Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Menuntaskan 640 Kilometer Jogja Lamongan Bersepeda demi Ziarah Batin dan Menunaikan Rindu pada Ibu

Mohammad Sadam Husaen oleh Mohammad Sadam Husaen
12 September 2025
A A
Naik Sepeda Jogja Lamongan demi Menunaikan Rindu pada Ibu MOJOK.CO

Ilustrasi Naik Sepeda Jogja Lamongan demi Menunaikan Rindu pada Ibu. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Musuh bebuyutan pesepeda

Tentu saja, jalan nggak selalu mulus. Di jalanan menuju Ngawi, saya harus berhadapan dengan musuh bebuyutan pesepeda: angin. 

Bukan angin sepoi-sepoi manja, tapi jenis yang frontal. Angin kencang ini bikin sepeda yang saya kayuh seolah nggak maju-maju. Saking kencangnya, ketika saya istirahat di warung es degan, sepeda yang saya sandarkan di meja warung sampai roboh diempas angin.

Belum lagi tanjakan sebelum dan sesudah Watu Jago menjelang Padangan. Bukan karena kemiringan, tapi karena di sana saya harus sering berpapasan dengan truk-truk besar yang bikin sepeda karbon saya goyang kayak odong-odong. Perjalanan dari Jogja menuju Lamongan memang seriuh ini.

Untungnya saya bisa mampir ke rumah kakak ipar di Cepu. Di sana, saya numpang istirahat dan salat Ashar. Saking nyamannya, saya malah ketiduran. 

Saya tidak lama mampir di rumah kakak ipar karena ingin mampir juga di rumah mertua di Senori, Tuban. Jaraknya tidak terlalu jauh, tapi penuh tanjakan. 

Sekitar pukul 5 sore, saya berangkat dari rumah kakak ipar. Dan pada waktu itu saya mengalami momen paling sunyi di perjalanan dari Jogja menuju Lamongan ini. 

Senja mulai turun dan gelap datang merayap. Jalur Cepu-Senori sepi dan gelap. Di kanan dan kiri hutan jati mengapit. Pohon-pohon jagung meranggas usai panen. 

Cyclocomp saya menunjukkan gradient tanjakan sudah di angka dua digit dan suara toa masjid menjelang Maghrib terdengar sayup-sayup. Rasa takut dan rindu bercampur. Akhirnya saya video call istri, biar nggak merasa sendirian di perjalanan dari Jogja menuju Lamongan ini. Pukul setengah 7, saya sampai di rumah mertua.

Jalan dari Jogja menuju Lamongan naik sepeda bikin ibu mertua kaget

Begitu sampai, ibu mertua saya setengah kaget, setengah panik. “Ya Allah mas, tak kiro gowo sepeda, kok ya gowo onthel. Wis ndang adus, sholat, maem terus istirahat.” 

Saya baru sadar. Di Jawa Timur, kalau bilang “sepeda” ya maksudnya ‘motor’. Kalau yang saya bawa ini disebut “onthel”. Jadi, mungkin kalau saya bilang mau berangkat dari Jogja ke Lamongan naik “onthel” pasti tidak akan diberi izin. Yah, malam itu, saya mengaso di rumah ibu mertua dan akan berangkat ke Lamongan sepagi mungkin.

Saya sudah berencana berangkat ke Lamongan sebelum subuh. Namun, ibu mertua menahan saya. Katanya, saya wajib sarapan dulu. Tentu saya tidak bisa menolak perintah ibu mertua dan memutuskan untuk sarapan. Baru pukul 7 pagi, saya melanjutkan perjalanan dari Jogja menuju Lamongan.

“Ya Allah mas, mene maneh gowo sepeda wae toh ben ora kesel. Iki ameh tak gawani beras kok ya gowo onthel. Ati-ati ya, alon-alon wae.” Salam perpisahan ibu mertua memang cukup panjang. Beliau menyertai saya dengan doa ketika sinar matahari sudah mulai silau di mata.

Semesta punya rencana

Perjalanan dari Tuban menuju Lamongan saya tempuh lewat jalur Pantura. Panasnya edan, anginnya mobat-mabit. Sampai-sampai saya beberapa kali harus ngadem di bawah AC minimarket. 

Di salah satu mini market, saya membeli dua botol air untuk mengisi ulang bidon. Mas penjaga mini market memberi saya bonus minuman isotonik. 

Iklan

Dapat bonus malah membuat saya bingung. Mau ditaruh mana bonus itu karena saya hanya bawa satu bottle cage di sepeda. Saya juga tidak mungkin menghabiskannya langsung. Bisa-bisa perut saya suduken karena kebanyakan minum. 

Dengan masih bingung saya menerima bonus itu lalu menuju pintu keluar. Di depan pintu, ada seorang anak kecil menadahkan tangannya, “Mas, minta mas buat makan.” 

Tanpa pikir panjang, langsung saya kasih minuman itu plus sepotong roti dari tas. Rasanya kayak semesta sengaja ngatur. Bonus nyasar jadi rejeki si bocah. Seperti perjalanan dari Jogja menuju Lamongan ini.

Akhir perjalanan Jogja menuju Lamongan

Sampai di Lamongan, saya sempat melintas di depan Wisata Bahari Lamongan (WBL). Saya hanya nyengir sendiri karena seumur hidup baru sekali ke sana. Ironisnya, WBL memang tempat wisata yang megah. Namun, yang saya rindukan dari Lamongan justru jalanan di tepi sawah, SMP lama saya, dan jalur kecil yang dulu saya lalui naik sepeda Phoenix mini.

Sampai di rumah, bapak saya kaget setengah mati. Saya memang nggak bilang mau pulang, apalagi bilang dari Jogja menuju Lamongan naik sepeda. Yah, bapak kaget tapi setidaknya saya sampai dengan selamat. Setelah istirahat dan mandi, saya langsung menuju makam ibu.

Tanah di makam ibu kering karena kemarau. Rumput liar tumbuh di sekitar nisan ibu. Saya membasuh nisan itu lalu mencabuti rumput-rumput liar itu.

Saya berbisik ke nisan ibu, “Bu, aku di sini, aku rindu. Maaf aku tidak bisa sering mengunjungimu.” 

Sebelum air mata tumpah, saya buru-buru berdoa. Angin sore menemani. Sunyi, tapi hangat. Saya yakin, ibu tak pernah benar-benar pergi.

Setelah puas bercerita dan berdoa di makam ibu, saya pulang. Selama satu hari penuh saya istirahat di rumah. Untuk jalur dari Lamongan menuju Jogja, saya pilih lewat Bojonegoro, Padangan, lalu sama seperti ketika berangkat.

Kembali ke Jogja

Saya sempat merasa “aneh” di perjalanan kembali ke Jogja dari Lamongan. Semuanya jadi terasa lebih mudah. Jalanan lancar layaknya hati yang lapang. Seolah semua rindu sudah terbayar. Seolah ada sosok ibu yang menemani di setiap kayuhan. 

Total waktu perjalanan dari PP Jogja-Lamongan adalah sekitar 27 jam. Semua lelah lenyap begitu sampai Jogja, senyuman dan pelukan istri menyambut dengan hangat. 

Saya menghitung, total perjalanan PP saya adalah sekitar 640 kilometer. Tapi sejak awal, ini bukan soal angka. Perjalanan ini adalah janji seorang anak yang sedang rindu kepada ibu. Dan janji itu, akhirnya tertunaikan.

Sampai di titik inilah saya sadar. Pulang memang tidak selalu berarti sampai ke rumah. Bisa juga berarti kembali ke tempat asal, ke pusara ibu, ke remahan masa muda yang pernah berantakan tapi tetap jadi bagian dari diri kita. 

Bagi saya, pulang juga bisa berarti berdamai dengan jalanan panjang yang bikin betis kram tapi hati jadi lega. Pulang juga bisa berarti memastikan bahwa orang-orang yang kita cintai tahu kita tidak lupa dan sedang baik-baik saja. Bahwa di tengah rutinitas, ada jeda panjang yang kita sisihkan hanya untuk menepati janji.

Mungkin itulah kenapa perjalanan pulang dari Lamongan menuju Jogja terasa lebih enteng. Karena jarak 300 kilometer bukan lagi jarak, tapi semacam doa yang sudah selesai dilantunkan. 

Saya gowes dengan rasa lapang karena semua rindu kepada ibu sudah tersampaikan. Dan saya percaya, di tiap kayuhan itu, ibu menemani. Tidak tampak, tapi terasa. Seolah setiap embusan angin yang menyapu wajah adalah pelukan kecil dari beliau.

Pulang, pada akhirnya, bukan tentang seberapa jauh kita pergi. Pulang adalah tentang memastikan kita ingat dari mana kita berasal, dan berani kembali meski dengan cara paling sederhana: mengayuh sepeda, perlahan, tapi menuju tujuan yang pasti.

Penulis: Mohammad Sadam Husaen

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Ibu Pergi ke Laut dan catatan perjalanan lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 September 2025 oleh

Tags: bloragowesjaur panturaJogjaklatenlamongansepedaTubanziarah
Mohammad Sadam Husaen

Mohammad Sadam Husaen

Artikel Terkait

Makanan Khas Jawa Timur Obat Rindu Kala Mudik ke Surabaya (Aly Reza/Mojok.co)
Pojokan

Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja

14 Maret 2026
Bus ekonomi jalur Jogja Jambi menyiksa pemudik. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”

13 Maret 2026
Naik Travel dari Jogja ke Surabaya Penuh Derita, Nyawa Terancam (Unsplash)
Pojokan

Naik Travel dari Jogja ke Surabaya, Niatnya Ingin Tenang Berakhir Penuh Derita dan Nyawa Terancam

13 Maret 2026
gojek instant.MOJOK.CO
Transportasi

Gojek Buka Titik Jemput Instan di Terminal Giwangan, Mudahkan Para Penumpang Bus yang Bingung Mencari Transportasi Lanjutan

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosa-dosa kecil yang kerap dilakukan hingga memicu masalah keuangan: uang atau gaji berapa pun terasa kurang MOJOK.CO

“Dosa Kecil” Pemicu Masalah Keuangan tapi Kerap Dilakukan, Bikin Uang atau Gaji Berapa pun Terasa Kurang

10 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Makanan Khas Sunda dan Jogja Bikin Muak- Bau Busuk dan Manis (Wikimedia Commons)

Makanan Khas Sunda Bikin Menderita Orang Jogja, Sama Seperti Perantau Sunda Muak dengan Makanan Jogja yang Serba Manis

11 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.