Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Perihal Anak dan Kerumitan yang Hadir Bersamanya

Kukuh Purwanto oleh Kukuh Purwanto
27 Juli 2016
A A
Perihal Anak dan Kerumitan yang Hadir Bersamanya

Perihal Anak dan Kerumitan yang Hadir Bersamanya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Permulaan kejadiannya adalah sebagai berikut: Tiga orang wanita dengan daster motif bunga berdiri berdempetan sambil memilih pelbagai macam sayuran yang digelar di gerobak Cak Sopyan. Saya di sisi seberang, mendengar percakapan mereka mengenai uang arisan dan sulam alis dan, pada akhirnya, pencapaian anak-anak mereka.

“Dion ikut les Inggris, Jeng,” kata wanita yang berdiri di tengah. Matanya berbinar lebih cerah ketimbang matahari pagi itu ketika ia melanjutkan, “Ya ampun, sekarang dia lancar banget ngomong Inggrisnya. Mertua saya sampai gelagapan pas diajak ngobrol Dion di telepon kemarin.”

Kedua wanita di sisinya berdecak kagum untuk kemudian bercerita mengenai pencapaian anak mereka sendiri. Wanita bersuara cempreng di sisi kanan berkata bahwa anaknya tahun depan bakal disekolahkan ke Jakarta, di sekolah yang lebih banyak mencetak siswa juara olimpiade ketimbang sekolah di daerah manapun yang tercantum di peta. Wanita di sisi satunya, yang lupa menghapus kosmetik sisa semalam sehingga wajahnya berbelang aneh, mengisahkan macam-macam les yang diikuti anaknya agar kelak ia menjadi manusia yang berguna.

Berapa usia anak mereka? Barangkali dua atau tiga belas tahun, atau lebih tua lagi. Tetapi ketika saya bertanya pada ketiga wanita itu, mereka menjawab serempak seperti paduan suara: empat tahun!

Jawaban itulah yang kemudian membuat saya kaget, tak percaya, dan kemudian membatin dalam hati: Taeeeeeeeeeeeeeek

Pola pengasuhan pendidikan seperti yang dicontohkan oleh tiga wanita tadi mungkin sekarang sudah sangat biasa dan lumrah, dan ini memunculkan sebuah pertanyaan penting bagi saya: sebenarnya, apa tujuan kita memiliki anak?

Jawabannya amat beragam dan subjektif, tetapi saya curiga bahwa motif kita memiliki anak adalah sekadar menggenapi kodrat. Pasangan yang lama menikah tapi tak kunjung memiliki anak jamak mendapat cap miring dari masyarakat. Maka, saat usia pernikahan sudah menyamai tenor kredit motor tapi telat datang bulan pun belum pernah, kelabakanlah kita. Tujuan memiliki anak tiba-tiba hanya sekadar untuk menyumpal mulut orang-orang, tidak yang lain.

Itu sama belaka dengan pernikahan; ada banyak pasangan kebelet nikah yang sebenarnya tak tahu untuk apa mereka menikah selain melengkapi ruang kosong di hati yang, mereka pikir, tak mungkin bisa diisi dengan kegiatan berguna lainnya —memelihara bonsai, atau mengurus ikan cupang, misalnya. Maka, berbondong-bondonglah mereka ke KUA, dengan membawa mas kawin sekarung mimpi utopis sembari menolak ingat bahwa pernikahan bukan kegiatan yang cocok untuk mengisi waktu luang.

Namun, mendidik anak memang lebih rumit daripada menyiapkan resepsi pernikahan. Terkadang kita terjebak dalam kerangka pikir orang dewasa yang kaku dan linier ketika berhadapan dengan anak yang berpikiran terbuka pada hal apa pun dan tampak tak terpola. Kita lebih senang mengunci pintu dan menutup jendela lalu menyuruh anak agar tidur secepatnya dengan durasi yang selama mungkin, semata agar kita tak perlu susah payah mengejarnya di halaman. Anak yang rajin duduk manis di dalam rumah selalu tampak sebagai anak ideal bagi orang dewasa, terutama mereka yang kondisi fisiknya mulai mengharukan sehingga bersahabat karib dengan param kocok dan koyo cabe.

Masih ingat dengan slogan banyak anak banyak rezeki? Itu slogan bijak di era sulit pasca-kemerdekaan. Anak dianggap sebagai investasi terbaik di masa tua, sehingga semakin banyak anak memberi jaminan pensiun yang semakin besar. Itu bila semua anaknya bekerja dan mapan dan tidak meniru kelakuan Malin Kundang.

Didorong oleh pola pikir tersebut, sembari mengesampingkan kemungkinan anaknya bertumbuh tak sesuai harapan, kebanyakan orangtua menitipkan beban yang sedemikian besar kepada anaknya supaya rajin bersekolah agar kelak menjadi pegawai di perusahaan besar, syukur-syukur bila menjadi insinyur. Di negara yang sibuk membangun, insinyur adalah cita-cita nomor satu. Penulis di nomor empat ratus dua puluh sembilan.

Masalahnya, tak semua anak senang menjadi insinyur, dan tak sedikit pula yang enggan menjadi pegawai seumur hidup. Semua anak terlahir dengan bakat masing-masing, yang apabila dikembangkan tentu akan mengantar mereka ke puncak kesuksesan. Namun, ego orangtualah yang menjadikan seorang calon maestro musik klasik berakhir sebagai seorang juru ketik Kelurahan, atau calon pemecah rekor renang Olimpiade malah sibuk menyortir paketan pos, atau penerus terbaik Karl Marx terpaksa harus jadi tukang pencatat meteran listrik.

Egoisme orangtua mendapat dukungan dari pemerintah, sedihnya begitu. Dengan kurikulum yang ada sejak dulu hingga kini, akuilah bahwa sekolah adalah peternakan manusia terbaik, yang ketika lulus akan segera diambil daging atau telur atau bulunya. Murid yang memiliki ketertarikan pada bidang menyulam atau tata rias atau fotografi, akan mendapati kesulitan besar mengembangkan bakatnya di sekolah umum, dan ketika lulus ia akan semakin gamang.

Ah ya, mengenai sekolah, ada satu kisah yang saya dapat dari Ali, teman kerja saya yang jenaka. Ia bertutur tentang anak kakaknya yang duduk di bangku kelas 1 SD dan pintar luar biasa. Lancar membaca sejak balita, sudah mengaji Quran ketika sebayanya masih gagap mengeja Juz Amma, hapal perkalian dasar hingga angka sepuluh, maka tak susah membayangkannya menjadi siswa cemerlang kelak. Dan memang itu yang terjadi; ia diganjar rangking 3 di semester pertamanya bersekolah. Itu sesuatu yang membikin bangga siapapun, kecuali orangtuanya.

Iklan

“Kakakku gendheng,” kata Ali dengan paras seperti hendak menelan orang. “Dia bilang kalau seharusnya itu anak bisa dapat juara 1, kayak dia pas sekolah dulu, bukannya juara 3 yang cuma bikin malu dirinya.”

Kawan, itulah seburuk-buruknya perlakuan terhadap anak, lebih buruk ketimbang kelakuan tiga wanita di atas, dan sama jahatnya dengan menampar anak di muka umum. Anak butuh dihargai, sesepele apa pun pencapaian yang ia dapat, dan pengabaian terhadap kebutuhan itu akan mencetak remaja banyak tingkah yang kalap membuktikan eksistensinya untuk kemudian menjadi orang dewasa yang profilnya Anda temui di halaman muka koran kuning.

Maka, untuk Anda yang sudah memiliki anak, ada baiknya Anda meluangkan waktu lebih banyak untuk anak Anda. Lupakan sejenak Pokemon Go, abaikan sebentar lirikan manja istri Anda, lalu ajaklah anak Anda bermain di luar. Tanyakanlah apa saja yang ia alami dan rasakan hari ini, dan ceritakanlah apa-apa yang menarik tentang dunia yang sedang ia tinggali.

Sementara Anda yang kepingin punya anak, ada baiknya bila Anda mendiskusikannya ulang dengan pasangan. Sebelum Anda melucuti apa-apa yang bisa dilucuti malam nanti, bertanyalah pada dia dan pada diri sendiri: sudah pantaskah kita menjadi orangtua saat ini?

Dan Anda yang masih sendiri dan mulai dihinggapi rasa cemas kalau-kalau KUA roboh sebelum Anda bertemu jodoh, duduklah dengan tenang. Ambil hape Anda dan mainkan game apa pun yang Anda suka dan berhentilah berpikir bahwa memiliki anak itu enak. Indonesia termasuk negara yang penduduknya rajin sekali beranak, dan keputusan Anda untuk menjomblo hingga akhir hayat adalah KB terbaik di muka bumi, jauh lebih efektif dan murah ketimbang memasang spiral.

Terakhir diperbarui pada 11 Agustus 2021 oleh

Tags: anakNikahorang tuaparenting
Kukuh Purwanto

Kukuh Purwanto

Artikel Terkait

orang tua.MOJOK.CO
Sehari-hari

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
orang tua, ortu temani anak utbk ugm.MOJOK.CO
Sehari-hari

Jangan Minder Kalau Kamu Belum “Jadi Orang” di Usia 30-an, Itu Masuk Akal Secara Biologis dan Sosial

11 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Ijazah S1 jurusan Sastra Indonesia dari PTN terbaik di Jawa Timur alami penolakan 150 lamaran kerja. Buat pekerjaan freelance aja tidak bisa hingga jadi beban keluarga MOJOK.CO

Sarjana Sastra Indonesia PTN Terbaik Jadi Beban Keluarga: 150 Kali Ditolak Kerja, Ijazah buat Lamar Freelance pun Tak Bisa

21 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah MOJOK.CO

Rasa Sanga (1): Sunan Gresik Membawa Masuk Islam ke Jawa Lewat Dapur dan Semangkuk Bubur Harisah

23 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.