Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Selamat Jalan, Benny!

Ikhwan Hastanto oleh Ikhwan Hastanto
25 Oktober 2017
A A
benny-panbers-mojok

benny-panbers-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] Benny Panjaitan menjalani hidup terbaik yang bisa diharapkan seorang musisi.

Benny Panjaitan atau Porbenget Mimbar Mual Hamonangan Panjaitan adalah satu dari sedikit musisi Indonesia yang patut kita elu-elukan namanya. Kesuksesannya sebagai pencipta lagu-lagu legendaris untuk Panbers membuatnya menjadi ikon, sumber inspirasi, panutan, dan standar bagi anak-anak muda Indonesia, terkhusus anak muda Batak, pada dekade ’70-an.

Di Indonesia, bersama Panbers dalam ranah musik populer, Benny Panjaitan telah berhasil menyejajarkan diri dengan Koes Plus, band idolanya yang berubah menjadi pesaingnya di industri musik tanah air. Koes Plus dan Panbers memberikan angin segar kepada karir anak band kala itu karena industri musik sedang didominasi oleh penyanyi-penyanyi solo.

Bagi saya, Benny Panjaitan memiliki segala persyaratan yang diinginkan untuk bahagia di hari tuanya sebagai seorang musisi, merasa hidupnya telah terpenuhi. pengabdiannya untuk seni adalah teladan bagi setiap musisi muda. Pencapaiannya sebagai seorang penulis lagu adalah dambaan para penulis lagu muda.

Apabila disederhanakan, masalah yang dihadapi musisi adalah dua hal: 1) menciptakan karya idealis untuk membuat pasarnya sendiri, atau 2) menciptakan karya mengikuti kemauan pasar agar eksistensi bisa bertahan lama. Dilema ini biasanya membuat seorang musisi harus memilih satu jalan tertentu dan konsisten di jalan tersebut agar bisa sukses.

Benny Panjaitan dalam hal ini bisa menyeimbangkan kedua hal tersebut. Walaupun pada akhirnya dominasi permintaan pasar lebih banyak dituruti, namun selipan-selipan karya idealis tetap terdengar di hampir setiap album Panbers.

Banyak sekali reviu dari para kritikus yang membaptis album pertama Panbers, Kami Tjinta Perdamaian, sebagai yang terbaik dari seluruh album Panbers. Di album ini, keseimbangan jumlah lagu idealis Panbers yang sangat kental dengan unsur psychedelic rock dan pengaruh The Beatles (seperti di lagu Djakarta City Sounds dan Let Us Dance Together) sama dengan jumlah lagu “tuntutan pasar” masa itu macam Akhir Cinta dan Sendja Telah Berlalu. Hasilnya? Lagu idealis seperti Djakarta City Sounds mendapatkan apresiasi yang sangat luar biasa, dan lagu komersil seperti Akhir Cinta menjelma menjadi salah satu hits terbesar Benny Panjaitan.

Pernahkah terbayangkan lagu yang anda ciptakan begitu masif pengaruhnya sampai-sampai lagu tersebut diterjemahkan ke dalam 15 bahasa daerah? Itulah yang terjadi dengan lagu Gereja Tua.

Benny sendiri menurut saya adalah legenda. Parameter paling sah untuk menentukan apakah sebuah lagu oldies sudah menjadi legenda atau belum adalah dengan mencari tahu seberapa sering lagu tersebut diputar di bus cepat malam antarprovinsi. Selama lima tahun berkutat dengan rute Jogja–Lampung, saya dipaksa untuk terus mengonsumsi lagu legenda bertajuk Kemesraan, jangan ada dusta di antara kita, dan Widuri sehingga sampai bagian puisi cheesy-nya pun saya hafal.

Terselip di antara lagu-lagu tersebut ada pula Terlambat Sudah, Hidup Terkekang, dan tentu saja Gereja Tua milik Panbers. Melihat fakta ini, bisa jadi para armada bus antarprovinsi akan mulai mempertimbangkan peluang open endorse bagi band-band baru yang ingin melakukan promosi lagu dengan cara menanamkan lagu tersebut ke alam bawah sadar setiap penumpang.

Benny juga punya kemampuan untuk menabrak aturan tanpa dihukum. Guru bahasa Inggris mana yang tidak akan emosi melihat grammar dari lirik Benny Panjaitan di lagu HAAI sih? Apalagi kalau Anda mendengar pelafalan bahasa Inggris Benny Panjaitan di lagu ini yang sangat seadanya.

Tapi, kecacatan bahasa ini tidak serta-merta menghalangi lagu HAAI untuk menjadi standar baru musik Indonesia pada tahun itu. Bahkan salah satu awak The (International) Noise Conspiracy, band rock asal Swedia, mengatakan bahwa lagu-lagu psychedelic di album Kami Tjinta Perdamaian, termasuk HAAI, terdengar sangat emejing.

Perilaku ala rockstar yang dibuat Benny bersama Panbers masih menjadi salah satu yang ikonik. Sekarang saya tanya, hal apa yang lebih keren di dunia ini dibandingkan menyebarkan flyer konser bandmu menggunakan helikopter? Benny bersama Panbers melakukannya ketika menggelar konser di Stadion Teladan, Medan. Sudah, sudah. Poin ini terlalu absolut kekerenannya, tidak usah dibahas. Next.

Ibarat guru kungfu, Benny punya banyak murid karena karyanya. Pernahkah terbayangkan lagu yang anda ciptakan begitu masif pengaruhnya sampai-sampai lagu tersebut diterjemahkan ke dalam 15 bahasa daerah? Itulah yang terjadi dengan lagu Gereja Tua. Bisa dibayangkan 50 tahun lagi akan ada lomba bernyanyi lagu daerah dan Gereja Tua akan dinyanyikan para peserta dari berbagai daerah karena sudah dianggap sebagai lagu daerahnya masing-masing.

Apa yang kemudian membuat Benny bisa demikian istimewa dan total dalam berkarya? Jawabannya ada bagaimana ia dibesarkan. Hidup di lingkungan yang meyakini restu orang tua adalah faktor krusial membuat Benny Panjaitan menjadi orang yang sangat beruntung. Orang tuanya merestui jalan hidupnya sebagai musisi padahal orang tuanya adalah seorang bankir. Bisa dibayangkan akan ada berapa banyak legenda seperti Benny Panjaitan apabila orang tua di Indonesia bisa mencontoh mereka? Orang tua yang tidak memaksakan kehendaknya dan tunduk pada tekanan masyarakat terhadap apa pun jalan hidup anaknya.

Iklan

Mantap, ada kritik sosialnya.

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2017 oleh

Tags: Benny PanjaitanmusisiObituaripanbers
Ikhwan Hastanto

Ikhwan Hastanto

Artikel Terkait

Kalau Nanti Punya Uang, Saya Akan Beli Toyota Corolla 76 untuk Bapak MOJOK.CO
Otomojok

Kalau Nanti Punya Uang, Saya Akan Beli Toyota Corolla 76 untuk Bapak

20 Mei 2025
Selama Tulus dan Nadin Amizah Masih Bernyanyi, Maka Saya Belum Ingin Mati.MOJOK.CO
Seni

Selama Tulus dan Nadin Amizah Masih Bernyanyi, Maka Saya Belum Ingin Mati

1 Agustus 2024
Farid Stevy musisi jogja.MOJOK.CO
Kilas

13 Musisi Sepakat, Isu Krisis Iklim Semakin Mendesak Dibicarakan

3 Desember 2023
timbul raharjo mojok.co
Kilas

Prof. Timbul Raharjo, Rektor ISI yang Selalu Kedepankan Kreativitas Itu Telah Berpulang

6 September 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta merenung di hutan kota GBK.MOJOK.CO

Hutan Kota GBK Tempat Merenung Terbaik Para Pekerja SCBD Jakarta, Obat Stres Termanjur Meski Kadang Kesal dengan Kelakuan Pengunjungnya

18 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Perempuan Jawa Timur kerja di luar negeri rata-rata menjadi ART dan perawat lansia (Caregiver) di Taiwan karena mudah dan gaji besar MOJOK.CO

Susah Payah Kerja di Taiwan: Gaji Rp13 Juta tapi Hampir Gila, Keluarga Tak Pernah Peduli Kabar tapi Cuma Peras Uang

24 Februari 2026
Gagal seleksi CPNS dan tidak tembus beasiswa LPDP untuk kuliah S2 di luar negeri pilih mancing, dicap tidak punya masa depan oleh keluarga MOJOK.CO

Gagal LPDP dan Seleksi CPNS Pilih Nikmati Hidup dengan Mancing, Nemu Rasa Tenang meski Dicap Tak Punya Masa Depan

22 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.