Sebagai guru SD, wibawa saya runtuh oleh murid-murid yang lebih mengagung-agungkan Skibidi Toilet daripada belajar matematika.
Ada satu momen di hari Selasa siang yang panasnya minta ampun, ketika saya sedang berusaha mati-matian menjelaskan konsep pecahan desimal di depan kelas, tiba-tiba seorang murid di barisan belakang berteriak, “Skibidi dop dop yes yes!”
Seketika, seisi kelas meledak tertawa. Bukan tawa sopan ala murid yang menghormati gurunya, melainkan tawa liar penuh kode rahasia yang hanya dimengerti oleh mereka, Generasi Alpha.
Saya, seorang guru SD berusia 41 tahun yang cicilan motornya belum lunas, hanya bisa berdiri terpaku di depan papan tulis. Tangan saya yang memegang spidol gemetar menahan campuran rasa bingung, kesal, dan merasa tua mendadak.
Di detik itulah saya sadar: Saya sedang kalah perang.
Musuh saya bukan lagi kenakalan remaja konvensional seperti bolos sekolah atau merokok di kantin belakang. Musuh saya kini jauh lebih abstrak, tidak terlihat, tapi serangannya masuk sampai ke sumsum tulang belakang pendidikan kita. Musuh itu bernama: Algoritma.
Kesenjangan guru SD dan muridnya bukan sekadar selera musik lagi
Jujur saja, menjadi pendidik di tahun 2025 ini rasanya seperti menjadi turis asing yang tersesat di planet lain tanpa buku panduan.
Dulu, kesenjangan generasi itu paling banter cuma soal selera musik. Guru suka Koes Plus, murid suka Sheila on 7. Masih nyambung. Tapi hari ini? Kesenjangan itu sudah masuk ke level epistemologis—cara kita memahami dunia sudah berbeda total.
Murid-murid saya berbicara dengan kosakata yang mereka pungut dari tumpukan limbah digital di TikTok dan YouTube Shorts. Kata-kata seperti “sigma”, “mewing”, “rizz”, “gyatt”, hingga “ohio” bertebaran di ruang kelas seperti mantra sihir. Ketika saya menegur murid yang melamun, dia tidak menjawab “Maaf Pak”, tapi malah menatap saya sambil menunjuk rahangnya (katanya lagi mewing, biar rahangnya tegas kayak model).
Gusti Allah, cobaan apa ini?
Saya mencoba menyelami dunia mereka. Saya buka YouTube, mencoba mencari tahu apa itu Skibidi Toilet yang mereka agungkan. Dan yang saya temukan adalah video kepala orang yang keluar dari lubang kloset, bernyanyi lagu aneh dengan visual yang bikin sakit kepala.
Video itu ditonton ratusan juta kali.
Sementara itu, saya di kelas, yang sudah menyiapkan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) semalaman, membuat alat peraga dari kardus bekas, dan berusaha mengajar dengan metode active learning, hanya mendapat atensi kurang dari lima menit. Setelah itu? Mata mereka kembali kosong. Jiwa mereka ditarik kembali oleh magnet notifikasi HP yang bergetar di saku celana.
Di hadapan konten brainrot (pembusukan otak) yang durasinya cuma 15 detik tapi penuh dopamin, materi “Sejarah Perjuangan Pangeran Diponegoro” yang saya bawakan terasa sehambar nasi aking.
Runtuhnya wibawa profesi guru karena murid yang bercita-cita jadi IShowSpeed
Namun, bagian paling menyakitkan dari menjadi guru di era ini bukanlah soal bahasa atau atensi, melainkan soal runtuhnya wibawa profesi di hadapan logika ekonomi kapitalisme digital.
Suatu hari, saya bertanya soal cita-cita. Ini pertanyaan klasik, kan? Jawaban standarnya harusnya dokter, polisi, atau setidaknya PNS.
“Saya mau jadi Live Streamer kayak IShowSpeed, Pak!” seru seorang murid yang nilai matematikanya merah merona. “Kenapa?” tanya saya naif. “Duitnya banyak, Pak! Sekali live bisa dapat ratusan juta. Ngapain capek-capek sekolah.”
Mak jleb.
Kalimat itu menembus jantung, paru-paru, sampai ke ginjal. Bukan karena dia kurang ajar, tapi karena logikanya—sialnya—valid.
Anak-anak ini tidak buta. Mereka melihat realitas. Mereka melihat guru mereka datang naik motor matic tahun 2015 yang joknya sudah dicakar kucing, sementara para influencer yang kerjanya cuma joget-joget konyol atau pamer prank sampah bisa beli mobil sport.
Sekolah, yang dulu dianggap sebagai tangga sosial untuk memperbaiki nasib, kini di mata mereka terlihat seperti jalan memutar yang tidak efisien. Buat apa belajar rumus keliling lingkaran kalau algoritma TikTok bisa memonetisasi kebodohan menjadi kekayaan?
Kami, para guru, kehilangan kartu As kami. Dulu kami bisa bilang, “Belajarlah biar sukses.” Sekarang? Definisi sukses sudah dibajak. Sukses adalah viral. Sukses adalah FYP (For You Page). Dan untuk mencapai itu, Anda tidak butuh ijazah; Anda butuh keanehan.
Sekolah jadi penitipan anak, algoritma jadi orang tua
Lantas, apa fungsi sekolah hari ini?
Terkadang, di saat-saat lelah setelah mengoreksi tumpukan ulangan yang jawabannya hasil copy-paste ChatGPT, saya merasa sekolah tak lebih dari sekadar daycare alias tempat penitipan anak.
Orang tua sibuk bekerja (atau sibuk main HP juga di rumah), jadi mereka menitipkan anak ke kami. “Tolong dididik ya, Pak. Tolong dibikin pinter. Tolong akhlaknya diperbaiki,” kata mereka saat ambil rapot.
Padahal, di rumah, anak-anak itu dibiarkan diasuh oleh “orang tua asuh” bernama YouTube.
Kami di sekolah cuma punya waktu sekian jam. Itu pun terpotong jam istirahat, upacara, dan drama-drama kecil lainnya. Bagaimana mungkin kami bisa menang melawan algoritma yang mendampingi anak-anak itu 24 jam non-stop? Algoritma yang mencatat apa yang mereka suka, memanjakan bias mereka, dan terus menyuapi mereka konten tanpa henti.
Saya merasa seperti prajurit bambu runcing yang disuruh melawan pesawat tempur siluman. Heroik sih, tapi konyol.
Kenapa saya masih bertahan jadi guru SD?
Mungkin pembaca Mojok akan bertanya: “Kalau sudah tahu kalah, kenapa nggak resign aja, Pak Roh? Mending buka warung seblak atau ikutan jadi streamer skibidi.”
Jujur, godaan itu ada. Apalagi tiap tanggal tua.
Tapi, ada satu hal aneh yang membuat saya—dan mungkin ribuan guru honorer maupun PNS lainnya—tetap datang ke sekolah setiap pagi, meski tahu medannya seberat ini.
Itu adalah momen-momen kecil yang tidak viral.
Momen ketika seorang murid yang biasanya kecanduan game tiba-tiba berhasil mengerjakan satu soal matematika sendiri, dan matanya berbinar bangga. Momen ketika mereka berebut membawakan buku saya ke kantor guru. Atau momen ketika mereka curhat soal masalah di rumah yang tidak berani mereka ceritakan ke orang tuanya.
Di detik-detik langka itu, saya sadar bahwa algoritma punya segalanya: data, kecepatan, hiburan. Tapi algoritma tidak punya empati. Mesin tidak bisa menepuk pundak murid yang sedang menangis. Mesin tidak bisa memberikan tatapan bangga yang tulus.
Mungkin, peran guru SD atau guru pada umumnya di masa depan bukan lagi sebagai “sumber ilmu” (karena Google lebih pintar dari saya), melainkan sebagai “penjaga kewarasan”. Kami adalah benteng terakhir yang menjaga agar anak-anak ini tidak sepenuhnya berubah menjadi zombie digital. Kami yang bertugas menarik mereka sebentar dari dunia maya, memaksa mereka menyentuh rumput, berinteraksi dengan manusia nyata, dan merasakan bosan.
Ya, merasakan bosan. Karena seperti kata para filsuf (yang tidak viral di TikTok), kreativitas lahir dari kebosanan, bukan dari stimulan tanpa henti.
Jadi, besok pagi saya akan tetap masuk kelas. Saya akan tetap menghadapi teriakan “Skibidi dop dop” itu dengan senyum kecut. Saya akan tetap mengajar pecahan desimal, meski mereka merasa itu tidak penting.
Saya tahu saya mungkin akan kalah telak melawan algoritma. Tapi setidaknya, saya tidak akan menyerah tanpa perlawanan. Dan siapa tahu, di antara 30 murid di kelas saya, ada satu atau dua anak yang suatu hari nanti sadar, bahwa hidup yang sesungguhnya ada di luar layar 6 inci itu.
Itu saja harapan saya. Sederhana, kan? Sekarang izinkan saya lanjut mengoreksi ulangan sambil mengecek mutasi rekening, berharap tunjangan sertifikasi sudah cair. Tabik.
Penulis: Roh WIdiono
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Lima Kali Alesha Operasi Mata dan Sebuah Doa yang Tak Lagi Sama dan kisah seru lainnya di rubrik ESAI.













