Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Serampangan Menaikkan Cukai Rokok Bukti Dangkalnya Rasionalitas Negara dan Sri Mulyani

Tapi, apakah pemerintah dan Sri Mulyani bisa berfikir rasional? Saya kurang yakin bahwa rasionalitas publik adalah raison d'etre dari semua kebijakan pemerintah.

Ronny P. Sasmita oleh Ronny P. Sasmita
7 November 2022
A A
Cukai Rokok Naik Bukti Dangkalnya Rasionalitas Sri Mulyani MOJOK.CO

Ilustrasi Cukai Rokok Naik Bukti Dangkalnya Rasionalitas Sri Mulyani. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Soal cukai rokok, rasionalitas negara dan Sri Mulyani memang dangkal. Nafsu sama pajaknya, tapi nggak punya nyali menutup industri rokok.

Pemerintah berniat menaikan cukai rokok di kisaran angka 11% untuk tahun depan. Kenaikan ini tentunya bukan yang pertama. Jika tak salah mencatat, kenaikannya sudah beberapa kali terjadi. Jadi, tak heran harga rokok hari ini setara dengan atau melebihi biaya makan sehari-hari. 

Bandingkan dengan saat Anda belajar merokok, katakanlah sekitar 1990an atau 2000an. Harga rokok hanya sereceh harga permen. Tapi sekarang, justru melebihi seporsi makanan di warteg. 

Apakah karena biaya untuk tembakau, cengkeh, kertas papir, lem, atau gaji karyawan perusahaan rokok melambung tinggi? Jawabannya tentu tidak. Tapi karena negara kian ketagihan mengeksploitasi rokok untuk kepentingannya. Dari tahun ke tahun selalu demikian.

Kesal kepada Sri Mulyani

Jadi, harga asli rokok boleh jadi sebenarnya hanya setengah dari harga yang Anda bayar. Biasanya, 30 persen lebih plus sekian ratus rupiah per batang rokok akan lari ke saku pemerintah. Sisanya adalah biaya produksi, distribusi, dan promosi. 

Gaji buruh yang bekerja di pabrik rokok itu termasuk ke dalam biaya produksi. Menurut teori ekonomi yang dianut para kapitalis, buruh setara dengan mesin alias masuk kategori faktor produksi semata. Ya, tak berbeda dengan lembaga pemerintah BPS atau Bank Indonesia, yang melihat rakyat banyak hanya sebatas angka di dalam tabel belaka. Tak lebih. 

Jadi, wajar kalau para perokok dan pekerja di perusahaan rokok, baik UMKM atau konglomerasi, kesal luar biaya kepada Sri Mulyani yang isi kepalanya hanya menaikan cukai rokok. Negara dengan mudah menaikan pajak rokok, tapi buruh setengah mati memperjuangkan kenaikan gaji di satu sisi dan para konsumen rokok pun demikian di sisi lain. 

Konsumen (harus) selalu jadi korban

Lalu, saat cukai rokok naik bersamaan dengan kenaikan UMR, siap-siap saja konsumen yang akan menjadi korban. Karena itulah harga rokok yang dulunya seharga permen, kini sudah seharga satu sak semen. Bahkan ada jenama tertentu yang harganya sudah lebih tinggi dari salah satu bahan bangunan itu. 

Lebih dari itu, konon ceritanya tidak hanya tentang pendapatan negara, tapi juga tentang inflasi. Temuan BPS menyatakan bahwa salah satu pos pengeluaran terbesar masyarakat menengah ke bawah adalah rokok. Imbasnya, daya beli masyarakat terhadap kebutuhan pokok menjadi tertekan.

Untuk alasan pertama, kita tentu tak bisa berbuat apa-apa. Jika negara sudah berkehendak, misalnya secara serampangan mengerek cukai rokok, apa saja bisa dijadikan objek pajak. Mulai dari jumlah ikan yang berenang di akuarium sampai jumlah oksigen yang Anda hirup setiap hari. Itu semua bisa kena pajak suatu saat nanti, jika negara menginginkannya. 

Bahkan, negara bisa membuat Anda membayar pajak untuk sebuah aktifitas “onani atau masturbasi” dengan cara memberlakukan pajak “akses” terhadap video porno. Lagi-lagi jika negara berkehendak. Bahkan Tuhan pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ketika negara sudah berkehendak

Taruhlah suatu waktu nanti negara kewalahan mengawasi situs film porno. Kondisinya seperti negara-negara maju yang melihat peluang pada komoditas ganja atau marijuana. Negara bisa saja cukup mengeluarkan aturan tentang situs video porno atau livestreaming porno/bugil. 

Perusahaan-perusahaan perlendiran diperbolehkan menyediakan layanan film biru atau livestreaming bugil, tapi berbayar. Bayarannya boleh jadi mahal, karena pajak yang dikenakan akan mahal. Dengan begitu, aktivitas masturbasi atau onani akan berbayar secara tidak langsung, kecuali Anda bisa melakukan aktivitas tersebut hanya dengan merenung tanpa alat stimulan. Itu tentu lain cerita. 

Jadi, hasrat untuk menaikan pendapatan negara adalah resep umum untuk melegitimasi kenaikan pajak, termasuk pajak rokok. Rakyat bisa berbuat apa? Sejarah membuktikan bahwa hanya revolusi yang bisa melawan nafsu “pajak memajak” negara ini. Sebut saja revolusi Perancis dan Revolusi Amerika, misalnya.

Iklan

Tapi, cara berpikir pemerintah tentang relasi rokok dan inflasi ini hanya satu cara pandang. Dalam bahasa Aristoteles, kebijakan pemerintah diambil dalam perspektif “teleologis” alias berlandaskan pada tujuan, yakni mengurangi aktivitas merokok masyarakat. Asumsi dasarnya adalah bahwa merokok adalah aktivitas “tak baik”.

Baca Halaman Selanjutnya

Negara yang munafik

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 7 November 2022 oleh

Tags: BPSCukai RokokHarga rokokpajak negarasri mulyani
Ronny P. Sasmita

Ronny P. Sasmita

Penikmat Kopi dan Penggemar Berat Billy Joe Amstrong. Analis Senior di Indonesia Strategic and Economic Action Institution.

Artikel Terkait

Merunut campur tangan asing di balik kampanye antirokok yang tentang kebijakan Purbaya tak naikkan cukai rokok 2026 MOJOK.CO
Ragam

Merunut Campur Tangan Asing di Balik Kampanye Antirokok Menentang Kebijakan Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok

2 Oktober 2025
Dukung kebijakan Purbaya tak naikkan cukai rokok. MOJOK.CO
Catatan

4 Alasan Kebijakan Purbaya Tak Naikkan Cukai Rokok Tak Perlu Ditentang

1 Oktober 2025
cukai rokok, tembakau.MOJOK.CO
Ragam

Cukai Rokok Tak Naik: Melawan Tekanan Antirokok, Menjaga Nafkah Jutaan Petani dan Buruh

1 Oktober 2025
Purbaya Hendak Selamatkan Petani, tapi Malah Dijegal (Rokok Indonesia:Ekosaint)
Pojokan

Niat Mulia Purbaya Mencegah Kematian Industri Tembakau Malah Dihalangi, Sementara Aksi Premanisme Sri Mulyani Memeras Keringat Petani Dibela

1 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Ambisi jadi PNS di usia 25 demi hidup sejahtera. Malah menderita karena perkara gadai SK MOJOK.CO

Jadi PNS Tak Bahagia Malah Menderita, Dipaksa Keluarga Gadai SK Demi Puaskan Tetangga dan Hal-hal Tak Guna

16 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku Mojok,co

Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.