Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Cara Menggenjot Becak dan Standardisasi Angkutan Rakyat Lainnya

Alexander Arie oleh Alexander Arie
29 Januari 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Urusan ngerem supir metromini sesungguhnya juga perlu distandardisasi.”

Wakil Gubernur DKI Jakarta kembali menggebrak. Kali ini menyikapi soal rencana beroperasinya kembali becak di Jakarta, Sandiaga Uno mengeluarkan pernyataan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memberikan pelatihan kepada para pengemudi becak, salah satunya tentang cara genjot yang baik dan benar untuk meningkatkan standar pelayanan.

Netizen yang selalu benar pun sontak menertawakan ide Sandiaga Uno. Padahal justru birokrasi Indonesia, memang sedang berbenah. Baru hari Rabu (24/1) yang lalu, Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) memberikan penghargaan kepada beberapa instansi pelayanan publik. Menurut website menpan.go.id, evaluasi pada tahun 2017 dilakukan pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD), Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), DPMPTSP Provinsi, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, Kantor Pertanahan, Balai Besar/Balai POM, dan Polres/Polresta/Polrestabes di seluruh Indonesia.

Evaluasi tersebut berada dalam naungan Kedeputian Bidang Pelayanan Publik KemenPAN-RB yang saat ini dijabat oleh Ibu Diah Natalisa. Buat yang nggak paham, Bu Diah ini adalah kakak kandungnya Tito Karnavian. Kalau ada yang nggak tahu nama ini, sana ke laut aje.

Jadi jika ada evaluasi reformasi birokrasi di bidang pelayanan publik di semua Kementrian/Lembaga, yang ditanyakan pertama adalah standar pelayanan. Kalau nggak ada, berarti reformasi birokrasinya lemah. Nah, Sandiaga Uno kan menekankan tentang standar pelayanan, kok ya netizen yang budiman ini menjadikannya bahan bercanda? Sudah jelas-jelas konten pembicaraan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu serius kok.

Nah, dengan akan digagasnya standar pelayanan untuk becak, saya hendak ikut mengusulkan beberapa hal lain yang juga perlu distandardisasi kembali. Terutama dalam konteks transportasi di Jakarta.

Ya, siapa tahu membantu Bapak Wakil Gubernur untuk membuat standar pelayanan yang lebih komprehensif.

  1. Mengetuk Koin yang Benar

Standar ini perlu diterapkan dalam transportasi berbasis mobil umum seperti metromini, kopaja, bahkan bis. Di dalam mobil itu, kita akan menjumpai segala hal berbau rakyat. Pedagang yang menaruh kacang di pangkuan sebelum kemudian mengambilnya lagi, pengamen, eksekutif muda di Sudirman yang ogah naik turun tangga TransJakarta, pemakan silet yang selalu berargumentasi ‘daripada saya ngerampok bapak-ibu’, hingga copet.

Nah, alat transportasi yang ini, sebagian besar menggunakan sistem berhenti yang sangat unik bin ciamik, karena mengandalkan suara ketukan koin dengan dinding kendaraan. Kernet mengetuk, mobil berhenti. Kernet mengetuk koin berkali-kali, mobil nggak akan ngegas jauh, tapi maju perlahan-lahan.

Hal ini seringkali menciptakan prahara ketika driver tidak mendengar dengan jelas suara ketukan koin itu, apalagi dalam jahanamnya jalanan Jakarta. Hal itulah yang seringkali bikin penumpang kebablasan terlalu jauh atau malah harus lari-lari mengejar kendaraan. Sungguh berbahaya. Jadi, perlu kiranya dibuat standar jumlah ketukan koin, kekuatan ketukan koin, bahkan kalau perlu koin untuk mengetuknya dibuat standar, kayak mainan yang lagi ramai belakangan ini.

  1. Atret dan Ngetem yang Berbudaya

Mengingat program Pemprov DKI Jakarta, OK Otrip yang melibatkan angkot, maka bagian yang satu ini sangat diperlukan. Karena kalau sukses, bisa diadaptasi di kota-kota lainnya yang juga mengandalkan angkot, seperti Palembang. Kalau Jogja nggak masuk, karena angkot Minomartani dan Jalur 16 kesayangan saya saja sudah nyaris musnah. Kalian keji!

Angkot adalah jalur paling mudah bagi saya untuk jarak dekat ketika hendak minggat dari kantor ke bank, misalnya. Bahkan dulu sebelum era ojek online, angkot adalah harapan utama untuk bermobilisasi. Dari pengalaman naik angkot di berbagai jalur, saya sering mendapati beberapa angkot akan mundur jika melihat orang jalan dari dalam gang. Masalahnya, kadang mundurnya kurang berbudaya. Asal mundur tanpa aba-aba dan menyebabkan saya yang beralih profesi jadi pengendara motor kaget bukan kepalang dan nyaris nabrak. Standar jarak yang diperbolehkan untuk dapat mundur menjadi penting, termasuk hal-hal yang perlu dipastikan sebelum mobilnya mundur.

Apalagi tentang urusan ngetem. Di era mobilitas tinggi seperti sekarang ini, saya berkali-kali masuk angkot dengan omongan “langsung jalan”, tetapi baru benar-benar jalan 20 menit kemudian. Bahkan beberapa kali, begitu 3-4 orang masuk, supirnya malah mematikan mesin dan keluar mobil. Jadi bersamaan dengan standar menggenjot becak, urusan ngetem ini juga perlu distandardisasi demi kebaikan bersama, penumpang dan juga pengelola angkot.

  1. Menawarkan Jasa Tapi Menolak Calon Pengguna Jasa

Bagian ini sering bikin saya putus asa di Stasiun Tanah Abang. Kalau sering lewat sana, pasti pada tahu bahwa begitu keluar, ada puluhan ojek pangkalan akan menyambut kedatangan kita sembari menawarkan jasa ojeknya.

Masalahnya, sebagian ojek hobinya pilih-pilih, sebuah kelakuan yang bikin sebagian ojek lain yang tidak pilih-pilih jadi terkena imbasnya. Dari Tanah Abang, kalau saya sebut ‘Salemba’, maka jari-jari yang menawarkan ojek tadi turun tiba-tiba dan berubah jadi tunjuk-tunjukan. Berbeda jika saya menyebut ‘Gambir’ atau ‘Sudirman’, tidak ada tuh tunjuk-tunjukan.

Iklan

Hal yang sama juga berlaku kalau saya turun di Palmerah dan menyebut ‘Johar Baru’. Sering juga berakhir tunjuk-tunjukan dan ujungnya nggak ada yang mau. Jadi, kadang saya merasa tujuan saya itu hina bagi para pengemudi ojek ini. Sedih, Kak, ditolak-tolakin melulu.

Kalau saja ada standar, bahwa ojek yang menawarkan jasa tidak boleh menolak tujuan. Atau dibuatkan standar tujuan-tujuan mana yang boleh ditolak, sekaligus bikin klasterisasi ojek-ojek yang mau terima tujuan-tujuan hina dan yang tidak. Maka penumpang pun pasti akan sangat berbahagia.

Sekali lagi, Sandiaga Uno mungkin tampak melucu, tetapi di balik itu, Pak Wakil Gubernur sedang membahas salah satu komponen penting reformasi birokrasi. Kalian saja para netizen yang nggak paham. Kalau soal sesederhana genjotan becak ini saja kalian tidak paham, bagaimana kalian akan memahami soal KEBERPIHAKAN? Hah?

Terakhir diperbarui pada 29 Januari 2018 oleh

Tags: angkotbecakmetrominiojekSandiaga UnoTransportasi
Alexander Arie

Alexander Arie

Universitas Indonesia. Tinggal di Jakarta. Asli Bukittinggi.

Artikel Terkait

Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
ojek pangkalan stasiun lempuyangan.MOJOK.CO
Ragam

Ojek Pangkalan Stasiun Lempuyangan Bertahan Meski Dianggap Menyusahkan, Semua Demi Kuliahkan Anak

25 Januari 2024
Banjir 3.400 di Bogor, Kota Hujan Tenggelam dalam Kemacetan MOJOK.CO
Esai

3.400 Angkot Membanjiri Kota Hujan, Bogor Bakal Lumpuh karena Kemacetan

9 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Pinjol Jerat Gen Z Fomo tanpa Cuan, Apalagi Tabungan MOJOK.CO

Fakta Indonesia Hari ini: Sisi Gelap Gen Z Tanpa Cuan yang Berani Utang Sampai Ratusan Juta dan Tips Lepas dari Jerat Pinjol Laknat

3 Februari 2026
DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF MOJOK.CO

DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF

31 Januari 2026
Film "Surat untuk Masa Mudaku" tayang di Netflix. MOJOK.CO

Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi

5 Februari 2026
gen z kerja merantau beban mental dan finansial.mojok.co

Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial

6 Februari 2026

Video Terbaru

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026
Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

Buya Hamka dan Penangkapan yang Disederhanakan

31 Januari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.