Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Panduan Memahami Nyinyiran ‘Veteran Pernikahan’ bahwa Nikah Tak Selalu Hepi-hepi

Lya Fahmi oleh Lya Fahmi
5 Juli 2020
A A
Panduan Memahami Nyinyiran ‘Veteran Pernikahan’ bahwa Nikah Tak Selalu Hepi-hepi

Panduan Memahami Nyinyiran ‘Veteran Pernikahan’ bahwa Nikah Tak Selalu Hepi-hepi

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Veteran pernikahan tak jarang sinis dengan pasangan yang akan atau baru nikah. “Halah, sekarang sayang-sayang, besok kalau sudah lama lihat saja.”

Sebagai psikolog yang bertugas di puskesmas, saya sudah tidak bisa menghitung berapa kali bertemu dengan pasangan yang akan menikah atau pasangan yang sudah menikah. Selama bekerja dengan pasangan yang akan menikah dan salah satu dari pasangan yang sudah menikah, saya mulai menyadari ada satu perbedaan mendasar di antara mereka.

Pasangan yang akan menikah melihat masalah hanya sebagai potensi dan mereka optimis pasti bisa menyelesaikannya. Sedangkan pasangan yang sudah menikah sering memandang permasalahan sebagai sesuatu yang nyata terpampang di depan mata.

Jika pasangan yang akan menikah selalu memancarkan optimisme, sedangkan pasangan yang sudah menikah punya kecenderungan memancarkan aura-aura sambat yang memancarkan skeptisme.

Para senior dalam kehidupan pernikahan tak jarang terkesan sinis dengan pasangan yang akan atau baru menikah. “Halah, sekarang sayang-sayang, besok kalau sudah lama lihat saja.”

Ketika awal menikah dulu, saya termasuk yang tidak nyaman dengan ocehan pahit para veteran pernikahan ini. Dalam hati, “Kalau pernikahanmu ndak bahagia, ya jangan anggap semua pernikahan akan berjalan ndak bahagia juga, dong, Sukriii!”

Mengingat usia pernikahan saya dan suami menginjak usia sembilan tahun, saya bahkan mengakui kalau saya mulai masuk pada fase-fase suka nyinyir sama muda-mudi yang kebelet nikah. Baru sekarang saya paham kenapa para veteran pernikahan punya hobi pasang wajah “liat-aja-nanti”.

Apakah semakin lama usia pernikahan pasangan yang menjalaninya semakin tidak bahagia? Misalnya ketika akhirnya saya mulai nyinyir juga, apa saya juga mulai ndak bahagia?

Bahagia atau tidak bahagia menjalani pernikahan itu soal pemaknaan. Yang sahih dari bertambahnya usia pernikahan adalah makin berkembang biaknya tantangan. Nah, diksi “tantangan” itu kan arahnya positif, kalau mau pakai bahasa negatifnya: “masalah semakin buanyaaaak, Kakaaak.”

Dulu masalah kita pikir dan selesaikan sendiri, sekarang kita jadi wajib mikirin dan menyelesaikan masalah pasangan kita. Kadang beserta masalah-masalah keluarga mertua kita.

Nah, sebagai bocah yang pinginnya leren saja, bergerak dan bekerja untuk menaklukkan tantangan itu yang bikin ndak bahagia. Kalau malesan ya gitu jadinya, tapi kalau hati dimantapkan untuk menghadapi tantangan ya yang ada malah bikin bahagia. Bahkan ketika masalahnya masih ada.

Sebagai psikolog puskesmas yang selalu berhadapan dengan calon pengantin, satu hal yang selalu saya sampaikan pada pasangan-pasangan ini adalah bahwa mereka harus selalu siap dengan segala bentuk perubahan seusai nikah.

Baik itu perubahan lingkungan, perubahan diri mereka sendiri, plus—wabilkhusus—perubahan pasangan. Misalnya… dulu kayaknya waktu pacaran asyik dan rajin-rajin aja kenapa setelah nikah jadi kayak bekicot gini ya pasangan saya?

Wajar sih. Soalnya, seseorang memutuskan nikah berdasarkan realitas lingkungan, realitas dirinya, dan realitas pasangan pada waktu sekarang. Padahal nikah merupakan panggung pertunjukan dengan durasi panjang berepisode-episode. Sepuluh, dua puluh, bahkan tiga puluh episode lagi.

Iklan

Apakah diri kita masih sama dengan kita yang sekarang? Apakah pasangan kita masih orang yang sama? Atau apakah lingkungan sekitar kita masih sama seperti ini? Hm, tidak selalu kan?

Maka dari itu saya sering menekankan ke calon pengantin untuk selalu beradaptasi. Inti dari menikah itu ya saling rela beradaptasi dan berusaha tetap satu frekuensi. Tapi namanya adaptasi itu kan ndak pernah nyaman. Dari yang tadinya duit gaji dimakan sendiri, sekarang harus dibagi.

Awalnya mungkin nyaman-nyaman aja, lama-lama jadi ngerasa kurang dan kerja keras pun dipaksa jadi rutinitas. Oleh karena itu, wajar kalau para senior-pernikahan itu suka menyiratkan kalo nikah itu banyak nggak enaknya. Susah.

Kalau yang kamu harapkan dari nikah itu adalah supaya jalan-jalan ada temannya, makan ada temannya, bisa pajang foto mesra di Instagram, ya siap-siap kecewa aja. Mau nikah kok ya ndak napak bumi. Hih.

Tapi, dedek-dedek yang mau dan baru menikah tenang saja. Tak perlu terlalu khawatir dengan bayangan-bayangan seram yang digambarkan oleh para veteran pernikahan. Permasalahan rumah tangga akan datang secara bertahap dan sesuai dengan perkembangan rumah tangga. Ibarat anak SD, tentu tak kan pernah mendapati soal ujian aljabar, karena itu adalah materinya anak SMA.

Apa yang disampaikan oleh pasangan-pasangan senior, anggap saja kisi-kisi ujian. Apa yang ingin mereka sampaikan hanyalah setiap pasangan harus siap dengan realitas pernikahan. Masa depan selalu menjadi misteri, termasuk masa depan pernikahan.

Hanya saja, para veteren itu sering lupa bahwa bayi usia sebulan belum waktunya belajar berjalan dan anak TK belum waktunya berpacaran. Semua orang ada waktu dan prosesnya. Dan, nikmati saja proses yang sedang dijalani sekarang.

BACA JUGA Jangan Menikah Kalau Maunya Cuma Cari Bahagia atau tulisan Lya Fahmi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2020 oleh

Tags: Nikahpernikahanpsikologiveteran
Lya Fahmi

Lya Fahmi

Psikolog, tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Ibu yang sudah menua sering diabaikan anak
Catatan

Orang Tua yang Menua adalah Ketakutan Terbesar Anak, meski Kita Menolak Menyadarinya

13 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lontong dan kangkung, kuliner tua Lasem dalam khazanah suluk Sunan Bonang MOJOK.CO

Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan

21 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Burger Aldi Taher Juicy Lucy Mahalini Rizky Febian DUAR CUAN! MOJOK.CO

Memahami Bagaimana Aldi Taher dan Jualan Burgernya yang Cuan Mampus dan Berhasil Menampar Ilmu Marketing Ndakik-Ndakik

17 Maret 2026
mudik gratis Lebaran dari Pertamina. MOJOK.CO

Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya

19 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.