“Creative Minority” yang tidak berhenti di poster
UKSW punya semboyan: Creative Minority. Awalnya, saya menganggap ini tidak lebih dari jargon kampus yang bagus dipajang di poster, website, atau buku pedoman mahasiswa. Tapi semakin lama saya kuliah di sana, saya mulai paham bahwa semboyan ini tidak berhenti di dinding kampus.
Menjadi minoritas di UKSW tidak pernah terasa sebagai posisi yang harus bertahan. Minoritas justru didorong untuk berpikir, bersuara, dan berkontribusi. Kreatif di sini bukan soal seni semata, tapi cara memandang masalah dan menyikapi perbedaan.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana mahasiswa dengan latar belakang agama, budaya, dan daerah yang berbeda bisa duduk di satu meja, berdebat sengit soal ide, lalu makan bersama setelahnya tanpa menyimpan dendam. Perbedaan pendapat tidak dianggap ancaman. Ia dianggap bahan bakar diskusi.
Sebagai muslim di kampus Kristen, saya tidak merasa sedang “ditoleransi”. Saya merasa dianggap normal. Dan bagi saya, itu level toleransi yang jauh lebih tinggi.
Tidak ada perlakuan khusus karena agama. Tidak ada pengurangan hak karena keyakinan. Semua dinilai berdasarkan kualitas. IPK tidak pernah tanya agama. Nilai tugas tidak peduli latar belakang.
Di kampus ini, saya belajar bahwa keberagaman bukan soal siapa yang paling sering disebut, tapi siapa yang paling jarang dipersoalkan.
Belajar hidup di UKSW Salatiga, bukan sekadar lulus kuliah
Kuliah di UKSW bukan cuma soal ruang kelas dan materi. Ia juga soal hidup di kota kecil yang mengajarkan kesederhanaan. Di Salatiga, hidup tidak perlu terburu-buru. Macet jarang. Orang-orang ramah tanpa basa-basi berlebihan. Mahasiswa dari berbagai daerah bercampur tanpa harus berlomba menjadi yang paling dominan.
Saya belajar bahwa hidup berdampingan tidak selalu butuh teori panjang. Kadang cukup dengan tidak mencampuri urusan orang lain, tapi tetap peduli ketika dibutuhkan.
UKSW tidak pernah mengajari saya toleransi lewat mata kuliah khusus. Ia mengajarkannya lewat kebiasaan sehari-hari. Lewat cara orang menyapa. Lewat cara dosen mengelola kelas. Lewat cara kampus mengatur ruang agar semua merasa punya tempat.
Dan justru karena itu, pelajarannya membekas.
Setelah lulus dan melihat dunia yang lebih luas, saya baru sadar bahwa apa yang saya alami di Salatiga tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain. Banyak ruang publik yang mengaku inklusif, tapi sibuk menghitung siapa mayoritas dan siapa minoritas. Banyak institusi yang mengaku netral, tapi diam-diam condong.
UKSW, dengan segala keterbatasannya sebagai kampus di kota kecil, justru menunjukkan bahwa toleransi tidak butuh panggung besar. Ia butuh konsistensi.
Pulang dari UKSW Salatiga dengan perspektif yang berubah
Saya datang ke UKSW sebagai mahasiswa muslim yang hanya ingin kuliah, lulus, dan mencari masa depan. Saya pulang membawa perspektif lebih luas tentang hidup bersama orang lain. Tentang bagaimana perbedaan bisa menjadi sesuatu yang biasa, bukan sesuatu yang harus selalu diperdebatkan.
Salatiga dan UKSW mengajarkan bahwa damai bukan berarti tanpa konflik, tapi keadaan di mana konflik tidak dibesar-besarkan. Di mana perbedaan tidak dijadikan alat ukur siapa yang lebih pantas.
Kini, setiap kali saya melihat orang ribut soal toleransi, saya sering teringat kampus kecil itu. Kampus Kristen di kota kecil bernama Salatiga yang tidak sibuk mengaku toleran, tapi diam-diam mempraktikkannya setiap hari.
Dan mungkin, di situlah pelajaran terpentingnya.
Bahwa hidup berdampingan tidak selalu perlu slogan besar. Kadang cukup dengan bersikap wajar, adil, dan tidak merasa paling benar. Seperti yang saya alami di UKSW, Salatiga—tempat di mana “Creative Minority” tidak berhenti sebagai jargon, tapi hidup dalam keseharian.
Penulis: Alan Kurniawan
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living dan artikel lainnya di rubrik ESAI.














