Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Menjadi Warga Negara Biasa Saja

Puthut EA oleh Puthut EA
14 November 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kebanyakan dari kita adalah warga negara yang baik. Terlalu baik bahkan. Saya akan tunjukkan kebaikan kita sebagai warga negara.

Kita keluar dari rumah, masuk ke jalan raya dengan tertib. Ada lampu merah kita berhenti. Lampu berwarna hijau, kita jalan lagi. Coba kalau pas lampu menyala berwarna hijau kita iseng saja tetap berhenti sambil membaca koran? Kekacauan kecil terjadi. Itu baru satu orang, coba kalau sepuluh, seratus, atau seribu orang dalam satu kota melakukan hal itu.

Kita juga parkir dengan baik. Membayar parkir. Ketika berbelanja, kita membayar pajak dengan tertib. Tidak mempertanyakannya. Coba kalau pas kita berbelanja, kita ngeyel mempertanyakan kenapa pajak mi instan segitu dan cukai rokok tinggi sekali? Tapi tidak kan? Kita tetap membeli dengan tenang. Membayar dengan baik.

Saat kita ngopi, kita juga membayar pajak makan dan minum tanpa bertele-tele. Kalem. Bahkan kita tak pernah mempertanyakan kalau mesti membayar biaya ‘servis’. Betapa baiknya kita.

Pajak kendaraan pun kita bayar dengan tepat waktu. Kalau molor pun pasti kita bayar plus dendanya yang tinggi banget itu. Pernahkah kita memprotesnya? Tidak. Pajak bumi dan bangunan pun sama saja. Kita semua membayarnya dengan manis. Hanya caranya saja yang beda-beda. Ada yang gak mau ribet maka minta tolong satpam perumahan, ada yang nitip ke keponakan, ada yang nitip ke tetangga kiri-kanan.

Itu baru pajak dan aturan di jalan raya. Tertib. Baik. Kita lakukan dengan tanpa protes dan mempertanyakan dengan kritis. Kita semua warga negara yang baik. Baik sekali bahkan. Telat sedikit wajar. Tapi kalau telat kan tetap ada dendanya.

Kita semua disuruh repot ganti KTP elektronik pun kita lakukan dengan patuh. Walaupun ribetnya ngaudubilah. Diminta ganti SIM 5 tahun sekali juga oke-oke saja.

Bahkan sebagai warga negara kita sering aktif dalam agenda kenegaraan. Misalnya soal keamanan kampung. Ronda kampung itu biasa. Ikut menjaga ketertiban kampung. Bayar iuran kampung. Kalau ada peringatan hari kemerdekaan, kita lebih aktif lagi. Bukan hanya siap capek menjadi panitia, tapi siap keluar uang banyak untuk berpartisipasi agar semua warga makin bergembira.

Jadi sebetulnya kurang apa kita sebagai warga negara? Kita warga negara yang baik, patuh, dan sering kali proaktif.

Maka kalau ada sesekali agenda kenegaraan kita absen, atau tidak suka, ya wajar. Biasa saja. Kita bukan warga negara yang paripurna. Sebab kalau mau paripurna, kita bakal capek. Kita bisa mengawal semua agenda pembahasan aturan yang melibatkan kita. Kita akan protes semua persoalan lingkungan karena merugikan kehidupan kita. Tapi kita ini pemilih isu yang cermat. Kita pilih yang dekat. Hotel sudah terlalu banyak ya jangan membangun lagi lah… Banjir sudah terlalu sering, ayo dong ditangani wahai pemerintah. Dll. Dll.

Bahkan wakil rakyat pun tidak kita tuntut neko-neko. Ada yang tidur ya tidak kita protes. Ada yang korup ya kita terima dengan lapang dada. Ada yang pasif ya kita maklumi. Lha mau bagaimana lagi…

Maka ketika ada satu agenda saja, kita ditolol-tololkan, digoblok-goblokkan, dikatakan sebagai warga negara yang tidak baik, kita berhak marah. Maka itu, wahai para politikus, jika sebagian dari kami tidak menggunakan hak pilih kami saat pileg dan pilpres, jangan ganggu kami. Biarkan kami menjadi warga negara biasa. Sudah terlalu banyak yang kami lakukan dan kerjakan buat negeri ini.

Kalau kalian masih juga menyalahkan kami, ijinkan kami berkata: Kontol kau!

Terakhir diperbarui pada 14 November 2018 oleh

Tags: golputpemilupolitikwarganegara
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP
Video

Kotak Pandora Politik Terbuka: Gus Romy Ungkap Krisis di PPP

20 Mei 2025
Dwifungsi ABRI dan Ambisi Kuasa di Luar Barak
Video

Dwifungsi ABRI dan Ambisi Kuasa di Luar Barak

10 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
franz kafka, pekerja urban, serangga.MOJOK.CO

Kita Semua Cuma Kecoa di Dalam KRL Ibu Kota, yang Bekerja Keras Hingga Lupa dengan Diri Kita Sebenarnya

15 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Sewakan kos bebas ke teman sesama mahasiswa Malang yang ingin enak-enak tapi tak punya modal MOJOK.CO

Mahasiswa Malang Sewakan Kos ke Teman buat Mesum Tanpa Modal, Dibayar Sebungkus Rokok dan Jaga Citra Alim

14 Januari 2026
Ilustrasi naik bus, bus sumber alam.MOJOK.CO

Sumber Alam, Bus Sederhana Andalan “Orang Biasa” di Jalur Selatan yang Tak Mengejar Kecepatan, melainkan Kenangan

13 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.