Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai Kepala Suku

Dunia Telah Merampas Banyak Sekali Kegembiraan Saya

Puthut EA oleh Puthut EA
13 November 2018
A A
kepala suku
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Dunia telah merampas banyak hal yang saya sukai. Dan saya ingin mengembalikannya lagi. 

Dulu, sekalipun sudah berusaha menahan diri, saya hampir selalu ikut-ikutan berkomentar tentang banyak hal. Baik permasalahan itu saya pahami, agak saya pahami, maupun sedikit saya pahami.

Saya sering ikut tandatangan petisi onlen. Menyebarkan dan mengampanyekan berbagai isu. Tapi kemudian saya saksikan sendiri, mendadak saya sibuk sekali. Setidaknya pikiran saya. Harus ada banyak isu yang harus saya pantau.

Kalau ada teman yang menyebarkan isu tentang sesuatu yang seksi dari sisi kemanusiaan, saya minimal ikut menyebarkannya. Atau paling tidak mengacungi jempol. Rasanya tidak enak saja jika tak melakukannya.

Tentu apa yang saya lakukan tidak salah. Saya tidak merasa bersalah. Tidak ada yang memaksa saya. Saya pribadi yang otonom.

Saya cuma merasa bahwa emosi saya mudah teraduk, pikiran saya terlalu banyak mengikuti berbagai isu. Itu membuat saya lelah. Saya kira, apa yang saya lakukan tidak terlalu tepat untuk orang seperti saya. Orang yang punya tanggungan keluarga, ada beberapa lembaga yang harus saya pikirkan, dan ada tanggungan kreatif yang harus saya ekspresikan. Lalu apa yang saya lakukan?

Pertama, saya banyak menggunakan fasilitas blokir pada medsos yang saya miliki. Akun-akun medsos itu punya saya. Saya berhak berinteraksi secara sehat dengan orang lain. Jika ada orang-orang tertentu yang mengganggu saya dan saya balas, saya menghabiskan waktu dan energi. Tidak membuat saya bertambah pintar, tidak membuat saya bertambah makmur, dan tidak juga membuat saya tambah bahagia. Jadi mulailah saya sering pergunakan fasilitas unfriend, unfollow, dan blokir. Dengan begitu, ekosistem medsos saya ada dalam kontrol saya sepenuhnya.

Kedua, saya memperjarang bermedsos. Sesekali saja. Dan tidak menggunakan fasilitas gulir untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan orang lain. Lalu aktivitas itu saya pakai untuk membaca lebih banyak artikel dan nonton Youtube.

Ketiga, tidak semua isu saya ikuti. Tidak mungkin saya mengikuti banyak isu. Tapi dulu, saya berusaha mengikuti banyak isu. Utamanya isu-isu politik. Kini saya batasi. Caranya, jika ada satu isu memanas, saya langsung bilang: Halah, bentar lagi juga reda. Rugi kalau saya ikuti.

Lebih baik saya menonton Youtube. Mulai dari nonton akun-akun para pemancing, akun tentang otomotif, lagu-lagu lama, pengajian Gus Baha’, sampai permainan catur. Kalau sudah masuk ke tema itu, biasanya saya malas masuk ke akun medsos. Kalau malas masuk ke akun medsos, ada banyak isu yang tidak saya ikuti. Itu artinya baik buat saya.

Keempat, memperbanyak ngopi. Saya punya beberapa lembaga. Lembaga-lembaga itu ada anggotanya. Dulu, saya berhubungan dengan mereka lewat Whatsapp. Sungguh itu efektif. Tapi saya kemudian mengubahnya dengan mempersering tatap muka.

Dengan tatap muka, kami akan banyak melakukan curah gagasan dan bercanda. Apalagi sambil ngopi dan merokok, sungguh asyik sekali. Keasyikan seperti itu membuat kami juga jarang mengecek hape. Sesekali saja. Itu pun jika ada yang penting.

Empat hal sepele itu ketika saya lakukan, lambat laun membuat efek positif di diri saya. Saya jadi tidak begitu peduli dengan banyak hal. Saya hanya peduli dengan sesuatu yang saya anggap penting. Jika ada isu yang saya tidak tahu, saya juga tidak malu. Malah saya agak senang. Syukurlah, saya tidak tahu sehingga tak perlu mikir.

Dunia telah merampas banyak hal yang saya sukai di dunia ini. Dan saya ingin mengembalikannya lagi. Pertemuan antarmanusia yang penuh canda, tanpa harus bergunjing dan ngomongin politik yang sebetulnya sesuatu itu hal yang jauh dalam kehidupan kami.

Iklan

Kalau saya menggunjing soal Sandiaga Uno misalnya, apa untungnya buat saya? Saya ini anggota parpol bukan, timses bukan, politikus bukan, jadi apa yang membuat saya harus ngomongin dia? Bukankah lebih baik saya tertawa bersama teman-teman? Pikiran segar. Tak tegang.

Ada puluhan ribu persoalan sosial di luar sana. Semua itu akan terus terjadi kalau saya ikuti maupun tidak saya ikuti. Saya pilih saja yang kira-kira saya bisa punya kontribusi untuk menyelesaikannya. Atau keterlibatan saya tak menguras energi saya. Karena energi saya bukan milik saya sendiri. Ada keluarga, kawan, tetangga, rekan kerja, yang berhak atas energi saya. Bukan orang-orang nun jauh di sana.

Saya ingin tetap politis, tapi saya tetap ingin realistis. Jika dunia ini kejam, itu bukan salah saya. Dan saya tak perlu menyalahkan diri sendiri jika tidak terlibat mengatasinya.

Dunia telah menyita jatah gembira saya. Saya pun makin tua. Saya ingin lebih banyak tertawa dan bahagia. Tanpa harus menertawakan nasib dan penderitaan orang.

Saya bukan bersikap masa bodoh, saya hanya bersikap bodo amat. Apa bedanya? Saya tak tahu. Saya tak mau tahu.

Mari kita ngopi!

Terakhir diperbarui pada 13 November 2018 oleh

Tags: BlokirmedsosotomotifpolitikSandiaga UnounfollowunfriendYoutube
Puthut EA

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Artikel Terkait

Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti
Video

Gugun El Guyanie : Awalnya Soal Skripsi, Berakhir Membongkar Dinasti

28 Oktober 2025
Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai
Video

Republik dan Bayang Penjajahan yang Tak Usai

25 Oktober 2025
Nopek Novian: Godfather Konten Kampung yang Panen Dolar
Video

Kisah Komika Nopek Novian Jadi Godfather Konten Kampung di Madiun

17 Juni 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Salah jurusan, kuliah PTN.MOJOK.CO

Putus Kuliah dari PTS Elite demi Masuk “Jurusan Buangan” di PTN: Menang di Gengsi, tapi Lulus Jadi “Gelandangan” Dunia Kerja

5 April 2026
Kelas menengah ke bawah harus mawas diri Kalau pemasukan pas-pasan jangan maksa gaya hidup dalam standar dan tren media sosial MOJOK.CO

Kelas Menengah ke Bawah Harus Mawas Diri, Pemasukan Pas-pasan Gaya Hidup Jangan Pakai Standar dan Tren Media Sosial

6 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Gen Z mana bisa slow living, harus side hustle

Slow Living Cuma Mitos, Gen Z dengan Gaji “Imut” Terpaksa Harus Hustle Hingga 59 Tahun demi Bertahan Hidup

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.