Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Memperlakukan Opor Ayam dengan Adil seperti Poligami

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
24 Juni 2017
A A
Esai Opor Ayam Mojok

Esai Opor Ayam Mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jika berpuasa adalah diet yang terselubung, maka Lebaran adalah pelampiasan yang sehormat-hormatnya. Dengan ketupat, opor ayam, dan sambel goreng hati yang menjadi peraduan.

Ketika tengah menyantap hidangan Lebaran, pada titik tertentu, Anda tak akan dibilang rakus karena banyak makan. Paling banter cuma dilirik sinis, dan saudara Anda membatin, “Nggak jadi tak maafin.”

Karena biasanya, dan saya memang pakai patokan saya sendiri, setiap kali Lebaran, hati ini jadi tak karuan. Bimbang, antara mau menggasak oplosan ketupat dan opor ayam, atau ketupat dengan sambel goreng hati yang, seperti kata Bung Hadi “Ahay” Gunawan komentator sepak bola handal itu: masyaallah pedas gurihnya seperti serangan tujuh hari tujuh malam timnas Vietnam ke gawang Indonesia.

“Kenapa Sampeyan gak ngoplos opor sama sambel goreng, ja?”

Ha bararti situ belum memahai estetika, terutama untuk makanan, yang bunyinya kira-kira begini: Estetika juga memiliki relativitas tersendiri di dalam hubungannya dengan manusia (makanan). Setiap kelompok manusia (makanan) memiliki definisi tersendiri tentang estetika yang memunculkan budaya-budaya yang sangat beraneka ragam, dan di dalam keanekaragaman tersebut muncul pula varian keindahan (opor ayam) yang sifatnya lebih personal.

Betul, ini sangat personal. Warna kuning tidak muda opor ayam yang luhur itu memang tak seharusnya dibaurkan dengan warna merah pekat sambel goreng hati yang menantang itu. Keduanya seperti dua kutub yang berseberangan, seperti pernikahan dua agama di Indonesia. Ribet dan ujungnya tangis-tangisan. #Uhuk

Ya, kalau Anda mau nyampurin opor ayam sama sambel goreng hati yang nggak apa-apa juga. Tapi ingat, hati yang terlanjur sakit seperti diiris-iris di sambel goreng akan susah disatukan dengan ayam yang mulus di opor. Bukan muhrim.

Jika dilihat lebih seksama, opor ayam ini seperti Persib Bandung.

“Lho, kok Sampeyan malah ngomongin Balbalan?”

Haes, iyik. Daripada ngomongin orang. Nanti malah enak.

“Jadi, mangsut Sampeyan sama Persib Bandung itu gimana?”

Begini. Meracik ketupat dan opor ayam itu ritual yang luhur, Bung. Seharusnya sama kayak nyusun skuat balbalan. Pertama, Anda ambil pisau untuk merobek kulit ketupat. Terdengar bunyi, “Sreet …. Sreekk .… Sreeek .…” yang merdu di telinga. Anda potong-potong itu ketupat dengan ukuran yang presisi, boleh vertikal mutlak, atau diagonal.

Setelah ditampung di atas piring, kuah opor Anda siramkan di atasnya. Ingat, kuahnya dulu, ayam belakangan. Kenapa? Biar basah dulu jadi lebih ena untuk dipenetrasikan ke dalam lobang … mulut.

Setelah basah paripurna, ambil potongan ayam yang mulus itu, lalu letakkan di sisi, jangan di tengah. Jangan jadikan ayam semata sebagai pusat perhatian opor Anda. Opor ayam harus menyeluruh, semua mendapat kasih sayang yang merata. Ya seperti poligami. Harus adil rohani-jasmani.

Iklan

Kalau ada bawang goreng, saya sarankan, jangan dicampur. Kuah opor akan membuat bawang goreng menjadi melendut, kehilangan kekrispiannya yang menyenangkan di mulut Anda.

Setelah racikan komplet, coba Anda amati. Ketupat yang putih pucat, berpadu dengan kuah kuning tidak muda dan potongan ayam di tepi piring. Perpaduan antara kemolekan jasmani dan keluhuran rohani. Untuk kadar tertentu, opor ayam adalah pengantar masuk surga yang hakiki.

Betul, di awal musim ini, Persib Bandung bersolek secara meriah. Mendatangkan dua marquee player, Michael Essien legenda AC Milan dan Charlton Cole legenda West Ham yang harganya bisa buat bangun stadion; atau pesantren, biar terdengar islami.

Nama “Persib” saja sudah menjadi gambaran tentang sejarah agak panjang sepak bola Indonesia. Ya kalau mau dikategorikan klub besar, ya bolehlah. Ditambah dua marquee player, jadi makin aduhai.

Tapi nyatanya, keduanya sudah kehilangan sentuhan bermain bola di level tertinggi. Keduanya sudah terlalu gemuk dan melendut untuk meladeni pemain-pemain Indonesia yang lebih suka gaprakan kaki, ketimbang merebut bola.

Dua marquee player Persib jadi seperti Anda kalau kebanyakan menuangkan kuah untuk opor. Terlalu basah, lembek, dan terlalu berkuah. Ingat, Anda mau makan opor, bukan sop.

Atau bisa juga, Essien dan Cole seperti ketika Anda menggamit terlalu banyak ayam ke dalam piring. Perhatian terlalu terpusat ke ayam, padahal tanpa kuah dan ketupat, opor tak akan sama lagi seperti kamu yang dulu. Rasa opor jadi bikin enek dan tidak menggairahkan. Keluhurannya lesap. Keseimbangan kosmisnya terganggu.

Persib tak membutuhkan dua pemain mahamahal itu. Talenta-telanta urang Bandung lokalan pun tak kalah kasep. Asal bermain dengan skema yang tepat dan segar, Persib akan jauh lebih baik. Lebih sehat, dan seimbang, seperti opor ayam yang diracik secara ahay!

“Lalu gimana dengan sambel goreng hati?”

Ini sudah 700 kata, bung. Nanti kepanjangan. Redaktil Mojok sekarang cenderung galak, enggak nakal. Sukanya motongin panjang naskah. Ha curhat kok dipotong, emangnya siaran pers?

Lagi pula ini bukan rubrik Smokol.

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2017 oleh

Tags: Bandungopor ayamPersibPersib Bandung
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Orang Medan naik angkot di Bandung. MOJOK.CO
Ragam

Orang Medan Pertama Kali Naik Angkot di Bandung, Punya Cara Tersendiri Meminta Sopir Berhenti Sampai Bikin Penumpang Syok

5 Januari 2026
Alumnus ITB resign kerja di Jakarta dan buka usaha sendiri di Bandung. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus ITB Rela Tinggalkan Gaji Puluhan Juta di Jakarta demi Buka Lapangan Kerja dan Gaungkan Isu Lingkungan

12 Desember 2025
S3 di Bandung, Istri PNS Makassar- Derita Jungkir Balik Rumah Tangga MOJOK.CO
Esai

Jungkir Balik Kehidupan: Bapak S3 di Bandung, Istri PNS di Makassar, Sambil Merawat Bayi 18 Bulan Memaksa Kami Hidup dalam Mode Bertahan, Bukan Berkembang

1 Desember 2025
Indomaret Pasteur, Saksi Penderitaan Orang Kecil di Bandung MOJOK.CO
Esai

Menyaksikan Penderitaan dan Perjuangan Orang Kecil di Bandung dari Bawah Neon Putih-Biru-Merah Indomaret Pasteur

31 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Derita perempuan saat naik transportasi umum di Jakarta, baik KRL maupun TransJakarta MOJOK.CO

Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan

17 Januari 2026
Dosen Profesi Nelangsa, Gaji Kalah sama Ngajar Anak SD (Unsplash)

Gelap Masa Depan Dosen, Lulusan S2 Jogja Mending Ngajar Anak SD di Surabaya yang Lebih Menjanjikan dari sisi Gaji

12 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Momen haru saat pengukuhan Zainal Arifin Mochtar (Uceng) sebagai Guru Besar di Balai Senat UGM MOJOK.CO

Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

16 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.