Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Rencana Kuliah Tatap Muka dan Perasaan Takut Mati sebagai Orang Tua

Bachtiar W. Mutaqin oleh Bachtiar W. Mutaqin
14 Juni 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Covid-19 bikin ratusan anak jadi yatim piatu. Itulah kenapa sebagai orang tua, saya cemas dengan rencana kuliah tatap muka semester depan.

“Bapak, kenapa Elsa yang akhirnya jadi ratu?” tanya anak pertama saya yang masih berusia 5,5 tahun. Iya, Elsa yang itu, yang di film animasi Frozen.

Saya jawab, “Karena kedua orang tuanya sudah meninggal dan Elsa adalah anak pertama. Besok kamu juga gitu ya, kalau Bapak dan Ibu sudah meninggal, gantian kamu yang jagain adik.”

Anak sulung saya mungkin anggap pembicaraan itu sudah kelar, tapi setelah ngomong begitu rasanya justru saya yang pikirannya baru terbuka. Hal yang bikin saya merenung sejenak.

Gimana ya kalau saya mati dalam waktu dekat? Bagaimana nasib anak-anak saya dan istri?

Jujur saja, beberapa tahun terakhir saya mulai takut akan kematian. Bahkan ketakutan itu saya rasakan makin meningkat akhir-akhir ini.

Ketakutan itu ada hubungannya dengan status saya sebagai pendidik di sebuah universitas, dan rencana kuliah tatap muka yang akan dilaksanakan mulai semester depan alias bulan Agustus 2021.

Untuk anak-anak sekolah (PAUD hingga SMA), kegiatan tatap muka direncanakan akan dimulai pada minggu kedua Juli 2021. Hal ini saya ketahui saat rapat wali murid seminggu yang lalu.

Untungnya, sekolah anak saya tetap memfasilitasi murid-murid yang orang tuanya tidak menghendaki anaknya untuk ikut kelas tatap muka, termasuk saya dan 27% orang tua lain.

Oh iya, usia saya yang masih kurang dari 45 tahun dan tidak tercatat mempunyai komorbid menjadi salah dua alasan kenapa mata kuliah yang saya ampu terpilih untuk dilaksanakan secara luring.

Itu artinya mulai semester depan saya harus sering keluar rumah dan akan ketemu dengan banyak orang.

Pada praktiknya, mungkin nanti saya masih dapat ngeyel dengan tetap bersikeras untuk mengajar dari rumah. Lha wong orang tua saya sendiri aja semenjak pagebluk ndak pernah ta kunjungi kok malah ngaboti mengisi kuliah, misalnya. Tapi apakah pendidik yang lain juga berani punya pilihan itu?

Saya ambil contoh satu kasus. Awal Juni 2021 dilaporkan ada klaster di salah satu SMA di Pekalongan, Jawa Tengah.

Guru yang sedang sakit dan mengalami gejala panas tetap memaksakan untuk berangkat dan mengajar dari sekolah. Akibatnya, 38 dari 58 guru di sekolah tersebut terkena Covid-19. Bhaa…

Iklan

Pertanyaannya, siapa yang dapat disalahkan dari kasus ini? Apakah guru yang sakit tersebut?

Eits, tunggu dulu. Guru tersebut tetap masuk dan mengajar dari sekolah karena dia ndak punya pilihan lain.

Dia takut tunjangan kinerjanya dipotong karena izin ndak masuk kerja. Kondisi yang jamak terjadi dan akhirnya memunculkan klaster sekolah, terutama setelah pemerintah mengeluarkan aturan bahwa guru wajib hukumnya untuk mengajar dari sekolah.

Saya memahami bahwa hal ini adalah salah satu risiko pekerjaan yang harus ditanggung oleh pelayan publik, seperti tenaga kesehatan, guru SMA di Pekalongan, maupun saya di universitas.

Permasalahannya, siapa yang dapat menjamin bahwa kami semua akan tetap hidup ketika sudah terkena Covid-19 dan harus dirawat, misalnya?

Sebelum berpulang dan bertemu Tuhan, Cak Rusdi Mathari pernah menulis dalam salah satu bukunya yang berjudul Seperti Roda Berputar (2018): “Jangan pernah sakit. Teruslah sehat dan berbahagia. Sakit itu sepi, menyakitkan, dan tentu saja mahal.”

Masih terlintas jelas dalam ingatan bahwa saya menangis setelah menyelesaikan buku beliau. Saya membayangkan ada pada posisi putra beliau, Voja Alfatih, apa yang dia pikirkan dan rasakan saat memalingkan muka sambil menggenggam erat tangan Cak Rusdi.

Saya ndak mau hal itu terjadi pada anak-anak saya, tidak dalam waktu dekat.

Masalahnya, awal Juni kemarin saya membaca sebuah artikel pada portal BBC. Artikel yang ditulis oleh Vikas Pandey dan Andrew Clarance tersebut sukses membuat hati saya hancur lebur. Mereka berdua menjelaskan dengan lugas bagaimana Covid-19 dengan kejamnya membuat ratusan anak menjadi yatim piatu.

Anak-anak yang belum paham bahwa orang tuanya sebenarnya sudah tiada, bukan masih hidup dan sedang pergi bekerja.

Hal ini harus kita akui secara nyata juga terjadi di Indonesia. Kita seharusnya belum lupa tentang kisah Aisyah, seorang anak berusia 10 tahun di Tangerang Selatan yang menjadi yatim piatu karena Covid-19. Ada juga Kaka Rhidofa beserta kakak dan adiknya yang juga kehilangan kedua orang tuanya karena Covid-19.

Pertanyaan berikutnya, siapa yang dapat menjamin anak-anak ini nanti? Siapa yang bisa menjamin anak-anak yatim piatu itu tidak menjadi korban perdagangan, mengalami trauma dan kesedihan berlarut, serta (amit-amit naudzubillah min dzalik) mengalami pelecehan?

Kita semua tahu bahwa saat ini sedang terjadi lonjakan dan peningkatan kasus Covid-19 yang sangat signifikan pasca-lebaran. Rata-rata dalam seminggu terakhir, tercatat ada 7.326 kasus baru dan 183 kematian yang dilaporkan.

Melihat angka-angka itu, tentu saja saya berharap Pemerintah meninjau kembali kebijakan mereka terkait sekolah dan rencana kuliah tatap muka. Minimal menunda tatap muka sampai kondisinya lebih kondusif.

Kecuali kalau memang risiko sudah diminimalisir sekuat mungkin atau kematian-kematian tersebut hanya dianggap sebagai angka-angka statistik yang tak bernyawa, itu sih terserah Pemerintah juga sih.

Tiba-tiba di tengah renungan serius saya di meja makan itu, anak kedua saya yang masih berumur 3 tahun menimpali jawaban saya ke kakaknya, “Ya kalau Bapak belum mau meninggal, kita main kartu aja!”

Perkara mati memang menunggu soal giliran dan urutan, tapi ya nggak ditungguin sambil main kartu juga dong, Nak. Mbok ya yang lain… main saham, gitu.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Mahasiswa yang Ngira Dosen Tak Ngapa-ngapain selama Pandemi dan tulisan Bachtiar W. Mutaqin lainnya.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: COVID-19Kampuskematiankuliahkuliah tatap mukapandemirencana kuliahSMAtakut matiuniversitasyatim piatu
Bachtiar W. Mutaqin

Bachtiar W. Mutaqin

Dosen Geografi UGM dan peneliti tamu di Guilin University of Technology. Tertarik dengan isu-isu lingkungan dan perubahan iklim.

Artikel Terkait

ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.
Ragam

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO
Mendalam

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

28 Januari 2026
Kuliah, Lulus S1, Kebayoran Baru Jakarta SelatanMOJOK.CO
Ragam

Lulus S1 di Usia 25 adalah Seburuk-Buruknya Nasib: Terlalu Tua di Mata HRD, tapi Juga Dianggap Minim Pengalaman Sehingga Sulit Dapat Kerja

28 Januari 2026
Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening MOJOK.CO
Esai

Lula Lahfah Beri Pelajaran Penting tentang Kabar Duka: Saat Kematian Tak Dibiarkan Hening

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Bagi Pekerja Bergaji Dua Digit “Nanggung” di Jakarta, Menyewa Apartemen di Tengah Kota Lebih Baik Ketimbang Ambil KPR di Pinggiran

9 Februari 2026
blok m jakarta selatan.mojok.co

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
bpjs kesehatan.MOJOK.CO

Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif

5 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.