Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen Kok Nggak Ngomongin Toleransi

Alan Kurniawan oleh Alan Kurniawan
2 Februari 2026
A A
Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi MOJOK.CO

Ilustrasi Mahasiswa Muslim Kuliah di UKSW Salatiga: Kampus Kristen yang Nggak Perlu Ngomongin Toleransi. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Creative Minority” yang tidak berhenti di poster

UKSW punya semboyan: Creative Minority. Awalnya, saya menganggap ini tidak lebih dari jargon kampus yang bagus dipajang di poster, website, atau buku pedoman mahasiswa. Tapi semakin lama saya kuliah di sana, saya mulai paham bahwa semboyan ini tidak berhenti di dinding kampus.

Menjadi minoritas di UKSW tidak pernah terasa sebagai posisi yang harus bertahan. Minoritas justru didorong untuk berpikir, bersuara, dan berkontribusi. Kreatif di sini bukan soal seni semata, tapi cara memandang masalah dan menyikapi perbedaan.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana mahasiswa dengan latar belakang agama, budaya, dan daerah yang berbeda bisa duduk di satu meja, berdebat sengit soal ide, lalu makan bersama setelahnya tanpa menyimpan dendam. Perbedaan pendapat tidak dianggap ancaman. Ia dianggap bahan bakar diskusi.

Sebagai muslim di kampus Kristen, saya tidak merasa sedang “ditoleransi”. Saya merasa dianggap normal. Dan bagi saya, itu level toleransi yang jauh lebih tinggi.

Tidak ada perlakuan khusus karena agama. Tidak ada pengurangan hak karena keyakinan. Semua dinilai berdasarkan kualitas. IPK tidak pernah tanya agama. Nilai tugas tidak peduli latar belakang.

Di kampus ini, saya belajar bahwa keberagaman bukan soal siapa yang paling sering disebut, tapi siapa yang paling jarang dipersoalkan.

Belajar hidup di UKSW Salatiga, bukan sekadar lulus kuliah

Kuliah di UKSW bukan cuma soal ruang kelas dan materi. Ia juga soal hidup di kota kecil yang mengajarkan kesederhanaan. Di Salatiga, hidup tidak perlu terburu-buru. Macet jarang. Orang-orang ramah tanpa basa-basi berlebihan. Mahasiswa dari berbagai daerah bercampur tanpa harus berlomba menjadi yang paling dominan.

Saya belajar bahwa hidup berdampingan tidak selalu butuh teori panjang. Kadang cukup dengan tidak mencampuri urusan orang lain, tapi tetap peduli ketika dibutuhkan.

UKSW tidak pernah mengajari saya toleransi lewat mata kuliah khusus. Ia mengajarkannya lewat kebiasaan sehari-hari. Lewat cara orang menyapa. Lewat cara dosen mengelola kelas. Lewat cara kampus mengatur ruang agar semua merasa punya tempat.

Dan justru karena itu, pelajarannya membekas.

Setelah lulus dan melihat dunia yang lebih luas, saya baru sadar bahwa apa yang saya alami di Salatiga tidak selalu mudah ditemukan di tempat lain. Banyak ruang publik yang mengaku inklusif, tapi sibuk menghitung siapa mayoritas dan siapa minoritas. Banyak institusi yang mengaku netral, tapi diam-diam condong.

UKSW, dengan segala keterbatasannya sebagai kampus di kota kecil, justru menunjukkan bahwa toleransi tidak butuh panggung besar. Ia butuh konsistensi.

Pulang dari UKSW Salatiga dengan perspektif yang berubah

Saya datang ke UKSW sebagai mahasiswa muslim yang hanya ingin kuliah, lulus, dan mencari masa depan. Saya pulang membawa perspektif lebih luas tentang hidup bersama orang lain. Tentang bagaimana perbedaan bisa menjadi sesuatu yang biasa, bukan sesuatu yang harus selalu diperdebatkan.

Salatiga dan UKSW mengajarkan bahwa damai bukan berarti tanpa konflik, tapi keadaan di mana konflik tidak dibesar-besarkan. Di mana perbedaan tidak dijadikan alat ukur siapa yang lebih pantas.

Iklan

Kini, setiap kali saya melihat orang ribut soal toleransi, saya sering teringat kampus kecil itu. Kampus Kristen di kota kecil bernama Salatiga yang tidak sibuk mengaku toleran, tapi diam-diam mempraktikkannya setiap hari.

Dan mungkin, di situlah pelajaran terpentingnya.

Bahwa hidup berdampingan tidak selalu perlu slogan besar. Kadang cukup dengan bersikap wajar, adil, dan tidak merasa paling benar. Seperti yang saya alami di UKSW, Salatiga—tempat di mana “Creative Minority” tidak berhenti sebagai jargon, tapi hidup dalam keseharian.

Penulis: Alan Kurniawan
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living dan artikel lainnya di rubrik ESAI.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: Kampus KristenKristenmahasiswa muslimsalatigaUKSWUKSW Salatiga
Alan Kurniawan

Alan Kurniawan

Jebolan lama UKSW Salatiga, yang garis takdirnya membawanya menjadi auditor di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di (masih) Ibu Kota Jakarta. Seorang petrolhead garis keras yang sesekali menumpahkan isi kepalanya ke ruang-ruang sunyi di internet.

Artikel Terkait

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Cerita Kebiasaan Orang Jawa yang Bikin Kaget Calon Pendeta MOJOK.CO
Esai

Cerita Calon Pendeta yang Kaget Diminta Mendoakan Motor Baru: Antara Heran dan Berusaha Memahami Kebiasaan Orang Jawa

21 November 2025
Katolik Susah Jodoh Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami MOJOK.CO
Esai

Cari Pasangan Sesama Katolik itu Susah, Tolong Jangan Login dan Ambil Jatah Kami

13 November 2025
Purwokerto dan Jogja Itu Nyaman Asal Kamu Banyak Uang MOJOK.CO
Esai

Purwokerto Tak Seindah Polesan Media, Sementara Jogja Tak Lagi Istimewa: Kamu Harus Kaya untuk Hidup Nyaman di 2 Kota Itu

14 Februari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Seorang kakak (anak perempuan pertama) kerja keras jadi tulang punggung keluarga gara-gara ortu miskin dan adik tidak tahu diri MOJOK.CO

Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga

11 Maret 2026
Karjimut di Jogja yang merantau pilih tidak mudik Lebaran. MOJOK.CO

“Bohong” ke Keluarga Saat Mudik Lebaran: Rela Habiskan Uang Berjuta-juta agar Dicap Sukses padahal Cuma Karjimut di Jogja

9 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati di Cirebon.,MOJOK.CO

Rasa Sanga (5): Docang, “Makanan Orang Susah” yang Lekat dengan Ajaran Rendah Hati Sunan Gunung Jati

9 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Mendambakan seperti suami Sheila Dara, Vidi Aldiano. Cara hidup dan perginya bikin iri banyak orang MOJOK.CO

Mendambakan Menjadi Seperti Vidi Aldiano, Cara Hidup dan Pergi bikin “Iri” Banyak Orang

9 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.