Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Sarapan atau Uttaran: Sebuah Rencana Strategis Hidup Sehat

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
22 Februari 2016
A A
Sarapan atau Uttaran: Sebuah Rencana Strategis Hidup Sehat

Sarapan atau Uttaran: Sebuah Rencana Strategis Hidup Sehat

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Suatu hari aing dan teman-teman sekampus yang kerap berkumpul bersama menyadari: sejak kami bebas teori, kami menjadi semakin gemuk. Bisa dibilang, 8 dari 10 orang berat badannya naik drastis dibanding tiga-empat tahun lalu. Kesadaran itu berubah menjadi nostalgia sekaligus siksaan batin ketika fasilitas Memories di Facebook membuat kami seminggu sekali harus menjumpai post foto lama kami bersama yang menunjukkan tubuh kami yang masih langsing nan semampai.

Jika yang gemuk hanya satu-dua orang, itu bisa jadi kesalahan personal, tetapi jika 8 dari 10 orang (udah kayak survei pembalut aja) menggemuk di periode yang sama, ini pasti konspirasi Terstruktur, Sistematis, dan Masif.

Rata-rata teman yang menggemuk ini semuanya pekerja kreatif (eufemisme untuk kerjaan menghadap laptop sepanjang hari). Fix bahwa sebenarnya kami ini kurang gerak.

Coba bandingkan dengan masa-masa SD, SMA, atau awal kuliah ketika tubuh bergerak sedemikian energiknya. Saat SD, kita masih rutin SKJ seminggu sekali. Sementara di SMA, jam belajar dari pukul 7 sampai pukul 14.00, bahkan sampai pukul 17 ketika kelas XII atau pukul 22.00 ketika mengambil les di bimbingan belajar, memberi kesempatan tubuh untuk banyak wara-wiri dan bekeringat.

SMA aing luas dan berlorong-lorong. Berjalan dari kelas ke kantin bolak-balik saja sudah makan jarak 200–300 meter. Belum lagi kalau bolak-balik izin selama pelajaran karena mau Salat Dhuha atau sekadar melipir lagi ke kantin (cuma beli Chocolatos) dengan tabir alasan mau “ke belakang”. Hal yang sama masih berlaku selama kuliah aktif. Kampus lebih luas dengan ruang-ruang yang terpisah jauh. Waktu kami kuliah, untuk pindah dari satu kelas ke kelas lain saja harus menyeberangi satu kampung. Kadang malas bawa motor karena parkiran tidak selalu lowong.

Ketika mulai bebas teori, lulus, dan bekerja, gerak kami mengerucut menjadi berjalan kaki ke dan dari toilet. Kalori menumpuk, duit banyak sehingga bebas beli makanan chantique kayak di IG, dan gerak makin terbatas. Ini alamat diabetes, kolesterol tinggi, asam urat, jantung, dan stroke udah dadah-dadah dari jarak lima tahun di depan.

Kalori Numpuk Kok Masih Lapar?

Habis baca artikel Mas Kokok kemarin soal kalori yang masuk enggak seimbang dengan yang keluar, aing jadi bertanya-tanya, kenapa kita masih lapar walau kalori dalam tubuh kita masih mencukupi untuk suplai energi sepanjang hari?

Aing sering banget mengalami itu. Kadang sarapan dengan porsi besar dengan maksud baru akan makan lagi sore atau malam. Tapi, baru pukul 1 siang, perut aing udah keroncongan. Setelah baca-baca di doktersehat.com, aing menemukan bahwa meski kenyang, pikiran bisa mengirim pesan bahwa kita lapar ketika kita, di antaranya, sedang kurang selo, kurang tidur, dan kurang piknik (poin terakhir ini serius).

Pekerjaan kreatif bikin aing kurang selo. Mikir terus. Kadang aing tidak bisa menghindari kejenuhan atas rutinitas pasif menghadap laptop. Dan bukan sekali-dua kali seminggu aing kurang tidur karena kena deadline. Kemampuan manajerial yang buruk juga membuat aing sulit punya waktu untuk piknik. Lengkap sudah (lihat diabetes dan stroke dadah-dadah lagi dari masa depan).

Beban itu makin berat dalam dua tahun terakhir. Berat tubuh aing pada awal 2013 adalah 53 kilogram. Sekarang? 63 kilo.

63 KILOGRAM. *nangis*

Gemuk dan kurang olahraga bikin aing gampang ngos-ngosan ketika beraktivitas fisik. Suatu ketika aing memaksa diri jalan kaki sekira 2 kilometer. Begitu selesai, tubuh serasa limbung dan pandangan berkunang-kunang seperti akan pingsan. Jika bekerja pun tubuh serasa malas dan berat serta kerja pikiran lamban.

Teman-teman cowok aing punya agenda futsal seminggu kali. Dasar olahraga bias gender, aing enggak pernah diajak. Dendam, aing memutuskan memilih olahraga yang individualistis untuk buktikan aing enggak butuh teman: fitness. Tapi, tinggi gunung seribu janji, lain di mulut lain di aksi…. *nangis lagi*

Selain olahraga, aing sadar perlu atur cara makan. Terutama sejak menyaksikan ayah aing terkena asam lambung (penyakit ini sungguh menyiksa dan menurunkan kualitas hidup). Terbayang-bayang dengan semua kengerian itu, akhirnya, dalam resolusi 2016 aing membuat renstra untuk hidup sehat yang diturunkan menjadi langkah-langkah berikut:

1. Olahraga rutin seminggu sekali

Tujuan utamanya untuk bakar lemak, latih jantung karena kurang gerak, dan menajamkan kecerdasan motorik *apa sih*. Habis, sehari-hari yang kerja cuma jari tangan, itu pun cuma dua yang dipakai. Ngeri kan kalau besok kita jadi manusia kayak di film Wall-E.

Tujuan sampingannya biar bisa post foto keringetan ber-caption “5K… done!” di IG kayak @bclsinclair (aing nga suka Dian Sastro. Nga pernah suka sama saingan).

Olahraga apa yang aing pilih? Badminton. Udah, enggak usah dikaitkan dengan etnis. Aing suka badminton karena sifatnya permainan dan melibatkan orang lain. Nyatanya aing tetap makhluk sosial, lebih senang kalau ada teman. Fungsi turunannya, aing bisa post foto lagi di IG pakai tagar #pertemanansehat.

2. Sarapan dan makan teratur

Aing sadar, enggak sarapan bikin makan siang aing jadi banyak. Appetizer lontong sayur, maincourse nasi padang, dessert-nya bubur kacang hijau. Habis makan siang, aing ngantuk. Kerjaan enggak kelar sehingga kudu lembur, lalu kurang tidur, lalu enggak bisa ketemu pacar, lalu stres. Enggak sarapan dampaknya sistemis, men.

Sarapan alias makan pagi juga merapikan jadwal makan aing. Kalau sarapan, makan siang dan malam jadi tepat waktu juga. Kalau enggak sarapan, makan siang di malam hari, makan malam dini hari. Tujuan makan teratur supaya enggak kena maag dan asam lambung.

3. Makan makanan sehat

Alias sarapan minim karbohidrat sekaligus banyakin sayur dan buah yang kaya nutrisi.

Selain bikin malas dan ngantuk, sarapan karbo cuma nambahin gula darah dan enggak sinkron sama agenda aing untuk ramping dan energik. Kata kawan, aing perlu coba sarapan ubi manis, buah, dan air putih. Makan siangnya gado-gado atau lotek. Makan malamnya cukup ngemil buah. Pokoknya banyakin nutrisi supaya bisa prodigy kayak Joey Alexander. *prodigy muke lu jauh, Prim*.

4. Berhenti nonton Uttaran

Sumpah, men, kalau belum ngikutin Uttaran, tolong jangan pernah coba. Tiga jam sehari, tujuh jam seminggu, plus sekian jam waktu tambahan untuk nggosipin intrik Tapasya. Aing enggak akan punya waktu untuk olahraga lagi.

 

Disclaimer: Tulisan ini termasuk dalam #MojokSore. Mojok Sore adalah semacam advertorial yang disajikan oleh tim kreatif Mojok yang dikenal asyik, jenaka, dan membahagiakan. Bagi Anda yang mau mempromosikan produk-produk tertentu, silakan menghubungi [email protected].

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2019 oleh

Tags: AdvertorialkaloriMojokSoresarapansarapan sehat
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Jelajah Nusa Penida, Pulau Eksotis yang Menghipnotis di Sebelah Tenggara Bali MOJOK.CO
Kilas

Jelajah Nusa Penida, Pulau Eksotis yang Menghipnotis di Sebelah Tenggara Bali

31 Oktober 2023
Surat Terbuka untuk Kepala Suku Mojok
Penjaskes

Surat Terbuka untuk Kepala Suku Mojok

12 Desember 2018
Indonesia Rasanya Mustahil Terkena Bencana Kelaparan
Pojokan

Indonesia Rasanya Mustahil Terkena Bencana Kelaparan

16 November 2018
5 Aktivitas Menyegarkan Diri di Tengah Kerja Keras Para Milenial (Oronamin C)
Penjaskes

5 Aktivitas Menyegarkan Diri di Tengah Kerja Keras Para Milenial

9 November 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Sarjana nganggur diteror info loker di grup WA keluarga. MOJOK.CO

Grup WhatsApp Keluarga Besar Isinya “Teror” bagi Sarjana Nganggur, Sehari-hari Dikasih Info Loker Aneh-aneh

18 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Kapok dan muak buka bersama (bukber) di restoran atau tempat makan bareng orang kaya. Cerita pelayan iga bakar Jogja jadi korban arogansi MOJOK.CO

Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan

20 Februari 2026

Video Terbaru

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026
Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.