Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Tanjakan Sigar Bencah: Bahaya yang Tersembunyi di Antara Semarang Atas dan Semarang Bawah

Inilah kenangan saya akan tanjakan Sigar Bencah, daerah angker yang “membelah” Semarang atas dan bawah.

Muhammad Anggit Hendrawan oleh Muhammad Anggit Hendrawan
30 Agustus 2023
A A
Semarang Atas dan Bawah Menyimpan Bahaya Bernama Tanjakan Sigar Bencah MOJOK.CO

Ilustrasi Semarang Atas dan Bawah Menyimpan Bahaya Bernama Tanjakan Sigar Bencah. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tanjakan Sigar Bencah cuma 1 kilometer. Ia menghubungkan Semarang atas dan bawah, sekaligus jadi tempat yang “menyimpan bahaya”.

Warga Kota Semarang dan mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) pasti tidak asing dengan nama tanjakan Sigar Bencah. Yap, itu adalah salah satu tanjakan yang menghubungkan antara Semarang atas dan Semarang bawah. 

Sigar Bencah memiliki jarak sepanjang 1,5 Kilometer dengan kondisi tanjakan yang cukup curam. Oleh sebab itu, di sini sering terjadi kecelakaan. Mulai dari motor, bahkan hingga bus besar. Sepanjang tanjakan ini, di sebelah kanan dan kirinya merupakan hutan dan jurang.

Saat ini, ramai sekali kendaraan melewati tanjakan Sigar Bencah. Siang atau malam, selalu ramai. Namun, sebelum 2017, kondisinya sangat berbeda. Tanjakan Sigar Bencah terkenal akan keangkerannya. Baik itu keangkeran makhluk gaib maupun keangkeran karena begal. Tapi, yang  menjadi pembicaraan hangat warga-warga lokal adalah keangkerannya karena makhluk gaib.

Kejadian janggal ketika melewati tanjakan Sigar Bencah, perbatasan Semarang atas dan bawah

Saya teringat kejadian yang menimpa saya pada Oktober 2017 yang lalu. Saat itu pukul 5 sore, saya melakukan perjalanan dari Kedungmundu yang berposisi di Semarang bawah. Saya dan beberapa orang berniat ke UNDIP dan harus melewati tanjakan Sigar Bencah agar perjalanan lebih cepat. 

Acara di UNDIP dimulai pukul 19.00. Namun, saya dan teman saya harus berada di lokasi sebelum pukul 7 malam karena kami harus menyiapkan sesuatu. Jadi, kami berangkat sebelum jam Magrib dan melaksanakan salatnya di kampus. 

Pukul 5 sore, kami sudah siap melakukan perjalanan. Namun, orang tua teman saya sempat bertanya.

“Mas, kamu yakin mau berangkat jam segini lewat Sigar Bencah?”

Sebenarnya, saya sudah biasa lewat tanjakan Sigar Bencah sekitaran Magrib. Kebetulan, saya tidak takut dan makhluk gaib tidak pernah mengganggu. Namun, beda dengan teman saya yang beberapa kali pernah “diganggu”.

Menanggapi pertanyaan beliau, saya tanya dulu ke teman saya.

“Rin, gimana? Berani nggak berangkat jam segini? Nanti kita langsung ke masjid untuk maghriban.”

“Berani, lah. Mama nggak usah khawatir sama Rini. Rini udah lama nggak diganggu begituan.” 

Lantaran Rini merasa yakin, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat pukul 5 sore, menuju Semarang bawah, melewati tanjakan Sigar Bencah. Jarak dari rumah Rini ke UNDIP membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit.

Pikiran buruk yang sangat mengganggu

Tepat sebelum kami naik tanjakan Sigar Bencah, azan Magrib berkumandang. Tiba-tiba saya kepikiran bagaimana kalau Rini tiba-tiba kesurupan saat membonceng? Karena saya pernah dengar katanya di waktu Magrib itu, makhluk-makhluk gaib sedang berkeliaran. Tapi, saya tetap positive thinking dan yakin kalau itu tidak akan terjadi. Tidak lama setelah itu, Rini berteriak yang membuat saya juga terkejut.

Iklan

“Kenapa Rin?”

“Nggak papa, Mas”

Pikir saya dia hanya ketakutan karena lewat tanjakan Sigar Bencah yang suasananya kala itu memang cukung mencekam. Tapi, di sepanjang tanjakan, saya hanya diam dan berharap tidak terjadi apa-apa. Maklum, dari kaca spion, saya bisa melihat Rini hanya menutup matanya sepanjang daerah angker itu.

Selesai menembus tanjakan, kami langsung masuk ke wilayah Semarang bawah, UNDIP. Suasana yang terlihat langsung berubah 180 derajat. Tanjakan Sigar Bencah tadi gelap dan mencekam, di sini banyak lampu penerangan, kafe, dan mahasiswa wara-wiri. Seakan-akan, tanjakan Sigar Bencah itu pintu belakang untuk masuk ke kawasan kampus UNDIP di Semarang bawah. Sampai di sini, saya agak lega setelah berhasil membonceng teman yang sedikit sensitif.

Rini yang kesurupan setelah menembus tanjakan angker di perbatasan Semarang

Namun, kelegaan saya nggak bertahan lama. Tiba-tiba, Rini menyanyi sendiri dengan nada yang sangat sumbang. Saya tahu Rini bukan penyanyi, tapi suaranya bagus dan nggak sumbang. Detik itu, saya berpikir kalau Rini sedang bercanda.

“Rin, kamu nyanyi apa, sih, kok sumbang gitu?”

Rini malah tertawa mendengar pertanyaan saya. Respons itu membuat saya agak yakin kalau dia memang bercanda.

Namun, tiba-tiba Rini menangis kesakitan. Katanya, dadanya sakit dan merasa sesak nafas setelah melewati tanjakan yang menjadi perbatasan Semarang tadi. Setelah itu, terjadi perubahan yang drastis. Kadang dia tiba-tiba tertawa, kadang menangis, kemudian berteriak lagi. Tiga hal tersebut diulang-ulang terus. Sehingga membuat saya yakin

“KESURUPAN INI!” Teriak saya dalam hati.

Saya jadi sangat bingung karena ini pengalaman pertama saya memboncengi orang yang kesurupan. Akhirnya, saya menuju masjid kecil yang berada di dalam gang. Namun, Rini menolak dan malah marah. Punggung saya dicakar dan Rini memberontak seperti ingin lompat dari motor. Karena panik, saya tidak jadi ke masjid. Saya memutuskan untuk menuju kos teman saya untuk membantu kebingungan dan kepanikan saya.

Duh, Rini!

Selama perjalanan ke kos teman saya, Rini memang tidak memberontak. Dia hanya menangis dan lemas. Tapi itu semua membuat saya khawatir dan memberanikan diri untuk mengambil tangan Rini dan menaruhnya ke perut saya. 

Mungkin ini kelihatan seperti modus kesempatan dalam kesempitan. Tapi ternyata ini adalah malapetaka bagi saya. Tangan Rini tiba-tiba memeluk saya dengan sangat keras hingga membuat saya kesakitan.

“INI CENGKRAMAN SETAN!” Teriak saya dalam hati.

Tapi saya berpikir kalau ini demi keselamatan teman saya. Daripada di tengah jalan dia jatuh malah nanti bikin tambah repot. Setelah sampai di depan kos teman saya, Rini langsung turun dari motor dan jatuh ke jalan. Saya berteriak sekuat tenaga memanggil teman saya hingga akhirnya dia keluar bersamaan dengan ibu kos yang mungkin juga mendengar teriakan saya.

“Eh, Rini ini kenapa?” Tanya teman saya dan juga ibu kos yang sangat perhatian itu.

Saya bercerita kalau Rini dadanya sakit dan sesak nafas setelah melewati tanjakan Sigar Bencah, perbatasan Semarang atas dan bawah. Ibu kos langsung mengambil minyak kayu putih dan memijat Rini. Namun, Rini tak kunjung sembuh. 

Kemudian, atas inisiatif ibu kos, beliau memanggil taksi dan langsung membawa Rini ke UGD dan mendapatkan tindakan dari dokter.

Saya bercerita pada teman saya sembari menunggu dokter selesai melakukan tindakan. Kemudian saya dipanggil oleh dokter tersebut untuk memberikan kesaksian.

”Mas, ini Rini tidak ada penyakit apa-apa. Dilihat dari riwayatnya juga tidak ada. Memang tadi gimana, Mas, ceritanya kok bisa jadi seperti ini?”

Karena dokter bertanya seperti itu, saya bercerita selengkap mungkin dari awal memasuki tanjakan Sigar Bencah hingga berteriak-berteriak kesakitan. Mendengar cerita saya, dokter hanya menanggapi dengan ketawa kecil.

“Hahaha, mistis.”

Saya merasa bodoh bercerita kisah gaib di depan dokter. Karena bagaimanapun ceritanya, dokter hanya akan menganggap saya halusinasi. Tapi kenyataannya seperti itu. Setelah itu, dokter mempersilakan saya untuk menemani Rini sambal menunggu orang tuanya datang. 

Perempuan berbaju putih di sepanjang perbatasan Semarang atas dan bawah

Rini bertanya pada saya, “Mas, tadi aku kenapa?”

Karena Rini sudah membaik, saya memberanikan diri untuk menceritakan semuanya, mulai dari tanjakan Sigar Bencah hingga daerah Semarang bawah. Rini malah mengaku tidak ingat apa-apa. Rini hanya mengingat saat teriakan pertama kali di tanjakan Sigar Bencah itu karena melihat sosok perempuan berbaju putih berdiri di seberang jalan. 

Kemudian, Rini terkejut karena wanita berbaju putih tersebut melompat ke motor saya dan mencengkram dada Rini. Setelah itu Rini tidak ingat apa-apa lagi. Mendengar pengakuan tersebut, saya langsung merinding dan mulai percaya kalau tanjakan Sigar Bencah benar-benar angker seperti kata orang-orang.

Tapi alhamdulillah, cerita ini happy ending. Orang tua rini akhirnya datang menjemput. Ibunya menangis, sangat khawatir. Orang tuanya berterima kasih pada saya dan mengulurkan Rp200 ribu sebagai ucapan terima kasih telah menjaga Rini. Namun, saya menolak!

“Tidak, Om, tidak usah. Saya emang niat membantu Rini kok.”

Tapi mau gimana lagi. Saya dipaksa menerimanya hehehe. Akhirnya Rini pulang ke rumah dan saya makan malam bersama teman saya dengan uang Rp200 ribu tersebut. Begitulah kenangan saya akan tanjakan Sigar Bencah, daerah angker yang “membelah” Semarang atas dan bawah.

Penulis: Muhammad Anggit Hendrawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Tengaran Kulon, Dusun Kecil di Semarang Ini Adalah Tempat Terbaik untuk Menetap dan pengalaman seru lainnya di rubrik ESAI.

Terakhir diperbarui pada 30 Agustus 2023 oleh

Tags: jawa tengahSemarangsemarang atassemarang bawahtanjakan angker di semarangTanjakan Sigar BencahUndip
Muhammad Anggit Hendrawan

Muhammad Anggit Hendrawan

Tinggal di Semarang.

Artikel Terkait

Keselamatan warga Kota Semarang jadi prioritas di tengah hujan dan angin kencang yang tumbangkan 80 lebih pohon dalam semalam MOJOK.CO
Kilas

Keselamatan Warga Semarang Jadi Prioritas di Tengah Hujan Angin yang Tumbangkan 86 Pohon dalam Semalam

5 Maret 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
slow living, jawa tengah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Omong Kosong Slow Living di Jawa Tengah: Gaji Kecil, Tanggungan Besar, Ditambah Tuntutan “Rukun” yang Bikin Boros

11 Februari 2026
Penyebab banjir dan longsor di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah. MOJOK.CO
Kilas

Alasan di Balik Banjir dan Longsor di Lereng Gunung Slamet Bukan karena Aktivitas Tambang, tapi Murni Faktor Alam

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
penyiraman air keras.MOJOK.CO

Negara Harus Usut Tuntas Dalang Penyiraman Air Keras ke Aktivis HAM, Jangan Langgengkan Impunitas

16 Maret 2026
Mudik Lebaran mepet dari Jogja dengan kereta demi kumpul keluarga

Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.