MOJOK.CO – Kepada orang tua dan siapa pun yang sedang menghadapi titik terendah di awal tahun ini, mari kita saling menguatkan. Tahun 2026 bukan sekadar angka di kalender, melainkan sebuah lembaran baru untuk kita menuliskan doa-doa yang lebih kuat.
Menjadi orang tua adalah tentang belajar melepaskan kendali. Setidaknya itu yang saya pelajari sejak 2014, saat saya memutuskan menikah dengan lelaki pilihan saya.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara asli Betawi, saya terbiasa dengan keramaian. Namun, sunyinya ruang tunggu operasi di rumah sakit perlahan mengubah cara saya memandang dunia.
Penantian saya akan buah hati tidaklah instan. Saya sempat keguguran, lalu tiga bulan kemudian hamil lagi di luar dugaan. Demi menjaga janin ini, saya tinggalkan pekerjaan saya di industri makanan. Saya rela bed rest total sampai tujuh bulan. Semua saya lakukan demi satu nama: Alesha Khansa Azzahwa.
Alesha lahir sempurna sebelum diagnosis membuat dunia runtuh seketika
Alesha lahir dengan sempurna di mata saya pada 10 Januari 2016. Namun, memasuki bulan kedua, ada sesuatu yang mengusik nurani saya sebagai seorang ibu.
Saya sering memperhatikan bayi-bayi lain; di usia sekecil itu, mata mereka biasanya sudah mulai “berbicara” mengikuti gerak benda atau setidaknya terpaku pada wajah ibunya saat disusui.
Tapi Alesha tidak. Matanya seolah menatap ke kejauhan yang tidak bisa saya jangkau. Rasa cemas mulai menghantui, tapi orang-orang di sekitar meyakinkan bahwa itu hanya perasaan saya saja.
Namun, insting ibu tidak bisa dibohongi. Suatu malam, dengan tangan gemetar, saya mengambil sebuah senter kecil. Saya arahkan cahayanya pelan-pelan ke mata Alesha.
Saat itulah, dunia saya seolah runtuh seketika. Di balik bening matanya, ada selaput putih serupa cairan susu yang menggenang di kedua lensa matanya. Bukan hanya sebelah, tapi keduanya. Detik itu juga, saya tahu bahwa hidup kami takkan lagi sama.
Perjalanan medis kami dimulai dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Puncaknya terjadi di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta ketika Alesha dikelilingi oleh sepuluh dokter. Vonis itu jatuh seperti palu hakim: aniridia (tidak memiliki iris mata) dan katarak bawaan akibat virus rubella.
Dunia saya runtuh. Dokter bilang, iris mata bisa dibeli di luar negeri dengan harga fantastis. Kami keluarga sederhana, dari mana uang sebanyak itu?
Tahun 2024 dan 2025 adalah tahun yang mencekam
Saya pingsan setelah menangis sejadi-jadinya di kamar. Tapi hidup harus berlanjut. Saya mulai berdagang kecil-kecilan, sambil meneteskan air kembang teleng setiap malam Jumat sebagai ikhtiar batin.
Bertahun-tahun kami bertahan dengan kacamata, sampai akhirnya pandemi Covid 19 berlalu dan kondisi mata Alesha memburuk. Tekanan bola matanya tinggi. Dia terkena glaukoma.
Tahun 2024 dan 2025 menjadi tahun yang paling mencekam dalam hidup kami. Bayangkan, anak sekecil itu harus melewati rentetan operasi:
- Agustus 2024: Operasi katarak mata kiri.
- Januari 2025: Operasi katarak mata kanan yang penuh drama karena jahitan sulit terserap.
- Agustus 2025: Operasi glaukoma pertama untuk membuat saluran mata.
- Oktober 2025: Operasi keempat yang membuat saya merasa gagal jadi ibu.
Saya ingat momen di operasi keempat itu. Alesha histeris. Dia harus dipasang lensa medis dalam kondisi sadar, sementara tubuh mungilnya dipegangi beberapa dokter. Suara teriakannya menggema di ruangan, menghujam tepat di ulu hati saya.
Banyak orang tua menyimpan lelah yang sama tapi punya binar juang yang menyala
Di sepanjang jalan pulang, saya hanya bisa menciumi tangannya dan meminta maaf, seolah semua rasa sakit itu adalah kesalahan saya. Saya merasa hancur, merasa menjadi ibu yang gagal karena tak mampu menggantikan rasa sakitnya. “Seandainya mataku bisa ku pindahkan padamu, Nak,” bisik saya setiap malam.
Ujian seolah tak berhenti. Tepat sebelum operasi ketiga Alesha, ibunda tercinta saya meninggal dunia. Ibu yang selama ini jadi pendukung utama pergi di saat saya paling butuh kekuatan.
Kini, setiap kali ke rumah sakit, tidak ada lagi doa dari ibu yang menanti di depan pintu. Dunia terasa hampa, tapi melihat Alesha yang tetap bertahan, saya dipaksa untuk kembali tegak sendirian.
Di lorong-lorong rumah sakit yang dingin, saya menyadari bahwa saya tidak sendirian. Saya melihat banyak orang tua lain yang wajahnya menyimpan lelah yang sama, tetapi matanya memancarkan binar juang yang tak pernah padam.
Ada ayah yang rela tidur di bangku kayu demi biaya operasi anaknya, dan ibu yang tetap tersenyum meski hatinya sedang remuk. Pemandangan itu menyadarkan saya, bahwa ujian ini adalah cara Tuhan menaikkan kelas kesabaran hamba-Nya.
Doa yang tak lagi ambisius di tahun 2026
Desember 2025 ini, saat orang lain bersiap merayakan tahun baru, kami kembali berhadapan dengan jarum suntik. Operasi kelima sudah di depan mata.
Dulu, doa saya ambisius: “Ya Allah, sembuhkanlah total mata anakku.”
Sekarang, doa saya lebih pasrah: “Ya Allah, berikan kesabaran dan keikhlasan di hatiku dan hati anakku, lebih dari biasanya.”
Memasuki tahun 2026 ini, kita semua mungkin membawa beban yang berbeda-beda. Krisis ekonomi, masalah keluarga, atau kondisi kesehatan yang tak kunjung membaik seringkali membuat kita ingin menyerah.
Namun, persoalan berat bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Anak-anak spesial seperti Alesha mengajarkan kita bahwa harapan itu harus dijemput, bukan sekadar ditunggu. Mereka tidak mengeluh dengan keterbatasannya, maka kenapa kita yang dewasa harus terus menggerutu?
Kita mungkin lelah, tapi kita tidak boleh kalah. Genggam lah tangan orang-orang tersayang mu, bisikkan doa di setiap langkah, karena kekuatan cinta seringkali bekerja melampaui logika medis maupun hitungan manusia.
Alesha adalah guru kehidupan untuk orang tua
Ekonomi kami kembang kempis, mental kami diuji sampai batas terakhir. Tapi Alesha adalah guru kehidupan bagi saya. Dari dia, saya belajar bahwa berdiri di kaki sendiri saat tak ada penopang adalah sebuah kekuatan.
Januari 2026 nanti, kami akan mengulang kisah yang sama di ruang operasi. Entah apa yang Tuhan siapkan di ujung sana. Saya hanya percaya satu hal: Tuhan tidak memberikan beban di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Walaupun keluhan saya sering kali lebih banyak daripada rasa syukur, saya tetap bertahan. Karena bagi saya dan Alesha, setiap pagi yang datang dengan sedikit cahaya di matanya adalah sebuah keajaiban yang harus diperjuangkan.
Penulis: Siti Rohilah
Editor: Agung Purwandono
BACA JUGA Ketika Dosen UGM Mengajar di Cina saat Natal dan Tahun Baru: Libur Bukan Hadiah, tetapi Utang yang Harus Dibayar Lunas dan artikel lainnya di rubrik ESAI.













