Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Stigma Perempuan Madura kalau Nggak Kunjung Menikah

Ifaikah Kalidin oleh Ifaikah Kalidin
19 Februari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mau sesukses apapun perempuan Madura, selama tidak kunjung menikah maka siap-siap aja bakal dilabeli berbagai stigma yang cukup menyesakkan dada.

Pembangunan Jembatan Suramadu yang membentang dari sisi utara Jawa Timur dan sisi selatan Pulau Madura sedikit memberi angin segar bagi kemajuan daerah saya. Dikatakan “sedikit” karena setelah seremonial pembukaan hingga beberapa kali pergantian kepala daerah, tidak ada perubahan yang berarti.

Yah, di sektor pariwisata dan ekonomi berkembang sih, meski sangat lamban.

Walau bagaimana pun sebagai orang Madura yang tinggal di dusun, kemajuan ini tetap saya syukuri. Sebab, mulai banyak para orang tua yang berpikiran lebih luas soal standar pendidikan anaknya, wabil khusus perempuan.

Perempuan Madura saat ini lebih mudah mendiskusikan ke mana ia hendak melanjutkan nasibnya setelah lulus SMA atau pesantren. Mau sekolah atau bekerja?

Tidak seperti generasi saya dulu, tidak ada tawar-menawar perihal itu. Belum lulus pesantren atau SMA sudah geregetan banget dicariin suami. Katanya, perempuan itu yang penting tahu ilmu agama dan akhlak. Sisanya mengabdi pada orang tua dan suami.

Maka beruntunglah kalian jika mendapatkan kesempatan ditanya mau ngapain setelah lulus SMA atau mondok. Itu keistimewaan yang nggak semua perempuan Madura miliki lho.

Sayangnya, keterbukaan sikap orang tua ini terbatas pada situasi tertentu saja. Perempuan Madura tetap memiliki batas atau lebih tepatnya tetap dibatasi kapan ia harus menempuh pendidikan dan bekerja. Salah satu tuntutan yang paling sering adalah tuntutan untuk cepat-cepat menikah.

Tuntutan semacam ini masih sama kencengnya diteriakkan meski si perempuan dianggap sudah mendapatkan pendidikan tinggi dan punya karier bagus. Sebab, mapan secara ekonomi itu urusan lelaki, yang kelak menjadi pendamping hidupnya, bukan urusan perempuan.

Mau sesukses apapun perempuan Madura, secantik apapun ia, selama menyandang stasus lajang, tiada artinya dibandingkan perempuan yang sudah menikah dan punya anak. Perempuan melajang dilabeli berbagai stigma yang cukup menyesakkan dada.

Berikut ini saya rangkumkan beberapa label yang sering ditempelkan pada perempuan Madura yang betah melajang.

Nampek (Pilih-pilih)

Di posisi pertama label nampek atau pilih-pilih.

Perempuan Madura yang dijodohin jarang banget ikut terlibat dalam pemilihan jodohnya. Kalau jaman sekarang kita kenal dengan ta’aruf, antara perempuan dan lelaki sama-sama tahu, di tradisi perjodohan orang Madura agak berbeda.

Kamu bisa aja tiba-tiba dijodohin sama saudara sepupumu, anak tokoh di kampungmu, anak kiai di kampungmu, anak tetangga, atau anak siapa aja yang keluarganya dianggap cocok dengan keluargamu untuk besanan.

Iklan

Lah mending kalau yang dijodohin sama-sama suka, kalau sebaliknya? Runyam pasti.

Nolak nggak enak, diterima juga padahal nggak ada cinta. Benar-benar nggak segampang putusnya remaja ibukota saat putus dengan pasangannya dengan cukup bilang, “maaf kamu terlalu baik,” atau “aku mau fokus skripsi.”

Kondisi yang paling ekstrem dan masih ada, baru jadi cabang bayi aja kamu udah dijodohin sama cabang bayi yang lain. Terus tumbuh gede bareng layaknya adik dan kakak, tambah bingung dan sungkan kan mau nolak?

Penolakan perempuan atas jodoh yang dipilihkan akan dianggap pilih-pilih, terlalu arogan, sok cantik. Bahkan dianggap pula sebagai penyebab keretakan hubungan antar keluarga.

Ada juga yang komentar, “Emang situ siapa? Anak pejabat?” Atau komen macam, “Emang maunya kayak gimana sih? Gitu aja kok pilih-pilih.”

Lah? Milih celana dalam aja kita pilih-pilih, masa milih calon suami nggak boleh pilih-pilih?

Sangkal (Susah dapat jodoh)

Rajin menabung pangkal kaya, rajin menolak perjodohan pangkal sangkal atau susah dapat jodoh.

Biasanya para orang tua paling takut kalau anak gadisnya sampai pernah menolak pinangan. Apalagi si calon adalah orang yang punya bebet, bobot dan bibit yang dianggap baik. Bisa masuk daftar hitam sebagai anak gadis yang mau dikawinin.

Ada banyak cara yang dilakukan orang tua agar anak gadisnya tidak sangkal. Dibawa ke acara kondangan, silaturahmi keluarga, silaturahmi dengan ibu-ibu nyai, ke pasar, dan tempat-tempat yang memungkinkan ada yang melirik anak gadisnya.

Mirip kayak safari politik anggota caleg menjelang pileg. Kesannya jual murah setelah tadinya dijual mahal. Tetapi menolak ajakan orang tua seperti mengulang durhaka kedua setelah penolakan perjodohan.

Belum lagi mandi kembang tujuh rupa pula untuk menghindari aji-ajian yang dikirim oleh para peminang yang pernah ditolak. Maklum, ungkapan pinangan ditolak dukun bertindak itu masih berlaku di dusun saya.

Peraben Tuwah (Perawan Tua)

Pada tingkatan ini, alasan perempuan Madura memilih melajang karena belum menemukan calon yang cocok. Oleh karenanya mereka lebih fokus berkarier sebagai karyawan atau pebisnis. Ada juga yang mengabdikan diri sebagai relawan pendidikan, relawan kesehatan, atau relawan hatimu.

Mereka ini bisa dibilang golongan perempuan Madura idealis. Menganggap pernikahan itu sesuatu yang sakral sehingga perlu sakral juga prosesnya—nggak boleh sembarangan kayak milih belanjaan di swalayan. Tidak sembarangan memutuskan pilihan hanya takut dianggap perawan tua.

Label perawan perawan tua tidak ia pusingkan, meski yang pusing tentu saja keluarganya. Karier yang sempurna, pendapatan yang cukup tidak selalu membanggakan bagi mereka. Bahkan ada yang menilai statusmu yang tinggi inilah yang membuatmu jadi perawan tua. Karena hal itu dianggap sebagai penyebab tak ada lelaki yang berani meminang.

Orang tua mulai sering mengeluh tentang statusmu yang mengkhawatirkan ini karena sangat tidak kondangan-able untuk diajak, arisan-able untuk diajak, dan able-able yang lain. Kehadiranmu di sebuah acara justru akan menimbulkan bisik-bisik dan dugaan kenapa tidak jua menikah.

Bahkan bisa jadi semacam sesi tanya jawab atau klarifikasi atas status lajangmu.

“Kenapa tidak menikah?”, “Kok betah sendiri terus?”, “Kapan nih dikenalin sama pasangannya?”

Apalagi kalau ketemu temen lama yang jarang update, tiba-tiba sok akrab dan nanya, “Anakmu udah berapa?”

Yaowoh, akun Lambe Turah aja sampai kalah.

Lok Pajuh (Tidak laku)

Di posisi terakhir ini merupakan jalan pedang seorang perempuan Madura. Label ini semacam vonis sepihak atas diri perempuan Madura yang memilih melajang hingga tua. Itu artinya si perempuan Madura ini telah melewati proses dianggap nampek, sangkal, dan peraben tuwah.

Jika ia masih melajang pada titik ini, maka ia adalah orang yang sangat hebat. Hebat menahan semua pandangan miring tentangnya. Jangan ditanya rasanya seperti apa, coba rasain sendiri. Kamu nggak bakal kuat, biar perempuan Madura aja.

Pada dasarnya, orang Madura itu tahu bahwa juduh, pateh ben rejekeh (jodoh, kematian, dan rejeki) itu hanya Tuhan yang tahu. Sayangnya, orang Madura suka lupa aja kalau urusan jodoh perempuan juga termasuk di dalamnya.

Jadi cuma urusan jodohnya laki-laki aja yang dianggap di tangan Tuhan, jodohnya perempuan sih dipercaya ada di tangan orang tuanya.

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2019 oleh

Tags: Jembatan SuramadujodohMaduramenikahNikahperempuan madura
Ifaikah Kalidin

Ifaikah Kalidin

Perempuan Madura yang suka baca dan menulis.

Artikel Terkait

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Edumojok

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Orang Madura sudah banyak kena stigma buruk di Surabaya dan Jogja. Terselamatkan berkat dua hal MOJOK.CO
Ragam

2 Hal Sederhana yang Selamatkan Wajah Madura Kami dari Stigma Buruk Maling Besi, Penadah Motor Curian, hingga Tukang Pungli

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Membenci tradisi tukar uang alias penukaran uang baru menjelang lebaran untuk bagi-bagi THR MOJOK.CO

Tak Ikut Tukar Uang Baru buat THR ke Saudara karena Tradisi Toxic: Pilih Jadi Pelit, Dibacotin tapi Bahagia karena Aman Finansial

3 Maret 2026
Lulusan UT, Universitas Terbuka.MOJOK.CO

Diremehkan karena “Cuma” Lulusan UT, Tapi Bersyukur Nasib Lebih Baik daripada S1-S2 PTN Top yang Menang Gengsi tapi Nganggur

3 Maret 2026
Hijau miskin, warna yang tidak disukai gen Z

Warna “Hijau Miskin” Dianggap Norak, Tidak Disukai Gen Z padahal Dipakai Banyak Orang dan Harganya Murah

2 Maret 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026

Beras Porang Indomaret, Makanan Aneh yang Saya Sesali untuk Sahur padahal Menu Favorit Orang Jepang

3 Maret 2026

Video Terbaru

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.