MOJOK.CO – Benarkah yang dilakukan Pandji Pragiwaksono melalui Mens Rea sebagai pembullyan berkedok stand-up comedy?
Sejak Mens Rea tayang di Netflix, linimasa media sosial saya dipenuhi berbagai perdebatan mengenai humor Pandji Pragiwaksono yang banyak menyenggol tokoh-tokoh publik di rezim pemerintahan hari ini.
Meskipun yang dibahas adalah acara stand-up comedy, urusan lucu atau tidak lucu nyaris tak memperoleh perhatian. Materi Pandji Pragiwaksono yang sarat kritik justru memantik berbagai polemik. Salah satu yang penting untuk dikulik adalah bagaimana logika fanatisme bekerja di kalangan warganet melalui pelabelan Panji sebagai Anak Abah, simpatisan Anies Baswedan yang kalah di Pilpres 2024.
Pelabelan Anak Abah terhadap Pandji menempatkannya pada satu kubu politik tertentu, sekaligus menggeser perhatian dari argumennya ke identitas yang dilekatkan padanya. Situasi ini membuat kritik Pandji tidak diperlakukan sebagai pendapat yang bisa diperdebatkan, melainkan sekadar bentuk lain dari loyalitas terhadap Anies.
Tuduhan untuk Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah
Meskipun sebagian pembela Mens Rea kemudian mencurigai mereka yang kontra terhadap acara tersebut sebagai buzzer pemerintah, tujuan esai ini bukan untuk menghakimi atau ikut melabeli siapa buzzer dan siapa bukan. Selain sulit dibuktikan, menurut saya justru lebih relevan kalau kita membahas bagaimana logika fanatisme di media sosial menjadi praktik yang bisa membungkam kritik dan, pada akhirnya, ikut berkontribusi pada kemacetan proses demokrasi di Indonesia.
Saya menggunakan istilah ‘logika fanatisme’ karena pelabelan Pandji Pragiwaksono sebagai “Anak Abah” memang tidak secara terang-terangan menuduh atau menarasikannya sebagai orang fanatik. Namun, cara melabeli semacam ini bekerja dengan logika fanatisme politik: kritik tidak dibaca sebagai bagian dari produksi pengetahuan, tetapi sebagai tanda keanggotaan kubu.
Begitu sebuah posisi dipahami sebagai “punya Anies” atau “punya Prabowo”, perdebatan berhenti di urusan siapa mendukung siapa, bukan apa yang sebenarnya dikatakan. Pada titik ini, media sosial menjadi arena yang subur bagi cara berpikir biner mengenai siapa lawan, siapa kawan, yang secara perlahan menggeser ruang debat dari adu gagasan menjadi adu identitas.
Pembullyan berkedok karya seni seorang stand-up comedy
Refleksi tentang fanatisme negatif dalam esai ini berangkat dari pembacaan saya atas buku Fanaticism: A Political Philosophical History karya Zachary R. Goldsmith. Dari buku tersebut, saya memahami bahwa fanatisme kerap dipandang sebagai perilaku negatif—terutama pada fase awal kajiannya—karena lahir dari hasrat yang terlalu kuat terhadap suatu keyakinan.
Hasrat ini membuat seseorang menjadi irasional, merasa paling benar, menolak pandangan lain, dan, dalam bentuk yang ekstrem, bahkan membenarkan kekerasan, baik verbal maupun fisik.
Makna fanatisme sebagai sikap merasa keyakinannya paling benar—baik terhadap pengetahuan maupun tokoh publik tertentu—dan menganggap keliru mereka yang punya keyakinan berbeda, bikin istilah ini kerap dipakai sebagai label, bahkan stigma.
Misalnya, kita menuding seseorang sebagai pengikut tokoh tertentu karena dia mengkritik tokoh yang kita ikuti. Ini menjadi cara yang mudah untuk membuat seluruh argumennya, yang berseberangan dengan keyakinan kita, jadi tampak sebagai ekspresi partisan belaka.
Dalam kerangka semacam inilah, saya pikir, logika fanatisme bekerja. Sebagai contoh, saya ingin memperlihatkan dua utas yang saya temukan dari Threads dan kemudian memberi analisis sederhana untuk melihat makna yang berusaha dibentuk.
Utas pertama: “Pandji Pragiwaksono itu Anis Lovers .. bahkan dia pernah jadi tim sukses Anis juga .. pantesan aja dia begitu sangat membenci pemerintah .. si Pandji ini sedang melakukan Pembullyan berkedok karya seni seorang standup comedy dg meroasting .. mmg sangat tidak berkualitas hidupnya !!! sejahat itu dia suka membully orang lain yg padahal orang itu ga pernah kenal Pandji.”
Utas Kedua: “…sebab sebenernya simple aja, … Pandji jelas Anak Abah dia lagi mewakili rasa sakiiiiiiittt anak2 abah yg begitu mendalam dan dendam kesumat yang gak selesai2 (sukur2 gak dibawa matee) akibat jagoannya kalah Pilpres 2024.”
Bukan isi materi Mens Rea, Pandji Pragiwaksono justru dinilai karena Anies lovers
Dua contoh postingan di Threads itu menunjukkan dengan jelas bagaimana pelabelan “Anak Abah” bekerja melalui logika fanatisme politik. Alih-alih membahas isi materi Mens Rea atau menimbang argumen Pandji, ia direduksi menjadi bagian dari kubu Anies lovers, tim sukses, bahkan representasi “sakit hati pendukung yang kalah.”
Dengan cara ini, kritik Pandji Pragiwaksono tidak dibaca sebagai posisi yang mungkin lahir dari pertimbangan rasional, melainkan sebagai ekspresi dendam dan loyalitas partisan.
Penyederhanaan semacam ini jelas merupakan usaha untuk menutup ruang dialog. Sehingga, perdebatan pun berhenti pada soal siapa berada di pihak siapa, bukan pada apa yang dikatakan.
Dan media sosial menjadi ruang di mana labeling terhadap Pandji mendapat tempat untuk direproduksi, dipamerkan, bahkan tak jarang pula dirayakan. Dengan logika fanatisme pula, lawakan Panji dianggap tidak lebih dari usaha menjatuhkan citra pemerintahan Prabowo-Gibran.
Siapa sebenarnya yang fanatik?
F. Budi Hardiman (2021) menjelaskan bahwa fanatisme bekerja dalam empat ranah: cara berpikir, bersikap, berinteraksi, dan berkuasa. Sebagai cara berpikir, fanatisme ditandai oleh klaim atas kebenaran yang dianggap mutlak sehingga menolak pandangan berbeda.
Sebagai cara bersikap, ia tampak dalam kecenderungan merasa paling berhak menghakimi orang lain, mudah tersinggung, bahkan marah ketika keyakinannya dipersoalkan. Dalam ranah interaksi, fanatisme hadir sebagai kompetisi antarkelompok untuk merebut pengaruh sosial. Sementara sebagai cara berkuasa, fanatisme menjelma dalam rezim-rezim politik.
Dalam polemik Mens Rea, logika fanatisme justru terlihat pada kelompok yang melabeli Pandji sebagai Anak Abah. Alih-alih membahas substansi kritik, mereka lebih sibuk mempromosikan citra positif pemerintahan Prabowo–Gibran.
Kritik disingkirkan, narasi pendukung dipertahankan, lalu dipaksakan sebagai kebenaran tunggal. Akibatnya, perdebatan soal Mens Rea direduksi menjadi sekadar adu posisi antara pendukung rezim dan oposisinya.
Dengan begitu, terlepas dari apakah mereka buzzer atau bukan, sebagian warganet yang kontra terhadap Pandji Pragiwaksono justru ikut mempraktikkan bentuk fanatisme di media sosial, sembari melabeli pihak lain sebagai “pengikut” tokoh tertentu. Secara sadar atau tidak, praktik semacam ini menempatkan mereka dalam sebuah rezim pengetahuan yang merasa berhak menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah, apa yang boleh dikritik dan apa yang sebaiknya tidak.
Penulis: Akhyat Sulkhan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah dan artikel lainnya di rubrik ESAI.















