Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Khotbah

Puncak Keimanan Adalah Keindahan bukan Cuma soal Kebenaran

Ekspresi keimanan seseorang kalau hanya berkutat pada hasrat untuk menyebarkan kebenaran akan cenderung keras dan kaku seperti kanebo.

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
21 Januari 2022
A A
Puncak Keimanan Adalah Keindahan bukan Cuma soal Kebenaran

Ilustrasi Puncak Keimanan Adalah Keindahan bukan Cuma soal Kebenaran (mojok.co/ega fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Menularkan keimanan atau mendakwahkan agama punya dua cara. Memakai narasi kebenaran atau dengan cara menunjukkan keindahan.

“Akhirnya, Gus. Orang yang merusak sesajen dan viral kemarin ketangkep polisi. Katanya mau diproses hukum, mau dipenjara kayaknya,” kata Fanshuri ke Gus Mut.

“Waduh, kok akhirnya ditangkap ya?” kata Gus Mut terkejut.

“Kok ‘waduh’, Gus? Bukannya harusnya Gus Mut seneng ya?” kata Fanshuri.

“Kenapa harus seneng?” Gus Mut bertanya.

“Ya kan orang ini sudah berlaku semena-mena terhadap keyakinan orang lain. Dan berisiko memancing kerusuhan besar. Apa artinya ini Gus Mut malah mendukung keimanan orang ini ya?” kata Fanshuri.

Gus Mut terkekeh.

“Iya saya mendukung keimanan orang itu,” kata Gus Mut.

“Allah ya karim, serius, Gus? Gus Mut mendukung ekspresi keimanan model begini? Yang melecehkan keyakinan orang lain begini?” Fanshuri terkejut.

“Wah, kalau soal itu aku tidak mendukung,” kata Gus Mut.

Fanshuri bingung.

“Gus Mut ini gimana sih, kok jadi mencla-mencle?”

Gus Mut kembali terkekeh.

“Tolong dibedakan, Fan,” kata Gus Mut.

Iklan

“Dibedakan gimana maksudnya, Gus?”

“Dibedakan antara keimanan dengan ekspresi keimanan. Kalau soal keimanan personal saya mendukung bagaimana orang ini berhati-hati soal potensi kemusyrikan, tapi soal ekspresi keimanan saya tidak setuju dengan caranya,” kata Gus Mut.

Fanshuri baru paham. “Oalah, begitu.”

“Lah kalau begitu, harusnya Gus Mut setuju dong kalau orang kayak gini harus dihukum dan dipenjara?” tanya Fanshuri.

“Kalau setuju dihukum iya, tapi kalau dipenjara tidak, Fan,” kata Gus Mut.

“Ah, Gus Mut ini mbulet lagi deh. Kan sama aja maksudnya itu, Gus,” kata Fanshuri sambil nguyel-nguyel kepalanya sendiri.

“Dihukum itu kan tidak harus dipenjara, Fan. Ada banyak cara dan penjara itu hanya satu di antara banyak pilihan. Kamu waktu kecil ketahuan curi mangga misalnya, apa iya kamu langsung dihukum potong tangan? Kan nggak? Bisa aja kamu dihukum dengan cara disuruh membersihkan halaman rumah yang punya pohon misalnya,” kata Gus Mut.

“Ya jangan bandingin curi manga sama melecehkan keyakinan orang lain dong, Gus,” kata Fanshuri.

“Maksudku begini, Fan. Tindakan orang ini tidak hanya soal urusannya dengan keyakinan atau tradisi dari orang yang kasih sesajen di tempat itu, tapi juga perasaan banyak orang. Tawaran hukuman penjara itu tidak menyelesaikan masalah, tapi justru menimbulkan masalah baru,” kata Gus Mut.

“Masalah baru gimana?” kata Fanshuri.

“Ya si orang ini bukannya sadar dia sedang melakukan kesalahan, tapi justru merasa tambah yakin bahwa ekspresi keimanan yang dilakukannya itu benar,” kata Gus Mut.

“Memang tawaran Gus Mut soal hukuman bagi orang begini apa?” tanya Fanshuri.

Gus Mut tersenyum.

“Ya aku pikir orang itu cukup dipertemukan dengan orang kasih sesajen. Disuruh bergaul dengan masyarakat seperti itu saja. Itu cukup kok,” kata Gus Mut.

“Ya nggak mungkin maulah dia, Gus. Orang dia menganggap itu tindakan musyrik kok,” kata Fanshuri.

“Ya konsep hukuman kan memang begitu, Fan. Selalu ada paksaan. Kalau sukarela mah bukan hukuman namanya, tapi donasi. Lagian, memang orang itu juga mau kalau disuruh masuk penjara? Kan ya sama-sama nggak mau sebenarnya,” kata Gus Mut.

“Oke deh, kita berandai-andai misalnya hukumannya adalah mempertemukan kedua belah pihak ini. Memang apa yang bisa didapat?” kata Fanshuri.

“Ya kedamaian,” kata Gus Mut.

“Kok kedamaian?” tanya Fanshuri.

“Iya, orang ini jadi mengenal seseorang yang punya pendekatan berbeda soal cara berdialog dengan Tuhan. Kadang-kadang orang jadi fanatik cuma pada satu cara ekspresi keimanan itu karena yang dia lawan tidak dia kenal sepenuhnya, tidak dia kenal secara dekat, secara personal,” kata Gus Mut.

“Ya kan terhadap yang kita lawan itu memang sebaiknya tidak kita kenal secara personal dong, Gus,” kata Fanshuri.

“Memang kenapa begitu, Fan?” tanya Gus Mut.

“Soalnya kalau kita kenal dekat secara personal sama pihak yang kita lawan, kita jadi segan, kita jadi berhati-hati, takut menyinggung perasaannya dan lain sebagainya. Nggak jadi musuhan dong akhirnya,” kata Fanshuri.

Gus Mut tersenyum.

“Nah, tepat di situlah ekspresi keimanan yang benar. Kamu menasihati orang dengan cara persis seperti itu karena ujung-ujungnya untuk berdamai, bukan untuk menang-menangan, apalagi dalam ekspresi permusuhan atau perlawan. Kamu masih memakai perasaan segan, ada kehati-hatian, dan ada upaya jangan sampai menyinggung perasaan orang itu karena kamu kenal,” kata Gus Mut.

Fanshuri terkejut.

“Ekspresi keimanan yang begitu itulah yang dilakukan Nabi Muhammad ketika menyebarkan agama Islam pertama kali. Nabi berhati-hati dan memakai cara-cara yang baik karena yang dia dakwahi adalah keluarga-keluarganya, sahabat-sahabatnya, bukan orang-orang yang nun jauh di sana,” kata Gus Mut.

“Artinya?” tanya Fanshuri.

“Artinya ya mulailah dengan orang terdekatmu dulu kalau mau meluruskan sesuatu yang kamu anggap salah. Kalau dengan orang dekatmu saja kamu merasa tidak berhasil, ya berarti ada dua kemungkinan. Pertama, caramu meluruskan memang selama ini salah. Atau kedua, keyakinanmu sendiri memang ada yang salah,” kata Gus Mut.

Fanshuri tertawa mendengar penjelasan Gus Mut.

“Lho aku serius lho. Coba deh lihat beda Islam menyebar di Andalusia dengan Islam menyebar di Nusantara,” kata Gus Mut.

“Apa bedanya memang, Gus?” tanya Fanshuri.

“Di Andalusia, Islam datang melalui peperangan dahsyat. Oke, Islam memang masuk ke Eropa, tapi nafasnya tidak panjang. Peninggalannya memang banyak, tapi penganutnya beralih balik lagi ke agama lamanya begitu Kerajaan Islam di Andalusia runtuh. Ya karena pendekatannya lewat jalur kekerasan. Di Nusantara sebaliknya, Islam datang lewat perdagangan, lewat pernikahan, lewat kebudayaan. Pada akhirnya nafasnya jadi panjang dan kebanyakan orang nggak mau juga balik ke agama lamanya. Bahkan sampai Nusantara akhirnya beralih nama jadi Indonesia tetap begitu saja. Awet sampai sekarang,” kata Gus Mut.

Fanshuri manggut-manggut.

“Puncak dari keimanan itu bukan hanya soal kebenaran, Fan,” kata Gus Mut.

“Lho bukannya keimanan itu adalah soal yang haq dan bathil ya, Gus?” tanya Fanshuri.

“Iya, tapi bukan di situ puncaknya. Secara hakikat keimanan itu adalah soal keindahan. Hal-hal yang haq itu selalu mewakili keindahan dan yang bathil itu selalu mewakili keburukan. Kamu salat secara khusyuk misalnya, itu lebih ke urusan keindahan. Salatmu bisa saja sah secara fikih, tapi tidak indah karena pikiranmu ke mana-mana. Atau ketika sedekah dengan ikhlas, itu juga mewakili unsur keindahan karena ada unsur ikhlasnya.”

Fanshuri termenung sejenak.

“Berarti, meskipun kita merasa keimanan kita sudah yang paling benar, kalau ekspresi kita tidak mewakili keindahan, bisa jadi cara kita yang keliru, Gus?” tanya Fanshuri.

Gus Mut tersenyum.

“Tentu saja. Soalnya menularkan keimanan itu sifatnya menyentuh apa yang ada di dalam hati, bukan apa yang ada di dalam kepala. Dan cara paling baik untuk menyentuh hati, tentu bukan hanya sekadar menunjukkan kebenaran, tapi juga menunjukkan keindahan.”

Gantian Fanshuri yang kini tersenyum. Tersenyum dengan ekspresi keindahan.

BACA JUGA Kalimat Tauhid Burung Beo dan Iman yang Tersembunyi atau kisah-kisah Gus Mut lainnya. 

Penulis: Ahmad Khadafi

Editor: Ahmad Khadafi

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2022 oleh

Tags: AgamaAndalusiaIslamKeimanannabi muhammadNusantara
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual MOJOK.CO
Tajuk

Penyebab Tokoh Agama dan Kaum Intelektual Melakukan Pelecehan Seksual

20 April 2026
Habis Doa Langsung Goyang- Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri MOJOK.CO
Esai

Habis Doa Langsung Goyang: Cara Orang Indonesia Menjalani Agama yang Bikin Orang Pakistan Iri

17 April 2026
Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium MOJOK.CO
Esai

Puasa Ramadan dalam Bayang-bayang Kapitalisme Religius: Katanya Melatih Kesederhanaan, Nyatanya Sarung Saja Dibungkus Narasi Hijrah Premium

16 Februari 2026
AI, ChatGPT, Kecerdasan Buatan Bisa Nggak Cerdas Lagi kalau Gantikan PNS dan Hadapi Birokrasi Fotokopi MOJOK.CO
Ragam

ChatGPT Bukan Ustaz: Bolehkah Bertanya Soal Hukum Agama kepada AI?

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, honorer.MOJOK.CO

Guru, Profesi yang Dihormati di Desa tapi Hidupnya Sengsara di Kota: Dimuliakan Seperti Nabi, Digaji Lebih Kecil dari Kuli

23 April 2026
Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja- Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan MOJOK.CO

Jogja Financial Festival 2026 Segera Hadir di Jogja: Beri Literasi Keuangan dengan Cara Menyenangkan

25 April 2026
Sebagian pengguna WiFi IndiHome beralih ke Biznet. MOJOK.CO

Ujian Terberat Pengguna IndiHome yang Dikhianati Tawaran Palsu hingga Menggadaikan Kesetiaan ke WiFi yang Lebih “Gacor”

23 April 2026
Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare? MOJOK.CO

Setelah Little Aresha, Mengapa Orang Tua Tetap Harus Percaya pada Daycare?

29 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.