Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Logika Memenangi Pilkada jika Kamu Bukan Gibran Rakabuming Raka

Riyan Putra Setiyawan oleh Riyan Putra Setiyawan
12 Desember 2020
A A
Logika Memenangi Pilkada jika Kamu Bukan Gibran Rakabuming Raka

Logika Memenangi Pilkada jika Kamu Bukan Gibran Rakabuming Raka

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Beda dengan pilpres. Modal duit besar di pilkada banyak tidak jaminan menang. Nama besar? Hm, belum tentu juga, Sayang.

Banyak yang mengira bahwa banyaknya perolehan suara paslon cagub, cawalkot, dan cabup di daerah berbanding lurus dengan banyaknya gelontoran dana yang dikucurkan. Banyak dana berarti banyak suara, banyak uang berarti semakin besar kemungkinan untuk menang.

Apakah benar demikian? Sayangnya tidak.

Banyak contoh calon kepala daerah di pilkada yang tidak menang walau memiliki kekayaan berlimpah ruah. Kalian bisa googling sendiri untuk mencari tahu siapa saja orangnya. Kalau ndilalah saat ini kalian sedang malas googling, kita ambil saja contoh Drakor Start-up yang baru minggu kemarin tamat.

Meski isi ceritanya tidak ada nyenggol-nyenggolnya blas dengan Pilkada, namun pesannya sama. Uang bukan satu-satunya faktor penentu bagi seseorang untuk memilih. Bila yang dijadikan patokan adalah uang, tentu saat ini Seo Dal Mi sudah memilih Han Ji Pyeong. Faktanya tidak.

Faktanya Seo Dal Mi lebih memilih Nam Do San dan keputusannya membuat #TimHanJiPyeong patah hati. Termasuk saya yang sampai saat ini masih mengutuk penulis naskahnya. Benar-benar gamashoook.

Di pilkada, aturan serupa juga berlaku. Uang memang perlu, tapi bukanlah faktor penentu. Bila uang bukanlah penentu buat menang, lalu apa? Apakah figur calonnya? Tidak juga.

Memang ada calon yang sudah dikenal sejak lama, tapi jumlahnya tidak seberapa. Kebanyakan dari calon kepala daerah itu, kita baru tahu pas hari-hari menjelang pilkada. Gara-gara gambarnya ada di mana-mana, juga karena para calon ini mendadak rajin menyapa dan berkunjung ke daerah kita biar bisa menang.

Mirip-mirip lah sama mahasiswa yang tiba-tiba akrab dengan dosen pembimbing pas skripsi. Tiba-tiba jadi hafal ulang tahun dosen dan memberi surprise pas hari H. Padahal selama empat tahun kuliah, jangankan memberi kejutan, memberi ucapan selamat ulang tahun saja nyaris tidak pernah.

Jangankan memberi ucapan selamat ulang tahun, menyapa sewaktu ketemu di jalan saja tidak pernah. Saya hafal betul kelakuan mahasiswa-mahasiswa ini karena saya adalah salah satunya.

Kira-kira apakah mahasiswa-mahasiswa ini melakukannya dengan tulus? Atau gara-gara mereka pengen cepet lulus? Kalian tentu sudah tahu jawabannya.

Ketika uang dan figur calon tidak bisa diandalkan, ada satu yang bisa. Timses. Sekelompok orang yang tujuannya memenangkan salah satu paslon ini, perannya sangat krusial dalam pilkada.

Secara tidak langsung, mereka adalah cerminan dari calon yang diusung. Ketika timses ini memiliki kepribadian yang baik, ramah dengan tetangga, ringan tangan saat dimintai apa-apa, tanpa menenunjukkan SKCK pun masyarakat bisa menilai bahwa calon yang diusung timses ini juga orang yang baik.

Para pemilih apalagi yang di desa-desa, jarang sekali memandang calon kepala daerah. Toh siapapun yang jadi, nasib mereka tetap begitu-begitu saja.

Iklan

Pemilih bahkan kerap berujar bahwa para pemimpin itu beda tipis dengan Pil KB. Kalau Pil KB lupa (diminum), malah jadi (istri hamil), tapi kalau calon pemimpin begitu jadi (jadi DPR, Bupati, dan seterusnya) malah lupa (dengan pemilihnya).

Pemilih bukan memilih karena mendukung calon, atau menyukai program-programnya. Tapi lebih kepada balas jasa kepada timsesnya. Apalagi ketika timses ini di masyarakat dikenal sebagai ujung tombak dan ujung tombok sehingga banyak orang yang merasa berutang budi.

Setiap kali ada kegiatan di lingkungan, si timses ini hobinya tombak-tombok. Rela mengeluarkan tenaga dan biaya demi kepentingan bersama. Sudah berkorban banyak tanpa meminta apa-apa, lalu saat momen Pilkada tiba timses ini minta dukungan kita untuk mencoblos satu suara.

Apakah kira-kira kita akan menolaknya? Tentu sulit untuk mengatakan tidak. Timses tipe ini hampir bisa dipastikan akan mendulang banyak suara untuk calon yang diusung.

Begitu pula sebaliknya. Saat ada salah satu timses, yang kesehariannya njengkelke ati, tiba-tiba saat pilkada meminta bantuan pada kita untuk memilih calon yang diusungnya, kira-kira bagaimana respons masyarakat?

Dalam bibir bisa saja masyarakat berkata iya, dalam genggamam tangan bisa saja uang dari timses ini diterima, tapi di dalam TPS semuanya masih menjadi rahasia. Di atas kuitansi kampanye pilkada dikira menang, di bilik suara jumlah suaranya ternyata kayang.

Pemilih bilang iya bukan karena mereka mau, melainkan karena dalam kultur kita menolak permintaan orang lain masih dianggap sebagai hal yang tidak sopan. Sekalipun yang meminta bantuan orang yang njengkelke, tetep dianggap tidak sopan.

Timses tipe kedua ini, nyatanya jarang sekali mendulang banyak suara bagi calon yang diusungnya. Bahkan kerap malah tidak memperoleh suara blas. Tapi tentu saja itu baru berlaku kalau kamu bukan timsesnya Gibran Rakabuming Raka.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Jokowi usai Kemenangan Anak dan Mantu atau tulisan Riyan Putra lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Desember 2020 oleh

Tags: gibranpilkadatimses
Riyan Putra Setiyawan

Riyan Putra Setiyawan

Guru SDN 2 Sumengko, Randublatung, Blora

Artikel Terkait

Sipil Harus Saling Jaga: Saat ini, Pemerintah Semakin Kelam MOJOK.CO
Esai

Sipil Harus Saling Jaga: Saat ini, Pemerintah Semakin Kelam dan Kita Hanya Punya Satu Sama Lain

25 Maret 2025
Prabowo-Gibran.MOJOK.CO
Esai

Pak Prabowo, Sebenarnya Apa, sih, yang Sampeyan Inginkan? Cuma Sekadar Pengin Jadi Presiden?

20 Februari 2025
Solo Fighter PDIP vs Keroyokan di Kandang Banteng, Pilkada 2024.MOJOK.CO
Aktual

Solo Fighter vs Keroyokan di Kandang Banteng, Benarkah Jateng Tak “Merah” Lagi? 

29 November 2024
Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Jokowi Menyemai Dinasti Politik di Tingkat Daerah. MOJOK.CO
Ragam

Keluarga Berkuasa: Betapa Ngerinya Warisan Dinasti Politik Jokowi di Tingkat Daerah

26 November 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Luka perempuan pekerja Surabaya, jadi tulang punggung keluarga gara-gara punya kakak laki-laki tak guna MOJOK.CO

Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna

17 Januari 2026
Film Semi Jepang Bantu Mahasiswa Culun Lulus dan Kerja di LN (Unsplash)

Berkat Film Semi Jepang, Mahasiswa Culun nan Pemalas Bisa Lulus Kuliah dan Nggak Jadi Beban Keluarga

14 Januari 2026
Penjual kue putu di Jogja. MOJOK.CO

Kegigihan Gunawan Jualan Kue Putu di Kota-kota Besar selama 51 Tahun agar Keluarga Hidup Sejahtera di Desa

14 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026

Video Terbaru

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.