomi Komunis China dari Duanju, Drama Vertikal yang Nagih MOJOK.CO
Esai

Belajar Sejarah Ekonomi Komunis China Lewat Kamerad Chang dan Duanju yang Bikin Nagih

16 Maret 2026
bti, petani, tani.MOJOK.CO
Ragam

Rumus “3S-4J-4H” Wajib Dijalankan Pemerintah Kalau Mau Petani di Indonesia Maju

28 Januari 2025
amir sjarifuddin mojok
Video

Amir Sjarifuddin: Lahir Sebagai Islam, Menganut Kristen, Lalu Mati Sebagai Komunis

9 Juni 2023
Dari Minggu Pagi (MP) dan Kedaulatan Rakyat (KR), Kita Jadi Ngerti PKI dan Komunis itu Asyik-Revolusioner MOJOK.CO
Esai

Dari Minggu Pagi (MP) dan Kedaulatan Rakyat (KR), Kita Jadi Ngerti PKI dan Komunis itu Asyik-Revolusioner

30 September 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026
Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule.MOJOK.CO

Pesona Gerabah Lukis Khas Klaten di Festival Sepeda Internasional, Sukseskan Misi Kebudayaan yang Memukau Bule

4 Juni 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026
Rooftop kos kerap jadi tempat blangkrah, tapi jadi ruang healing terbaik bagi anak kos overthinking MOJOK.CO

Tinggal di Kos dengan Rooftop, Meski Kemproh tapi Jadi Tempat Healing Terbaik dari Tekanan Hidup yang Bisa bikin Gila

3 Juni 2026
Campus League Basketball 2026 Regional Jakarta Season 1 tidak hanya jadi panggung prestasi basket, tapi juga warna baru solusi mobilitas masa depan anak muda dengan motor listrik Polytron MOJOK.CO

Puncak Campus League Basketball 2026 Jakarta S1: Tak Hanya Jadi Panggung Basket tapi Juga Hadirkan Solusi Mobilitas Masa Depan Anak Muda

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.